Selasa, 25 September 2018

PEMBESARAN IKAN BAWAL AIR TAWAR



       

1.  PENDAHULUAN

Bagi sebagian masyarakat, terutama yang tinggal di daerah pantai, ikan bawal bukanlah barang aneh. Ikan yang ditangkap di laut ini banyak dijual di pasar maupun swalayan. Ikan bawal mempunyai daging yang rasanya enak dan kandungan gizinya tergolong tinggi. Tak   heran bila ikan bawal sangat digemari masyarakat. Namun, karena harganya cukup mahal, tidak semua lapisan masyarakat mampu membelinya, terlebih bagi orang yang berpenghasilan pas-pasan.
 Akhir-akhir ini muncul ikan jenis baru yang namanya sama, tetapi lingkungan hidupnya berbeda. Bawal jenis baru ini hidup di air  tawar,  bukan  di laut.  Karena  bentuk  tubuhnya  mirip  dengan  bawal laut dan hidupnya di air tawar, maka masyarakat menyebutnya bawal air tawar. Di kalangan petani ikan, ikan ini cukup disebut bawal. Rasa daging dan kandungan gizinya tidak kalah dengan bawal laut.  Akan tetapi,  harganya  tidak  mahal  dan  bisa  dijangkau  oleh berbagai lapisan masyarakat sehingga wajar saja bila ikan ini pun banyak dicari orang.

 Dari Ikan Hias Menjadi Ikan Konsumsi
Ikan bawal air tawar di Indonesia mempunyai sejarah sedikit berbeda dengan jenis ikan lainnya. Sebagian besar ikan yang ada di Indonesia, hiasanya kalau  tidak dijadikan sebagai ikan konsumsi, Ikan tersebut dijadikan ikan hias. Namun, ikan bawal air tawar justru bisa berfungsi kedua-duanya. Pada saat benih, bawal air tawar dijadikan ikan hias, sedangkan ikan yang sudah besar dijadikan ikan konsumsi. Sampai sekarang selain diperjualkan sebagai ikan hias, bawal juga diperdagangkan sebagai ikan konsumsi.
Bawal air tawar menjadi ikan hias boleh dibilang wajar karena bentuk tubuhnya cukup unik, pipih seperti ikan discus. Selain itu, warnanya menarik, gerakannya mempesona, dan mempunyai sifat bergerombol bila dipelihara dalam jumlah banyak. Oleh karenanya, ikan ini, terutama yang masih kecil, sering dipelihara dalam akuarium yang dipajang di dalam rumah.
Menjadi ikan konsumsi, bawal pun juga boleh dibilang wajar karena pertumbuhannya cepat dan dapat mencapai ukuran besar (500 gram). Dari hasil uji coba di Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi dan pengalaman beberapa orang petani di Bogor dan Sukabumi, bawal yang berumur 6 minggu sudah bisa mencapai berat 3 gram, umur 12 minggu bisa mencapai 25 gram, umur 6 bulan sudah mencapai ukuran konsumsi, yaitu 500 gram. Di habitatnya, ikan bawal dapat mencapai berat 30 kg.
Ikan Negeri Samba
Dilihat asal usulnya, bawal bukanlah ikan asli Indonesia, tetapi  berasal dari negeri Samba, Brazil. Ikan ini dibawa ke Indonesia oleh para importir ikan hias dari Singapura dan Brazil pada tahun 1980. Selain ke Indonesia, ikan bawal pun sudah tersebar hampir ke seluruh penjuru dunia. Di setiap negara, ikan ini mempunyai nama yang berlainan. Di Indonesia ikan ini disebut bawal karena mirip dengan bawal laut; di Amerika dan Inggris disebut red bally pacu karena bagian perutnya berwarna kemerahan; di Peru disebut gamitama; dan di Venezuela disebut cachama. Di negara asalnya, ikan ini disebut tambaqui. Adapun nama ilmiahnya adalah Colossoma macropomum.
Meskipun kedudukan ikan bawal belum bisa disejajarkan dengan ikan-ikan konsumsi lainnya, tetapi kehadirannya memiliki arti tersendiri, terutama dalam memperkaya khasanah ikan budidaya di Indonesia. Bila telah populer, tidak menutup kemungkinan ikan bawal dapat mengalahkan kedudukan ikan-ikan lainnya.
              
Usaha pembesaran dilakukan dengan maksud untuk memperoleh ikan ukuran konsumsi atau ukuran yang disenangi oleh konsumen. Pembesaran ikan bawal dapat dilakukan di kolam tanah maupun kolam permanen, baik secara monokultur maupun polikultur. Bawal air tawar saat ini banyak diminati sebagai ikan konsumsi dan cocok untuk dibudidayakan di Kabupaten Magelang. Ikan Bawal mempunyai beberapa keistimewaan antara lain :

-       Pertumbuhannya cukup cepat
-       Nafsu makan tinggi serta termasuk pemakan segalanya (OMNIVORA) yang condong lebih banyak makan dedaunan
-       Ketahanan yang tinggi terhadap kondisi limnologis yang kurang baik
-       Disamping itu rasa dagingnya pun cukup enak, hampir menyerupai daging ikan Gurami


2.  PERSIAPAN KOLAM

Kolam untuk pemeliharaan ikan bawal dipersiapkan seperti halnya ikan air tawar lainnya. Persiapan kolam ini dimaksudkan untuk menumbuhkan makanan alami dalam jumlah yang cukup.
1.  Mula-mula kolam dikeringkan sehingga tanah dasarnya benar-benar kering.
Tujuan pengeringan tanah dasar antara lain
a.  Membasmi ikan-ikan liar yang bersifat predator atau kompetitor (penyaing makanan).
b.  Mengurangi senyawa-senyawa asam sulfida (H2S) dan senyawa beracun lainnya yang terbentuk selama kolam terendam.
c.   Memungkinkan terjadinya pertukaran udara (aerasi) dipelataran kolam, dalam proses ini gas-gas oksigen (02) mengisi celah-celah dan pori-pori tanah.
2.  Sambil menunggu tanah dasar kolam kering, pematang kolam diperbaiki dan diperkuat untuk menutup kebocoran-kebocoran yang ada.
3.  Setelah dasar kolam benar-benar kering dasar kolam perlu dikapur dengan kapur tohor maupun dolomit dengan dosis 25 kg per 100 meter persegi. Hal ini untuk meningkatkan pH tanah, juga dapat untuk membunuh hama maupun patogen yang masih tahan terhadap proses pengeringan.
4.  Kolam pembesaran tidak mutlak harus dipupuk. Ini dikarenakan makanan ikan bawal sebagian besar diperoleh dari makanan tambahan atau buatan. Tapi bila dipupuk dapat menggunakan pupuk kandang 25 - 50 kg/100 m2 dan TSP 3 kg/100 m2. Pupuk kandang yang digunakan harus benar-benar yang sudah matang, agar tidak menjadi racun bagi ikan.
5.  Setelah pekerjaan pemupukan selesai, kolam diisi air setinggi 2-3 cm dan dibiarkan selama 2-3 hari, kemudian air kolam ditambah sedidit demi sedikit sampai kedalaman awal 40-60 cm dan terus diatur sampai ketinggian 80-120 cm tergantung kepadatan ikan. Jika warna air sudah hijau terang, baru benih ikan ditebar (biasanya 7~10 hari setelah pemupukan).

3.  PEMILIHAN DAN PENEBARAN BENIH.

1.  Pemilihan benih.
a.  Pemilihan benih mutlak penting, karena hanya dengan benih yang baik ikan akan hidup dan tumbuh dengan baik.
b.  Adapun ciri-ciri benih yang baik antara lain Sehat, Anggota tubuh lengkap, Aktif bergerak, Ukuran seragam, tidak cacat, Tidak membawa penyakit, jenis unggul.
2.  Penebaran benih
Sebelum benih ditebar perlu diadaptasikan, dengan tujuan agar benih ikan tidak dalam kondisi stress saat berada dalam kolam. Cara adaptasi : ikan yang masih terbungkus dalam plastik yang masih tertutup rapat dimasukan kedalam kolam, biarkan sampai dinding plastik mengembun. Ini tandanya air kolam dan air dalam plastik sudah sama suhunya, setelah itu dibuka plastiknya dan air dalam kolam masukkan sedikit demi sedikit kedalam
plastik tempat benih sampai benih terlihat dalam kondisi baik. Selanjutnya benih ditebar/dilepaskan dalam kolam secara perlahan-lahan.

4.  KUALITAS PAKAN DAN CARA PEMBERIAN

Kualitas dan kuantitas pakan sangat penting dalam budidaya ikan, karena hanya dengan pakan yang baik ikan dapat tumbuh dan berkembang sesuai dergan yang kita inginkan. Kualitas pakan yang baik adalah pakan yanq mempunyai gizi yang seimbang baik protein, karbohidrat maupun lemak serta vitamin dan mineral. Karena ikan bawal bersifat omnivora maka makanan yang diberikan bisa berupa daun-daunan maupun berupa pelet. Pakan diberikan 3-5 % berat badan (perkiraan jumlah total berat ikan yang dipelihara). Pemberian pakan dapat ditebar secara langsung.


5.  PEMUNGUTAN HASIL

Pemungutan hasil usaha pembesaran dapat dilakukan setelah ikan bawal dipelihara 4-6 bulan, waktu tersebut ikan bawal telah mencapai ukuran kurang lebih 500 gram/ekor, dengan kepadatan 4 ekor/m2. Biasanya alat yang digunakan berupa waring bemata lebar. Ikan bawal hasil pemanenan sebaiknya penampungannya dilakukan ditempat yang luas (tidak sempit) dan keadaan airnya selalu mengalir.

Diposkan oleh Hari Sampurno 

Selasa, 04 September 2018

Menghasilkan Udang Windu Berkualitas



Udang windu (penaeus monodon) merupakan salah satu hasil perikanan yang masih memiliki nilai jual tinggi.
Wajar jika masyarakat petani tambak tetap antusias melakukan usaha budi daya, meski penyakit terkadang tidak bersahabat dalam melakukan budi daya di tambak. Padahal, tak jarang petambak mengalami kerugian jutaan rupiah.  
Kini, daya beli masyarakat memang sedikit menurun. Tapi, itu bukanlah suatu alasan untuk tidak mengembangkan budi daya udang ini. Pasalnya, pangsa pasar luar negeri tetap terbuka kerannya, sehingga berapapun jumlah produksi udang windu yang dihasilkan petambak, akan tetap terserap. Belum lagi pangsa pasar dalam negeri yang juga masih tetap terbuka, sehingga wajar saja jika petambak tetap gigih dan tanpa menyerah dalam budi daya udang windu.  
Salah satu contoh di pasar tradisional seperti di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Rajawali dan Paotere, Makassar Sulsel, di mana udang windu masih tetap banyak dijual dan pembelinya pun cukup lumayan, sehingga pedagang tidak terlalu repot dalam memasarkannya. Hal itu dilihat sendiri oleh penulis dalam setiap kunjungan rutin sekali seminggu ke TPI yang ada di daearah ini.
Belum lagi di pasar swalayan dan restoran-restoran atau hotel-hotel berbintang juga menu udang windu tetap menjadi primadona. Bahkan rumah-rumah makan pun tidak luput dari sajian ini, sehingga masih sangat bagus dalam pemasarannya.
Dampak Krisis Global
Krisis keuangan global yang dimulai dari negara adidaya Amerika Serikat (AS) itu membuktikan bahwa kapitalisme tidak terkendali sehingga menyebabkan kerawanan ekonomi, bahkan menyebar ke negara lain yang merupakan pasar tujuan ekspor produk Indonesia.
Namun, dengan adanya krisis yang berdampak pada melemahnya daya beli masyarakat, gaya hidup berubah, berkurangnya permintaan, harga turun, perebutan pasar, persaingan sempurna dan pembayaran sulit.  
Khusus di bidang perikanan juga tidak kalah pentingnya sebab selain daya beli konsumen turun juga beberapa bank kredit dilikuidasi, bahkan importir melakukan stop buying/pembatalan kontrak atau melakukan negosiasi kontrak. Padahal sektor perikanan sebagai salah satu andalan ekspor Indonesia akan terkena dampak. Dan diperkirakan akan terjadi penurunan ekspor hasil perikanan antara 15-20 persen.  
Padahal, jika dilihat dari catatan ekspor udang Indonesia di mana volume tahun 2005 mencapai 153.906 ton dan nilai USD 948.130, tahun 2006 volume 169.329 ton dengan nilai USD 1.115.963, tahun 2007 volume 157.545 ton, nilai USD 1.029.935, sedangkan pada tahun 2008 per Agustus volume ekspor sudah mencapai 115.198 ton dengan nilai USD 782.721. Sedangkan tujuan ekspor udang Indonesia tahun 2007 yaitu Amerika Serikat sebesar 37 persen, Jepang 31 persen dan Uni Eropa sebanyak 18 persen.  
Berdasarkan data pada tahun 2005 berada pada urutan kedua setelah Thailand sebagai ekspor utama udang ke Amerika Serikat. Pada tahun 2006, Indonesia hanya menduduki peringkat ke empat setelah Thailand, China, dan Equador. Namun pada tahun tahun 2007 kembali naik ke posisi di mana peringkat pertama diduduki oleh negara Thailand, Equador, Indonesia, China dan Mexico.  
Melihat kenyataan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia masih jauh tertinggal dari beberapa negara di Asia, padahal jika dilihat dari jumlah lahan dan luas wilayahnya, maka wajar kalau Indonesia menduduki peringkat pertama dalam memasok udang dunia.  
Tapi fakta berkata lain sehingga sektor ini perlu lebih ditingkatkan lagi di masa akan datang, karena peluang masih terbuka lebar untuk meraih peringkat pertama dalam memasok udang ke luar negeri, sisa bagaimana menggenjot produksi sehingga apa yang akan diinginkan itu dapat tercapai.  
Pesaing Sedikit  
Bila kita memiliki kepekaan dalam memberikan motivasi kepada petani tambak, baik pemerintah maupun swasta untuk selalu memberikan dorongan dan perbaikan ke arah yang lebih baik guna mempertahankan mutu dari produk yang dihasilkannya itu, maka udang asal Indonesia tetap akan dicari kemana pun dia pergi.  
Oleh karena itu, budi daya udang windu yang selama ini digeluti masyarakat petani tambak dalam budi daya udang perlu bersyukur lantaran selain harganya yang masih tergolong tinggi dan disukai banyak orang, juga pesaing dalam artian bahwa negara yang melakukan budi daya udang windu tergolong sedikit, sehingga peluang untuk tetap mengembangkan usaha ini tetap menjadi modal utama.  
Nah, negara penghasil udang windu di dunia adalah Thailand, Vietnam dan Malaysia. Jadi, ketiga negara ini yang merupakan saingan berat Indonesia dalam memasok udang dunia, sehingga ini berarti bahwa peluang untuk budi daya "Si bongkok" tetap menjanjikan masa depan karena memang ukurannya tergolong besar-besar.  
Apalagi "si Black Tiger" memang hidupnya di negara-negara Asia Tenggara, sehingga yang dekat-dekat saja dengan Indonesia menjadi pesaing. Berbeda dengan udang putih (Vannamei) yang nyata-nyata induknya diekspor dari Amerika Latin, bahkan dapat dikatakan hampir seluruh dunia dapat mengembangkannya sehingga pesaingnya juga sangat banyak.  
Jadi untuk mengembangkannya sangat sulit atau paling tidak mengalami sedikit kendala. Sebab selain induknya didatangkan dari luar negeri, juga ukurannya kecil-kecil dan kebiasan petani tambak khususnya di daerah ini masih dipertanyakan, sehingga wajar jika udang windu tetap menjadi perhatian semua petambak khususnya di Sulawesi Selatan.  
Olehnya itu, yang menjadi perhatian adalah pengadaan induk untuk menghasilkan bibit (benur). Pasalnya, induk ini sangat menentukan kualitas benur sebab kapan induknya "sakit" berarti sudah pasti juga bahwa benur yang dihasilkannya itu juga ikut terkena penyakit. Jangankan induknya sakit, sehat pun jika benurnya sudah dipindahtangankan, terkadang mengalami sedikit gangguan.  
Dengan demikian maka Hatchery (tempat pembenihan udang) yang merupakan salah satu penghasil benur dapat diandalkan oleh masyarakat, karena dalam pemikiran petambak bahwa hatchery masih lebih baik dari yang lain untuk menghasilkan benur atau benih udang.
Penggelondong  
Dengan adanya penggelondong, maka dalam hal ini bukan hanya satu-satunya hatchery yang mesti perhatikan benurnya. Tapi juga setelah pindah tangan atau yang lebih dikenal masyarakat dengan "penggelondongan" atau pembesaran benur sebelum ditebar ke tambak.
Penggelondong (orang/pengusaha) ini biasanya membeli dengan porsi banyak kepada hatchery lalu menyimpannya di dalam bak atau tambak yang ukuran kecil. Selama penyimpanan benur tersebut, maka sudah pasti bahwa jaminan untuk kesehatan udang terkadang disangsikan lagi.  
Sebab kebanyakan para penggelondong ini kurang memperhatikan aspek kesehatan benurnya. Yang penting "ada uang, ada udang", sehingga masyarakat yang ingin beli benur ke hatchery yang jumlahnya hanya 1.000-2.000 ekor merasa berat, karena selain tempatnya jauh juga membutuhkan biaya yang agak besar. Bahkan juga pihak hatchery terkadang tidak melayani pembeli jika permintaannya sedikit.  
Oleh karena itu, kebanyakan petambak biasanya membeli benur ke penggelondong. Pasalnya, selain tempatnya dekat juga jumlah yang akan dibelinya itu relatif sedikit, sehingga sasarannya ke penggelondongan.  
Melihat animo masyarakat kecil yang ingin budi daya udang di tambak, maka segala upaya dilakukan mulai dari persiapan lahannya hingga persiapan penebaran, tapi toh terkadang udang yang dibudidayakan itu tetap terserang penyakit.  
Meski juga pihak hatchery berusaha menghasilkan benur yang baik (berkualitas) dan bebas dari penyakit, tapi kalau pihak penggelondong kurang memperhatian tentang kesehatan benurnya, maka tetap petani tambak yang merasakan dampaknya. Sebaliknya, pihak penggelondong hanya meraup keuntungan semata.  
Jadi yang harus mendapat perhatian dalam kesehatan udang adalah pihak penggelondong, karena air yang ada di bak atau tambak (tempat penggelondongan) rentan terhadap penyakit. Betapa tidak, jika sedikit saja air dalam bak penggelondongan terkena penyakit, lalu benur dari hatchery disimpan sekejap maka sudah pasti bahwa benur yang akan dibeli petani dan akan ditebar ke tambak juga sudah jelas terinfeksi atau terkontaminasi oleh penyakit tersebut, meski secara kasak mata masih kelihatan sehat dan tidak ada masalah karena pergerakannya tetap lincah.  
Nah, jangan heran jika hanya dalam waktu sebulan lebih atau masuk dua bulan pemeliharaan di tambak, maka benur yang ditebar tadinya sudah mengalami gangguan alias sudah sakit. Ini menandakan bahwa selain pengusaha hatchery yang mempertahankan mutunya juga para penggelondong harus menjaga kesehatan udang tersebut, sehingga kesinambungan hasil budi daya udang windu di Sulawesi Selatan tetap berlanjut.  
Jika ini semua bisa dipertahankan maka sudah pasti bahwa petambak yang telah melakukan persiapan lahan dengan matang, juga hatchery dan penggelondong tetap manjaga kesehatan udangnya, maka hasil yang akan didapatkan para petambak tersebut akan sesuai dengan harapan banyak orang. Oleh karena itu, penggelondong juga harus benar-benar selalu memperhatikan semua hal-hal yang dapat merusak atau merugikan petambak yang sudah lama bergelut di dunia pertambakan.  
Mudah-mudahan semua pihak tetap mematuhi semua unsur-unsur yang dapat merugikan orang lain, sehingga sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan bersama maka pihak-pihak yang terkait dalam usaha budi daya udang windu agar tetap mempertahankan mutu dan kualitas yang akan dujualnya. Semoga!
Diposkan oleh Munawaroh,SP.


Jumat, 24 Agustus 2018

PLANKTON DAN JENIS-JENIS LAINNYA










Pengertian dan Definisi dari Plankton adalah organisme mikroskopis yang berada di permukaan perairan dan berfungsi sebagai produsen ekosistem perairan. Sebagai biota mikroskopis perairan, plankton sangat berperan sebagai produsen primer dan sekunder. Plankton sebagai sumber makanan bagi organisme yang hidup di perairan. Plankton juga sering digunakan sebagai tolak ukur kesuburan perairan dengan melihat dominansi jenis-jenis atau berkurangnya suatu jenis karena adanya gangguan terhadap ekosistem perairan seperti adanya pencemaran. Oleh sebab itu plankton perlu dianalisis keanekaragaman jenisnya. Kepadatan plankton diukur dengan menggunakan alat plankton net berukuran 200 mesh yang di bagian bawahnya ditampung dengan botol flakon ber volume 11 ml. Air diambil dengan menggunakan ember berukuran 5 liter dan dituangkan ke dalam plankton net maka plankton yang tertampung pada botol flakon telah terpadatkan dari volume 5 liter air menjadi 11 ml air untuk kepadatan plankton diukur dengan menggunakan mikroskop binokuler. Sampel plankton dalam botol flakon diteteskan pada hemacytometer kemudian dihitung jumlah jenis setiap selnya. Plankton terdiri dari fitoplankton dan zooplankton, fitoplankton adalah plankton yang menyerupai tumbuhan sehingga mampu melakukan fotosintesis dan merupakan pensuplai utama oksigen terlarut di perairan sedangkan zooplakton adalah jenis hewan meskipun sebagai pemanfaatan langsung fitoplankton yang merupakan produsen sekunder perairan.
Definisi dan Pengertian zooplankton yang diberikan oleh Nybakken adalah hewan-hewan laut yang planktonik sedangkan fitoplankton merupakan tumbuhan laut yang bebas melayang dan hanyut dalam laut serta mampu berfotosintesis. Plankton merupakan makanan alami larva organisme perairan. Sebagai produsen utama di perairan adalah fitoplankton, sedangkan organisme konsumen adalah zooplankton, larva, ikan, udang, kepiting dan sebagainya. Zooplankton merupakan sumber makanan penting bagi nekton pada tingkat juvenil. Beberapa jenis nekton perairan telah berkembang biak dan membesarkan anak-anaknya di hutan mangrove. Semakin besar densitas zooplankton, maka semakin besar pula nekton.
Menurut fungsinya plankton dapat diklasifikasikan menjadi empat golongan utama yaitu :
§  Fitoplankton.
§  Zooplankton.
§  Bakterioplankton dan
§  Virioplankton.
Penjelasan klasifikasi jenis plankton menurut fungsinya
§  Fitoplankton
Fitoplankton disebut juga plankton nabati adalah tumbuhan yang hidupnya mengapung atau melayang dilaut ukurannya sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat oleh mata telanjang. Umumnya fitoplankton berukuran 2 – 200µm (1 µm = 0,001mm). fitoplankton umumnya berupa individu bersel tunggal tetapi juga ada yang berbentuk rantai. Meskipun ukurannya sangat kecil namun fitoplankton dapat tumbuh dengan sangat lebat dan padat sehingga dapat menyebabkan perubahan warna pada air laut.
Fitoplankton mempunyai fungsi penting di laut karena bersifat autotrofik yakni dapat menghasilkan sendiri bahan organik makanannya. Selain itu fitoplankton juga mampu melakukan proses fotosintesis untuk menghasilkan bahan organik karena mengandung klorofil karena kemampuannya ini fitoplankton disebut sebagai primer producer.
Bahan organik yang diproduksi fitoplankton menjadi sumber energi untuk menjalan segala fungsinya tetapi disamping itu energi yang terkandung didalam fitoplankton dialirkan melalui rantai makanan. Seluruh hewan laut seperti udang, ikan, cumi – cumi sampai ikan paus yang berukuran raksasa bergantung pada fitoplankton baik secara langsung atau tidak langsung melalui rantai makanan.
§  Zooplankton
Zooplankton disebut juga plankton hewani adalah hewan yang hidupnya mengapung atau melayang dalam laut. Kemampuan renangnya sangat terbatas hingga keberadaannya sangat ditentukan ke mana arus membawanya. Zooplankton bersifat heterotrofik yang maksudnya tak dapat memproduksi sendiri bahan organik dari bahan inorganik. Oleh karena itu untuk kelangsungan hidupnya ini sangat bergantung pada bahan organik dari fitoplankton yang menjadi makanannya jadi zooplankton lebih berfungsi sebagai konsumen (consumer) bahan organik. Ukurannya yang paling umum berkisar 0,2 – 2 mm tetapi ada juga yang berukuran besar misalnya ubur-ubur yang bisa berukuran sampai lebih 1 m. Kelompok yang paling umum ditemui antara lain kopepod (copepod), eufausid (euphausid), misid (mysid), amfipod (amphipod, kaetognat, chaetognath). Zooplankton dapat dijumpai mulai dari perairan pantai perairan estuaria di depan muara sampai ke perairan di tengah samudra dari perairan tropis hingga ke perairan kutub.
Zooplankton ada yang hidup di permukaan dan ada pula yang hidup di perairan dalam ada pula yang dapat melakukan migrasi vertikal harian dari lapisan dalam ke permukaan. Hampir semua hewan yang mampu berenang bebas (nekton) atau yang hidup di dasar Taut (bentos) menjalani awal kehidupannya sebagai zooplankton yakni ketika masih berupa terlur dan larva. Baru dikemudianhari menjelang dewasa sifat hidupnya yang semula sebagai plankton berubah menjadi nekton atau bentos.
§  Bakterioplankton
Bakterioplankton adalah bakteri yang hidup sebagai plankton sekarang orang makin memahami bahwa bakteri pun banyak yang hidup sebagai plankton dan berperan penting dalam lour hara (nutrient cycle) dalam ekosistem laut yang mempunyai ciri yang khas dan ukurannya sangat halus (umumnya < 1 µm) tidak mempunyai inti sel dan umumnya tidak mempunyai klorofil yang dapat berfotosintesis. Fungsi utamanya dalam ekosistem laut adalah sebagai pengurai (decomposes) semua biota laut yang mati akan diuraikan oleh bakteri sehingga akan menghasilkan hara seperti fosfat, nitrat, silikat, dan sebagainya. Hara ini kemudian akan didaur ulangkan dan dimanfaatkan lagi oleh fitoplankton dalam proses fotosintesis.
§  Virioplankton
Virioplankton adalah virus yang hidup sebagai plankton dan virus ini ukurannya sangat kecil (kurang dari 0,2 um) dan menjadikan biota lainnya terutama bakterioplankton dan fitoplankton sebagai inang (host). Tanpa inangnya virus ini tak menunjukkan kegiatan hayati tetapi virus ini dapat pula memecahkan dan mematikan sel-sel inangnya. Baru sekitar dua dekade lalu para ilmuwan banyak mengkaji virioplankton ini dan menunjukkan bahwa virioplankton pun mempunyai fungsi yang sangat penting dalam daur karbon (carbon cycle) di dalam ekosistem laut.
Menurut daur hidup plankton dapat diklasifikasikan menjadi tiga golongan yaitu :
§  Holoplankton
§  Meroplankton
§  Tikoplankton
Penjelasan klasifikasi jenis plankton menurut daur hidup
§  Holoplankton
Dalam kelompok ini termasuk plankton yang seluruh daur hidupnya dijalani sebagai plankton mulai dari telur, larva, hingga dewasa. Kebanyakan zooplankton termasuk dalam golongan ini contohnya kokepod, amfipod, salpa, kaetognat. Fitoplankton termasuk juga umumnya adalah holoplankton.
§  Meroplankton
Plankton dari golongan ini menjadi kehidupannya sebagai plankton hanya pada tahap awal dari daur hidup biota tersebut yakni pada tahap sebagai telur dan larva saja. Beranjak dewasa ia akan berubah menjadi nekton yakni hewan yang dapat aktif berenang bebas atau sebagai bentos yang hidup menetap atau melekat didasar laut. Oleh sebab itu meroplankton sering pula disebut sebagai plankton sementara. Pada umumnya ikan menjalani hidupnya sebagai plankton ketika masih dalam tahap telur dan larva kemudian menjadi nekton sstelah dapat berenang bebas. Kerang dan karang adalah contoh hewan yang pada awalnya hidup sebagai plankton pada tahap telur hingga larva yang selanjutnya akan menjalani hidupnya sebagai bentos yang hidup melekat atau manancap didasar laut. Meroplankton ini sangat banyak ragamnya dan umumnya mempunyai bentuk yang sangat berbeda dari bentuk dewasanya. Larva crustacea seperti udang dan kepiting mempunyai perkembangan larva yang bertingkat-tingkat dengan bentuk yang sedikitpun tidak menunjukkan persamaan dengan bentuk yang dewasa. Pengetahuan mengenai meroplankton ini menjadi sangat penting dalam kaitannya dengan upaya budidaya udang, crustacea, mollusca dan ikan.
§  Tikoplankton
Tikoplankton sebenarnya bukanlah plankton yang sejati karena biota ini dalam keadaan normalnya hidup didasar laut sebagai bentos. Namun karena gerak air menyebabkan ia terlepas dari dasar dan terbawa arus mengembara sementara sebagai plankton.
Menurut sebaran horisontal plankton dapat diklasifikasikan menjadi dua golongan yaitu :
§  Plankton Neritik
§  Plankton Oseanik
Penjelasan klasifikasi jenis plankton menurut sebaran horizontal
Plankton terdapat di lingkungan air tawar hingga tengah samudra dari perairan tropis hingga ke perairan kutub boleh dikatakan tak ada permukaan laut yang tidak dihuni oleh plankton. Berdasarkan sebaran horizontalnya plankton dibagi menjadi:
§  Plankton Neritik
Plankton neritik (neritic plankton) hidup di perairan pantai dengan salinitas (kadar garam) yang relatif rendah. Kadang-kadang masuk sampai ke perairan payau di depan muara dengan salinitas sekitar 5­10 psu (practical salinity unit, dulu digunakan istilah °/oo atau permil, g/kg). Akibat pengaruh lingkungan yang terus-menerus berubah disebabkan arus dan pasang surut komposisi plankton neritik ini sangat kompleks bisa merupakan campuran plankton laut dan plankton asal perairan tawar. Beberapa di antaranya malah telah dapat beradaptasi dengan lingkungan estuaria (muara) yang payau misalnya Labidocera muranoi.
§  Plankton Oseanik
Plankton oseanik (oceanic plankton) hidup di perairan lepas pantai hingga ke tengah samudra karena itu plankton oseanik ditemukan pada perairan yang salinitasnya tinggi. Karena luasnya wilayah perairan oseanik ini maka banyak jenis plankton tergolong dalam kelompok ini. Penggolangan seperti di atas tidaklah terlalu kaku karena ada juga plankton yang hidup mulai dari perairan neritik hingga oseanik hingga dapat disebut neritik-oseanik. Penjelasan klasifikasi jenis plankton menurut sebaran vertikal dapat dilihat dibawah ini :
Plankton yang hidup di laut mulai dari lapisan tipis di permukaan sampai pada kedalaman yang sangat dalam menurut sebaran vertikal plankton dapat diklasifikasikan menjadi tiga golongan yaitu :
§  Epiplankton
§  Mesoplankton
§  Hipoplankton
Penjelasan klasifikasi jenis plankton menurut sebaran vertikal
§  Epiplankton
Epiplankton adalah plankton yang hidup di lapisan permukaan sampai kedalaman sekitar 100 m. Lapisan laut teratas ini kira-kira sedalam sinar matahari dapat menembus namun dari kelompok epilankton ini ada juga yang hanya hidup di lapisan yang sangat tipis di permukaan yang langsung berbatasan dengan udara flankton semcam ini disebut neuston. Contoh yang menarik adalah fitoplankton Trichodesmium yang merupakan sianobakteri berantai panjang yang hidup di permukaan dan mempunyai keistimewaan dapat mengikat nitrogen langsung dari udara. Neuston yang hidup pada kedalaman sekitar 0-10 cm disebut hiponeuston. Ternyata lapisan tipis ini mempunyai arti yang penting karena bisa mempunyai komposisi jenis yang kompleks. Dari kelompok neuston ini ada juga yang mengambang di permukaan dengan sebagian tubuhnya dalam air dan sebagian lain lagi tersembul ke udara ini disebut pleuston.
§  Mesoplankton
Mesoplankton yakni plankton yang hidup di lapisan tengah pada kedalaman sekitar 100-400 m (jangan dikelirukan dengan ukuran plankton yang istilahnya sama). Pada lapisan ini intensitas cahaya sudah sangat redup sampai gelap oleh sebab itu di lapisan ini fitoplankton yang memerlukan sinar matahari untuk fotosintesis umumnya sudah tidak dijumpai. Lapisan ini dan lebih dalam didominasi oleh zooplankton beberapa seperti Eucheuta marina tersebar secara vertikal sampai ke lapisan ini atau lebih dalam. Dari kelompok eufausid juga banyak yang terdapat di lapisan ini misalnya Thysanopoda, Euphausia, Thysanoessa, Nematoscelis. Tetapi eufausid ini juga dapat melakukan migrasi vertikal sampai ke lapisan di atasnya.
§  Hipoplankton
Hipoplankton adalah plankton yang hidupnya pada kedalaman lebih dari 400 m. Termasuk dalam kelompok ini adalah batiplankton (bathyplankton) yang hidup pada kedalaman > 600 m dan abisoplankton (abyssoplankton) yang hidup di lapisan yang paling dalam sampai 3000-4000 m. Sebagai contoh dari kelompok eufausid, Bentheuphausia ambylops dan Thysanopoda adalah jenis tipikal laut dalam yang menghuni perairan pada kedalaman lebih dari 1500 m. Kelompok kaetognat eukrohnia hamata dan eukrohnia bathypelagica termasuk yang hidup pada kedalaman lebih dari 1000 m.
Diposkan oleh Hari Sampurno


Sabtu, 04 Agustus 2018

PEMBESARAN IKAN PATIN DALAM KOLAM




  

Teknik budidaya ikan patin relatif mudah sehingga tidak perlu ragu jika berminat menekuni budidaya ikan ini. Pada awalnya pemenuhan kebutuhan ikan patin hanya mengandalkan penangkapan dari sungai, rawa dan danau sebagai habitat asli ikan patin. Seiring dengan meningkatnya permintaan dan minat masyarakat ikan patin mulai dibudidayakan di kolam, keramba maupun bak dari semen atau kolan tanah. Permintaan ikan patin yang terus meningkat memberikan peluang usaha bagi setiap orang untuk menekuni usaha di bidang budidaya ikan patin ini selain rasanya enak dan gurih. Dengan permintaan yang demikian meningkat jelas tidak mungkin mengandalkan tangkapan alam tetapi perlu budidaya ikan patin secara lebih intensif.dan sekarang sudah banyak yang berbudidaya ikan pati di terpal maupun di kolam tanah sehingga kebutuhan konsumsi masyarakan terpenuhi dan harganya lebih terjangkau, gizinya juga tidak kalah dengan ikan ikan lainnya, maka dari itu tingkatkanlah untuk mengkonsumsi ikan patin.
Klasifikasi ikan patin adalah sebagai berikut :
Ordo : Ostarioplaysi.
Subordo : Siluriodea.
Famili : Pangasidae.
Genus : Pangasius.
Spesies : Pangasius pangasius

Persyaratan Budidaya Ikan Patin

Budidaya ikan Patin memerlukan beberapa persyaratan dan kondisi lingkungan yang optimal bagi pertumbuhan dan perkembangannya antara lain sebagai berikut :

 Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan dan budi daya ikan patin adalah jenis tanah liat/lempung tidak berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.
Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5% untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
Apabila pembesaran patin dilakukan dengan jala apung yang dipasang disungai maka lokasi yang tepat yaitu sungai yang berarus lambat.
Kualitas air untuk pemeliharaan ikan patin harus bersih tidak terlalu keruhdan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kualitas air harus diperhatikan untuk menghindari timbulnya jamur maka perlu ditambahkan larutan penghambat pertumbuhan jamur (Emolin atau Blitzich dengan dosis 0,05 cc/liter).
Suhu air yang baik pada saat penetasan telur menjadi larva di akuarium adalah antara 26-28 derajat C. Pada daerah-daerah yang suhu airnya relatif rendah diperlukan heater (pemanas) untuk mencapai suhu optimal yang relatif stabil.
pH air berkisar antara: 6,5-7.
Teknik Pemeliharaan Pembesaran Ikan Patin

Pemeliharaan Pembesaran ditujukan untuk pemenuhan Ikan Patin konsumsi ikan Patin dikonsumsi dalam berbagai ukuran antara lain 200 gram sampai 1 kg. masa panen menyesuaikan dengan permintaan pasar. Ada sebagian yang lebih senang ukuran kecil sekitar 200 gram ada yang lebih dari itu pada Usia 6 bulan ikan patin sudah mencapai bobot 600-700 gram.

Ikan Patin akan tumbuh lebih baik di kolam lumpur dengan aliran air yang mengalir cukup baik meski demikian bisa juga dipeihara pada kolam semen yang tidak mengalir tetapi perlu diperhatikan kualitas air agar tetap dalam konsisi yang baik langkah-langkah pemeliharaan ikan patin sebagai berikut :

Persiapan Kolam

Kedalaman kolam 1,5 m
Pengeringan mininal 15 hari
Pengapuran dengan kapur pertanian (dolomite) 100gr /m2 fungsinya untuk memperbaiki pH tanah.
Dapat juga dilakukan pemupukan dengan pupuk kandang 200gr/m2
Biarkan hingga beberapa hari agar ada proses mineralisasi (proses pembentukan mineral)
Diamkan air sampai fitoplanton tumbuh yang ditandai warna air yang menjadi kehijauan.
Pemupukan
Pada kolam lumpur idealnya perlu dilakukan pemupukan sebelum ikan patin ditebarkan. Pemupukan kolam bertujuan untuk meningkatkan makanan alami dan produktivitas kolam, yaitu dengan cara merangsang pertumbuhan makanan alami sebanyak-banyaknya. Pupuk yang biasa digunakan adalah pupuk kandang atau pupuk hijau dengan dosis 50-700 gram/m 2.

Penebaran Benih

Seperti biasa pilih benih yang unggul dan berkualitas serta sehat.
Lakukan aklimatisasi (upaya penyesuaian fisiologis atau adaptasi ke lingkungan baru yang akan dimasukinya) dengan memasukkan benih beserta kantong plastiknya sekitar 30 menit  1 jam. Setelah itu benih bisa ditebar.
Padat tebar : air statis : 200 ekor/m2 jika ada aliran air (kecil) kepadatan dapat ditambah hingga 300-400 ekor/m2.
Pada tebar benih setelah ditebar ikan patin tidak boleh di kasih pakan selama 2 hari karena masa adaptasi dan disitulah ikan patin di puasakan dulu setelah 2-3 hari baru di kasih makan , kalau langsung ikan pati akan mengalami setres atau kembung sering kematian massal , maka dari itu pemberian makan juga di sesuaikan dengan keadaan ikan patin atau sesuai bobot ikan
Ketinggian air ditambah seiring dengan pertumbuhan patin sampai mencapai 1,5 m.
Pemberian Pakan
Faktor yang cukup menentukan dalam budi daya ikan patin adalah faktor pemberia makanan. Faktor makanan yang berpengaruh terhadap keberhasilan budi daya ikan patin adalah dari aspek kandungan gizinya, jumlah dan frekuensi pemberin makanan. Pemberian makan dilakukan 2 kali sehari (pagi dan sore). Jumlah makanan yang diberikan per hari sebanyak 3-5% dari jumlah berat badan ikan peliharaan jumlah makanan selalu berubah setiap bulan sesuai dengan kenaikan berat badan ikan. Hal ini dapat diketahui dengan cara menimbangnya 5-10 ekor ikan contoh yang diambil dari ikan yang dipelihara (sampel) dan bisa juga dilakukan dengan cara adlibitum (sampai kenyang). Pakan yang diberikan adalah Pelet dan bisa ditambahkan makanan alami lainnya seperti kerang, keong emas, bekicot, ikan sisa, usus ayam dan lain-lain. Pakan alami yang diperoleh dari lingkungan selain mengandung protein tinggi juga menghemat biaya pemeliharaan.

Penanganan Hama Dan Penyakit
Salah satu kendala dan masalah Budi daya ikan patin adalah hama dan penyakit. Pada pembesaran ikan patin di jaring terapung dan kolam hama yang mungkin menyerang antara lain lingsang, kura-kura, biawak, ular air, dan burung. Cegah akses masuk hama tersebut ke kolam atau dengan memasang lampu penerangan di sekitar kolam sehingga hama tersebut biasanya enggan masuk jika ada sinar lampu. Penyakit ikan patin ada yang disebabkan infeksi dan non-infeksi, penyakit non-infeksi adalah penyakit yang timbul akibat adanya gangguan faktor yang bukan patogen. Penyakit non-infeksi ini tidak menular sedangkan penyakit akibat infeksi biasanya timbul karena gangguan organisme patogen.

Pemanenan Ikan Patin
Pemanenan adalah saat yang ditunggu pada budi daya ikan patin. Meski terlihat sederhana pemanenan juga perlu memperhatikan beberapa aspek agar ikan tidak mengalami kerusakan,kematian, cacat saat dipanen. Sayang  jika budidaya ikan patin sudah berhasil dengan baik harus gagal hanya karena cara panen yang salah. Penangkapan ikan dengan menggunakan jala apung akan mengakibatkan ikan mengalami luka-luka. Sebaiknya penangkapan ikan dimulai dibagian hilir kemudian bergerak kebagian hulu Jadi apa bila ikan sudah terlihat menumpuk maka perlahan-lahan ikan diangkat agar ikan tersebut tetap dalam keadaan aman dan pemanenan seperti ini menguntungkan karena ikan tetap segar sehingga kematian ikan dapat dihindari.
Diposkan oleh Hari Sampurno