Minggu, 14 September 2014

TEKNIK PEMBENIHAN IKAN BANDENG

Keberhasilan dalam budidaya ikan bandeng sangat di tentukan dengan persiapan benih yang baik sesuai dengan standar untuk budidaya yang baik. Pembuatan benih yang berkualitas memerlukan langkah-langkah persiapan yang terencana dengan baik pelaksanaan pembenihan yang diharapkan berhasil dengan baik.
1. Alasan Melakukan Pembenihan 
Benih bandeng (nener) merupakan salah satu sarana produksi yang utama dalam usaha budidaya bandeng di tambak. Perkembangan Teknologi budidaya bandeng di tambak dirasakan sangat lambat dibandingkan dengan usaha budidaya udang. Faktor ketersediaan benih merupakan salah satu kendala dalam meningkatkan teknologi budidaya bandeng. Selama ini produksi nener alam belum mampu untuk mencukupi kebutuhan budidaya bandeng yang terus berkembang, oleh karena itu peranan usaha pembenihan bandeng dalam upaya untuk mengatasi masalah kekurangan nener tersebut menjadi sangat penting. Tanpa mengabaikan arti penting dalam pelestarian alam, pengembangan wilayah, penyediaan dukungan terhadap pembangunan perikanan khususnya dan pembangunan nasional umumnya, kegiatan pembenihan bandeng di hatchery harus diarahkan untuk tidak menjadi penyaing bagi kegiatan penangkapan nener di alam. Diharapkan produksi benih nener di hatchery diarahkan untuk mengimbangi selisih antara permintaan yang terus meningkat dan pasok penangkapan di alam yang diduga akan menurun.
Teknologi produksi benih di hatchery telah tersedia dan dapat diterapkan baik dalam suatu Hatchery Lengkap (HL) maupun Hatchery Sepenggal (HS) seperti Hatchery Skala Rumah Tangga (HSRT). Produksi nener di  hatchery sepenggal dapat diandalkan. Karena resiko kecil, biaya rendah dan hasil memadai. Hatchery sepenggal sangat cocok dikembangkan di daerah miskin sebagai salah satu upaya penaggulangan kemiskinan bila dikaitkan dalam pola bapak angkat dengan hatchery lengkap (HL). Dilain pihak, hatchery lengkap (HL) dapat diandalkan sebagai produsen benih bandeng (nener) yang bermutu serta tepat musim,  jumlah dan harga. Usaha pembenihan bandeng di hatchery dapat mengarahkan kegiatan budidaya menjadi kegiatan yang mapan dan tidak terlalu dipengaruhi kondisi alam serta tidak memanfaatkan sumber daya secara berlebihan. Dalam siklusnya yang utuh, kegiatan budidaya bandeng yang mengandalkan benih hatchery bahkan dapat mendukung kegiatan pelestarian sumberdaya baik melalui penurunan terhadap sumber daya benih species lain yang biasa terjadi pada penangkapan nener di alam maupun melalui penebaran di perairan pantai (restocking).
Disisi lain, perkembangan hatchery bandeng di kawasan pantai dapat dijadikan titik tumbuh kegiatan ekonomi dalam rangka pengembangan wilayah dan penyerapan tenaga kerja yang mengarah pada pembangunan berwawasan lingkungan. Pada giliranya, tenaga yang terserap di hatchery itu sendiri selain berlaku sebagai produsen juga berlaku sebagai konsumen bagi kebutuhan kegiatan sehari-hari yang dapat mendorong kegiatan ekonomi masyarakat sekitar hatchery.
2. PERSYARATAN LOKASI
Pemilihan tempat perbenihan bandeng harus mempertimbangkan aspek-aspek yang berkaitan dengan lokasi. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam persyaratan lokasi adalah sebagai berikut:
1) Status tanah dalam kaitan dengan peraturan daerah dan jelas sebelum hatchery dibangun.
2) Mampu menjamin ketersediaan air dan pengairan yang memenuhi persyaratan mutu yang ditentukan;
- Pergantian air minimal; 200 % per hari.
- Suhu air, 26,5-310C.
- PH; 6,5-8,5.
- Oksigen larut; 3,0-8,5 ppm.
- Alkalinitas 50-500ppm.
- Kecerahan 20-40 cm (cahaya matahari sampai ke dasar pelataran).
- Air terhindar dari polusi baik polusi bahan organik maupun an organik.
3) Sifat-sifat perairan pantai dalam kaitan dengan pasang surut dan pasang arus perlu diketahui secara rinci.
4) Faktor-faktor biologis seperti kesuburan perairan, rantai makanan, species dominan, keberadaan predator dan kompetitor, serta penyakit endemik harus diperhatikan karena mampu mengakibatkan kegagalan proses produksi.
3.   SARANA DAN PRASARANA
1) Sarana Pokok
Fasilitas pokok yang dimanfaatkan secara langsung untuk kegiatan produksi adalah bak penampungan air tawar dan air laut, laboratorium basah, bak pemeliharaa larva, bak pemeliharaan induk dan inkubasi telur serta bak pakan alami.
a. Bak Penampungan Air Tawar dan Air Laut.
Bak penampungan air (reservoir) dibangun pada ketinggian sedemikian rupa sehingga air dapat didistribusikan secara gravitasi ke dalam bak-bak dan sarana lainnya yang memerlukan air (laut, tawar bersih). Sistim pipa pemasukkan dan pembuangan air perlu dibangun pada bak pemelihara induk, pemeliharaan larva, pemeliharan pakan alami, laboratorium kering dan basah serta saran lain yang memerlukan air tawar dan air laut serta udara (aerator). Laboratorium basah sebaiknya dibangun berdekatan dengan bangunan pemeliharaan larva dan banguna kultur murni plankton serta diatur menghadap ke kultur masal plankton dan dilengkapi dengan sistim pemipaan air tawar, air laut dan udara.
b. Bak Pemeliharaan Induk
Bak pemeliharaan induk berbentuk empat persegi panjang atau bulat dengan kedalaman lebih dari 1 meter yang sudut-sudutnya dibuat lengkung dan dapat diletakkan di luar ruangan langsung menerima cahaya tanpa dinding.
c. Bak Pemeliharan Telur
Bak perawatan telur terbuat dari akuarium kaca atau serat kaca dengan daya tampung lebih dari 2.000.000 butir telur pada kepadatan 10.000 butir per liter. 
d. Bak Pemeliharaan Larva
Bak pemeliharaan larva yang berfungsi juga sebagai bak penetasan telur dapat terbuat dari serat kaca maupun konstruksi beton, sebaiknya berwarna agak gelap, berukuran (4x5x1,5) m3 dengan volume 1-10 ton berbentuk bulat atau bujur sangkar yang sudut-sudutnya dibuat lengkung dan diletakkan di dalam bangunan beratap tembus cahaya tanpa dinding balik. Untuk mengatasi penurunan suhu air pada malam hari, bak larva diberi penutup berupa terpal plastik untuk menyangga atap plastik, dapat digunakan bentangan kayu/bambu.
e. Bak Pemeliharaan Makanan Alami, Kultur Plankton Chlorella sp dan Rotifera. 
Bak kultur plankton chlorella sp disesuaikan dengan volume bak pemeliharaan larva yang terbuat dari serat kaca maupun konstruksi beton ditempatkan di luar ruangan yang dapat langsung mendapat cahaya matahari. Bak perlu ditutup dengan plastik transparan pada bagian atasnya agar cahaya juga bisa masuk ke dalam bak untuk melindungi dari pengaruh air hujan. 
a)  Bak kultur chlorella         
b) Tabung tempat kultur rotifera
Kedalamam bak kultur chlorella sp harus diperhitungkan sedemikian rupa sehingga penetrasi cahaya matahari dapat dijamin mencapai dasar tangki. Kedalaman air dalam tangki disarankan tidak melebihi 1 meter atau 0,6 m, ukuran bak kultur plankton chlorella sp adalah (20 x 25 x 0,6)m3. Bak kultur rotifera terbuat dari serat kaca maupun konstruksi beton yang ditempatkan dalam bangunan beratap tembus cahaya tanpa dinding. Perbandingan antara volume bak chlorella, rotifera dan larva sebaliknya 5:5:1.
2) Sarana Penunjang
Untuk menunjang perbenihan sarana yang diperlukan adalah laboratorium pakan alami, ruang pompa,air blower, ruang packing, ruang genset, bengkel, kendaraan roda dua dan roda empat serta gudang (ruang pentimpanan barangbarang opersional) harus tersedia sesuai kebutuhan dan memenuhi persyaratan dan ditata untuk menjamin kemudahan serta keselamatan kerja.
a. Laboratorium pakan alami seperti laboratorium fytoplankton berguna sebagai tempat kultur murni plankton yang ditempatkan pada lokasi dekat hatchery yang memerlukan ruangan suhu rendah yakni 22~25 0C.
b.Laboratorium kering termasuk laboratorium kimia/mikrobialogi sebaiknya dibangun berdekatan dengan bak pemeliharaan larva berguna sebagai bangunan stok kultur dan penyimpanan plankton dengan suhu sekitar 22~25 0C serta dalam ruangan. Untuk kegiatan yang berkaitan dengan pemasaran hasil dilengkapi dengan fasilitas ruang pengepakan yang dilengpaki dengan sistimpemipaan air tawar dan air laut, udara serta sarana lainnya seperti peti kedap air, kardus, bak plastik, karet dan oksigen murni. Alat angkut roda dua dan empat yang berfungsi untuk memperlancar pekerjaan dan pengangkutan hasil benih harus tersedia tetap dalam keadaan baik dan siap pakai. Untuk pembangkit tenaga listrik atau penyimpanan peralatan dilengkapi dengan fasilitas ruang genset dan bengkel, ruang pompa air dan blower, ruang pendingin dan gudang.
3) Sarana Pelengkap
Sarana pelengkap dalam kegiatan perbenihan terdiri dari ruang kantor, perpustakaan, alat tulis menulis, mesin ketik, komputer, ruang serbaguna, ruang makan, ruang pertemuan, tempat tinggal staf dan karyawan.

Sabtu, 09 Agustus 2014

WSSV (WHITE SPOT SYNDROME VIRUS) MEWABAH MENYEBAR MELUAS KE SELURUH SENTRA-SENTRA BUDIDAYA UDANG WINDU DI INDONESIA

Udang windu (Penaeus monod Sejak tahun 1995, penyakit bintik putih pada udang yang dikenal sebagai WSSV (White Spot Syndrome Virus) telah mewabah dan menyebar meluas ke seluruh sentra-sentra budidaya udang windu di Indonesia. Penyakit tersebut memiliki tingkat patogenitas tinggi dengan mortalitas dapat mencapai 100 % yang merupakan penghambat utama kegagalan budidaya  udang  windu  di  Asia  dan  Amerika  (Mahardika  dkk.  2004).  WSSV  ditemukan pertama  kali  pada  tahun  1992  pada  Penaeus  japonicus  yang  dibudidayakan  di  Taiwan (Chang et al. 1998). Virus  white spot ini sangat patogenik pada P. indicus dan P.monodon (Lo et al. 1996a) sehingga dapat mengakibatkan mortalitas 100 % dalam 2 – 7 hari bila udang terinfeksi virus tersebut.
Pada panti pembenihan udang India sebanyak 630 sampel udang yang terdiri atas pasca larva (PL) dan yuwana, 53 % diantaranya positif terserang WSSV (Vaseeharan et al.2003). Serangan penyakit white spot pertama kali di Indonesia ditemukan pada areal pertambakan udang windu di Tangerang, Serang dan Karawang pertengahan tahun 1994 (Mahardika dkk. 2004). Penyakit WSSV tersebut juga menyerang tambak tradisional di Bangil Jawa Timur pada tahun 1999 dan sampai saat ini belum dapat diatasi. Hasil uji laboratoris juga  menunjukkan bahwa WSSV  tidak  hanya  menginfeksi P. monodon  tetapi  juga menginfeksi udang vaname, P. stylirostris dan P. setiferus. Berdasarkan informasi dari Dinas Perikanan dan Kelautan Indramayu, virus white spot sudah banyak menyebabkan kegagalan budidaya udang baik di tambak tradisional maupun intensif di sentra pertambakan kabupaten Indramayu.
Pada   akhir-akhir        ini        telah   dikembangkan   uji       biomolekuler   untuk   mendeteksi keberadaan DNA WSSV menggunakan teknik PCR (Polymerase Chain Reaction) baik oleh perusahaan farmasi dalam bentuk kit WSSV   yang memakai metode one-step PCR (PCR tunggal) dengan satu kali proses amplifikasi (penggandaan) sekuen WSSV. Penggunaan metode deteksi one-step PCR   yang umumnya menjadi protokol dalam kit-kit WSSV yang diproduksi secara komersiil untuk sampel udang yang  terinfeksi berat (bintik putih  pada karapas) dengan mudah dapat dideteksi keberadaan WSSV tersebut, oleh karena tingkat infeksinya cukup berat (Vaseeharan et al. 2003). Apabila sampel berasal dari udang sehat (tidak ada bintik putih pada karapas, kaki jalan atau kaki renang) tetapi memiliki gejala klinis seperti menurunnya nafsu makan dan berenang ke tepian tambak, maka setelah uji one-step PCR memberikan hasil negatif. Ketika sampel tersebut diuji ulang menggunakan metode
Nested PCR, keberadaan WSSV terdeteksi dengan hasil yang positif WSSV (Otta et al.1999).
Hasil deteksi DNA WSSV baik pada udang windu (P. monodon) dan carrier WSSV (udang rebon, kepiting) lebih sensitif ketika menggunakan metode Nested PCR (two-step PCR) yang kira-kira 103 lebih mampu mendeteksi WSSV dibanding one-step PCR  (Lo et al. 1996b).on fabr.) merupakan salah satu unggulan sektor perikanan dan kelautan nasional yang banyak dibudidayakan meskipun beberapa jenis udang telah dikembangkan dan dibudidayakan di Indonesia, antara lain udang galah, udang putih, udang vanamei, dan udang windu. "Jenis udang yang dapat diterima di masyarakat adalah udang windu karena dari segi harga tetap stabil dan teknologi pembudidayaannya telah banyak dikuasai masyarakat serta rasa dagingnya nikmat," kata Kepala Balai Karangtina Klas I Juanda, Surabaya, Drs. Burhaidin, S.Pi., M.P.,dalam ujian promosi terbuka untuk memperoleh gelar doktor di Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Selasa (21/9).
Tingkat produksi budidaya udang windu secara nasional mengalami penurunan menjadi 70 ribu ton per tahun. Tahun ini, pemerintah menargetkan produksi udang nasional mencapai 699.000 ton, naik hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya sebesar 348.100 ton.
Penurunan produksi udang windu ini, menurut Nurhaidin, disebabkan oleh serangan penyakit pada udang terutama white spot syndrome virus (WSSV). Walaupun secara teknis telah dilakukan sesuai dengan persyaratan standar pada kegiatan pembenihan, kematian benih udang yang disebabkan oleh serangan WSSV masih cukup tinggi, yakni mencapai 60-70 persen. "Virus penyebab WSSV merupakan virus eksotik yang tetap bersifat infektif meskipun dalam kondisi beku. Penularan penyakit ini berasal dari spesies udang impor terhadap spesies udang lokal yang dapat terjadi apabila virus dapat beradapatasi pada inang baru," kata lulusan program master FKH ini.
Deteksi adanya infeksi WSSV ini, kata Nurhaidin, diharuskan menggunakan metoda yang sensitif dan akurat dalam manajemen kesehatan satwa akuatik. Di antara metoda yang telah dikembangkan oleh para ahli itu, yakni metoda berbasis DNA seperti polymerase chain reaction (PCR) yang dianggap paling tepat untuk diagnosis dan deteksi cepat penyakit viral pada udang dan moluska. "Saat ini, teknologi berbasis DNA, terutama PCR, telah diaplikasikan secara luas di bidang akuakultur. Meskipun sangat potensial, tetapi penggunaan teknologi diagnostik berbasis DNA secara rutin tetap mempunyai beberapa masalah karena sensitivitas yang tinggi mengakibatkan uji tidak dapat membedakan antara patogen yang hidup dengan yang mati dan akibat infeksi atau kontaminasi," imbuhnya.
Berdasarkan penelitian Nurhaidin terhadap 75 ekor udang windu dari tambak udang windu di beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan, seperti Maros, Pangkep, Pinrang, Barru, Takalar, Majene dan Bonne, serta Makassar, diketahui deteksi WSSV pada udang windu dengan menggunakan metoda PCR cukup efektif meski diketahui tingkat sensitivitas dan spesifikasi masih relatif rendah. "Tingkat sensitivitas dan spesifisitasnya, 72% dan 66%," terangnya. Untuk mengatasi hal itu, diperlukan pengetahuan tentang faktor-faktor yang harus diperhatikan dan dihindari sehingga uji PCR yang akan diaplikasikan memiliki akurasi diagnostik yang tinggi terkait dengan gejala klinis dan lesi patologis, waktu pengambilan sampel, dan kesalahan human error.
Nurhaidin menjelaskan udang windu yang terjangkiti WSSV menunjukkan gejala bintik-bintik berwarna keputihan berdiameter 1 cm pada permukaan eksosskeleton dan keseluruhan tubuh udang berwarna merah jambu hingga merah kecoklatan. (Humas UGM/Gusti Grehenson)
 Infeksi Virus
Intensitas serangan virus white spot pada udang windu baik pada stadia post larva (PL) dan pemeliharaan umur 1  – 2 bulan di tambak pembesaran  menunjukkan  adanya tingkatan infeksi. Hasil deteksi pada sampel udang putih liar (P. indicus), kepiting (Scylla serrata) dan udang  rebon  (Metapenaeus  spp.)  yang  diambil  dari  18  lokasi  tambak  udang  di  India, sebanyak 23 % positif WSSV (Vaseeharan et al. 2003) setelah uji Nested PCR.
Tidak diperoleh pita DNA WSSV dari produk amplifikasi pertama (one step PCR), hal ini menunjukkan metode ini tidak mampu mendeteksi keberadaan virus dalam konsentrasi rendah. Elektroforegram produk Nested PCR pada sampel udang windu (PL40, umur pemeliharaan 2 bulan), sampel  vaname  (PL12)  dan  udang  jembret  sebagai  vektor  virus mendeteksi keberadaan WSSV pada sampel tersebut Metode Nested PCR ini lebih sensisitf mendeteksi WSSV pada awal infeksi. Primer kedua (WSSV-F2 dan WSSV-R2) menghasilkan amplikon dari fragmen WSSV berukuran 296 bp (Gambar 2, sumur ke-6 sampei ke-11) sebagai hasil kopi yang didasarkan urutan fragmen yang sama pada bagian internal fragmen WSSV yang telah diamplifikasi pasangan primer pertama (WSSV-F1 dan WSSV-R1) (Hossain et al. 2001). Satu pita DNA WSSV (296 bp) yang muncul tersebut mengindikasikan tingkat infeksinya tergolong ringan pada sampel windu PL40, windu umur 2 bulan, vaname PL12  dan udang jembret dengan uji Nested PCR (Manivannan et al. 2002).
Ukuran fragmen WSSV (296 bp) yang terdeteksi dari hasil penelitian ini, tidak jauh berbeda dengan hasil yang diperoleh Vaseeharan et al. (2003), bahwa produk amplifikasi dari sampel PL dan yuwana udang windu (P. monodon) yang terinfeksi WSSV berukuran 294 bp. Hasil yang sama juga diperoleh dari penelitian Sritunyalucksana et al. 2006), untuk pita WSSV pada stadia PL udang yang terinfeksi ringan pada posisi 296 bp. Berdasarkan hal ini, maka sampel udang windu (PL40   dan umur pemeliharaan 2 bulan) serta udang vaname (Litopenaeus vannamei) asal Karangsong dan Balongan  positif  terinfeksi WSSV  dengan tingkatan ringan.
Udang jembret (rebon) sebagai vektor virus positif terinfeksi WSSV (296 bp) dengan tingkatan ringan (Gambar 2, sumur ke-9 dan ke-10). Hasil ini mengindikasikan bahwa sumber penularan penyakit bintik putih pada udang windu, udang vaname pada tingkatan stadia tersebut, salah satunya berasal dari udang jembret yang telah menyebar ke wilayah perairan yang menghubungkan tambak Karangsong dan Balongan Indramayu. Hossain et al. (2001) juga mendeteksi keberadaan WSSV (310 bp) pada udang rebon (Metapenaeus dobsoni) sebagai vektor virus menggunakan Nested PCR. Disamping itu, nauplii Artemia sebagai makanan alami udang windu dan vaname yang umum digunakan pada panti pembenihan udang ternyata merupakan agen penular penyakit WSSV. Hasil uji Nested PCR pada sampel nauplii  Artemia  positif  WSSV dengan  ukuran  fragmen sekitar 296  bp  menggunakan pasangan primer 146 F2 (5’-GTAACTGCCCCTTCCATCTCCA-3’)dan primer 146 R2 (5’- TACGGCAGCTGCTGCACCTTGT-3’) (Chang et al. 2002). 
Penyakit white spot akan berpengaruh pada kualitas udang yang akan dihasilkan sehingga jika tidak segera dilakukan pemanenan, maka jika terlambat melakukan pemanenan dikhawatirkan kualitas udang secara keseluruhan akan turun pada kualitas yang lebih rendah, sehingga akan berpengaruh pada tingkat harga jual dan secara tidak langsung berpengaruh pula pada perolehan finansial yang akan didapat.

Senin, 14 Juli 2014

MANFAAT LACTOBACILLUS PLANTARUM

Bakteri Lactobacillus plantarum adalah bakteri asam laktat dari famili Lactobacilliceae  dan  genus  Lactobacillus.  Bakteri ini  bersifat  Gram  positif,  non motil, dan berukuran 0,6-0,8 μm x 1,2-6,0 μm. Bakteri ini memiliki sifat antagonis terhadap mikroorganisme penyebab kerusakan makanan seperti Staphylococcus aureus, Salmonella, dan Gram negatif (Buckle et al., 1987). Lactobacillus plantarum bersifat toleran terhadap garam, memproduksi asam dengan cepat dan memiliki pH ultimat 5,3 hingga 5,6 (Buckle et al., 1987).
Pengolahan pangan dan  pakan menggunakan  BAL adalah teknologi  yang telah ada sejak dulu yang dapat meningkatkan kandungan obat dan anti penyakit serta mencegah kebusukan dan perjangkitan penyakit yang disebabkan oleh bakteri patogen (Elegado et al., 2004). Bakteri L. plantarum umumnya lebih tahan terhadap keadaan asam dan oleh karenanya menjadi lebih banyak terdapat pada tahapan terakhir dari fermentasi tipe asam laktat. Bakteri ini sering digunakan dalam fermentasi susu, sayuran, dan daging (sosis). Fermentasi dari L. plantarum bersifat homofermentatif sehingga tidak menghasilkan  gas  (Buckle  et al., 1987). Bakteri Lactobacillus   plantarum   terutama   berguna   untuk   pembentukan   asam   laktat, penghasil hidrogen peroksida tertinggi dibandingkan bakteri asam laktat lainnya dan juga menghasilkan bakteriosin yang merupakan senyawa protein yang bersifat bakterisidal (James et al., 1992). Lactobacillus plantarum dapat memproduksi bakteriosin yang merupakan bakterisidal bagi sel sensitif dan dapat menyebabkan kematian sel dengan cepat walaupun pada konsentrasi rendah. Bakteriosin yang berasal dari L. plantarum dapat menghambat Staphylococcus aureus dan bakteri Gram negatif (Branen dan Davidson, 1993). L. plantarum mempunyai kemampuan untuk menghasilkan bakteriosin  yang berfungsi  sebagai zat antibiotik  (Jenie dan Rini, 1995).
Lactobacillus plantarum 2C12 merupakan isolat indigenus yang diisolasi dari daging sapi lokal Indonesia. Arief et al. (2008) melaporkan bahwa suatu senyawa antimikroba diproduksi oleh bakteri asam laktat Lactobacillus plantarum 2C12 yang diisolasi dari daging sapi lokal. Senyawa antimikroba tersebut dapat menghambat pertumbuhan   bakteri   patogen   Escherichia   coli,   Salmonella   typhimurium   dan 3 Staphylococcus aureus. Senyawa antimikroba yang diproduksi oleh Lactobacillus sp. 2C12 mengandung bakteriosin. Bakteriosin merupakan senyawa protein (umumnya berupa peptida) yang bersifat bakterisidal terhadap mikroorganisme (bakteri) yang ditinjau dari segi filogeniknya (genetiknya) berdekatan dengan mikroorganisme penghasil bakteriosin tersebut. Bakteriosin menurut Klaenhammer (1998) adalah protein atau peptida yang disintesa melalui ribosom yang dapat menghambat atau membunuh bakteri lain.  Saat ini  penggunaan  bakteri  asam  laktat  sebagai  penghasil  bakteriosin  di  bidang peternakan semakin bertambah luas, diantaranya sebagai biopreservatif. Produksi bakteriosin juga dapat menghambat perkembangan patogen yang mempunyai kekerabatan           dekat   dengan            bakteri penghasil         bakteriosin       (Wiryawan dan Tjakradidjaja, 2001).
Beberapa bakteriosin dari bakteri asam laktat antara lain plantaricin A dari Lactobacillus plantarum (Nissen-Meyer et al., 1993), gassericin A dari Lactobacillus LA39 gasseri (Muriana dan Klaenhammer, 1991) dan plantaricin-149 dari Lactobacillus plantarum KTP 149 (Kato et al., 1994) yang telah terdeteksi, dimurnikan dan dikarakterisasi. Matsuaki et al. (1996) menyatakan produksi bakteriosin dipengaruhi oleh tingkat sumber karbon, nitrogen, dan phosfat yag terdapat dalam media. Sumber karbohidrat yang berbeda menghasilkan bakteriosin yang berbeda pula. Arief et al. (2008) menyatakan bahwa suatu senyawa antimikroba diproduksi oleh bakteri asam laktat Lactobacillus sp. 2C12 yang diisolasi dari daging sapi lokal. Senyawa antimikroba tersebut dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen Escherichia coli, Salmonella typhimurium dan Staphylococcus aureus. Senyawa antimikroba  yang diproduksi oleh  Lactobacillus sp. 2C12 mengandung bakteriosin. Berdasarkan hasil identifikasi, bakteriosin yang diproduksinya disebut plantaricin.  Menurut  Widiasih  (2008),  Lactobacillus  plantarum  2C12  berbentuk bulat, susunan tunggal maupun rantai pendek. Bakteriosin yang diproduksi oleh Lactobacillus plantarum dikenal dengan nama plantaricin (Omar et al., 2008).
Karakteristik dari bakteriosin adalah : a) mempunyai spectrum aktivitas yang relatif  sempit,  terpusat  di  sekitar  spesies  penghasil  bakteriosin  (filogenik  atau genetiknya cukup dekat), b) senyawa aktifnya terutama terdiri atas protein  yang disintesis di ribosom, c) mempunyai reseptor pada sel sasarannya, d) gen penyandi penentu terdapat pada plasmid, yang berperan dalam produksi maupun imunitasnya (Tagg et al., 1976). Karakter lainnya dari bakteriosin adalah bersifat bakterisidal dan tahan panas (Jack et al., 1995).
Bakteriosin  yang  diproduksi  oleh  bakteri  asam  laktat  (BAL)  digunakan sebagai pengawet makanan dan berpotensi sebagai pengganti antibiotik (Reenen et al., 2006). Bakteriosin asal bakteri asam laktat dibagi ke dalam empat kelas yang berbeda  yaitu  kelas  I  adalah  antibiotik,  kelas  II  adalah  peptide  berukuran  kecil sifatnya relatif stabil terhadap panas dan tidak mengandung lanthionin pada peptidanya, kelas III adalah peptide berukuran besar yang labil terhadap panas, dan kelas IV merupakan bakteriosin kompleks mengandung lipida atau separuh karbohidrat. Kelas I dan II merupakan kelas-kelas utama dari bakteriosin mempunyai potensi untuk digunakan di dalam aplikasi komersial.
Penggunaan bakteriosin lebih sering digunakan sebagai bahan pengawet makanan. Penggunaan     bakteriosin            sebagai            biopreservatif  memiliki beberapa keuntungan, yaitu (1) bakteriosin bukan bahan toksik dan mudah mengalami biodegradasi oleh enzim proteolitik karena merupakan senyawa protein, (2) tidak membahayakan mikroflora usus karena mudah dicerna oleh enzim-enzim saluran pencernaan, (3) aman bagi lingkungan dan dapat mengurangi penggunaan bahan kimia yang selama ini digunakan  sebagai bahan pengawet makanan, dan (4) dapat digunakan dalam kultur bakteri unggul yang mampu menghasilkan senyawa antimikroba terhadap bakteri patogen atau dapat digunakan dalam bentuk senyawa antimikrobial yang telah dimurnikan (Nurliana, 1997).
Bakteriosin asal bakteri asam laktat merupakan peptida yang disintesis di ribosom yang memperlihatkan aktivitas antimikrob, pada banyak kasus mampu me- lawan bakteri yang biasanya berkerabat dekat dengan mikroorganisme penghasilnya. Beberapa bakteriosin yang berasal dari bakteri Gram positif memperlihatkan akti- vitas bakterisidal dengan spektra penghambat yang tidak luas dan sangat berguna sebagai agen antibakterial untuk berbagai aplikasi praktik. Bakteriosin dari bakteri asam laktat telah menjadi perhatian penting karena potensinya untuk digunakan sebagai bahan tambahan makanan yang aman sebagai preservatif alami dan non-toxic, serta mencegah terjadinya kebusukan pangan oleh bakteri patogen gram positif (Hata et al., 2010). Bakteriosin berakumulasi di dalam media kultur selama fase pertumbuhan         eksponensial    hingga fase      pertumbuhan   stasioner (Vuyst dan Vandamme, 1994). Produksi bakteriosin dipengaruhi oleh tipe dan level karbon, sumber  nitrogen  dan  fosfat,  surfaktan  kation  dan  penghambat  (Savadogo  et  al.,2006).
Mekanisme Aktivitas Bakteriosin
Kemampuan suatu senyawa antimikrob dalam menghambat pertumbuhan mikrob merupakan salah satu kriteria yang penting dalam pemilihan suatu senyawa antimikrob yang berfungsi sebagai bahan pengawet. Antimikrob menurut Gan dan Setiabudi (1987), adalah zat yang dapat menghambat pertumbuhan mikrob dan digunakan untuk pengobatan infeksi mikrob pada hewan dan manusia. Antimikrob harus mempunyai toksisitas setinggi mungkin terhadap bakteri target, tetapi relatif tidak toksik terhadap induk semangnya.
Gonzales et al. (1996) menyatakan bahwa berdasarkan sifat toksisitas selektifnya antimikrob dibedakan menjadi dua bagian, yaitu: (i) antimikrob yang bersifat      bakteriostatik  yaitu antimikrob yang menghalangi    pertumbuhan mikroorganisme, tetapi tidak mematikan organisme itu, dan (ii) antimikrob yang bersifat bakterisidal yaitu antimikrob yang menyebabkan kematian dan lisisnya mikroorganisme. Sifat bakteriostatik akan menghambat pertumbuhan dan replikasi mikroorganisme, namun tidak menyebabkan kematian. Sifat bakterisidal berhubung- an dengan kemampuan senyawa untuk menyebabkan lisis sel mikroorganisme. Beberapa mikroba yang bersifat bakteriostatik dapat berubah menjadi bakteriosidal bila       digunakan       digunakan       dalam  dosis    tinggi   (Gan dan Setiabudi,    1987). Dwidjoseputro (1990) membedakan antimikrob berdasarkan efektivitas kerjanya terhadap  berbagai  mikroorganisme,  yaitu:  (i)  antimikrob  yang  berspektrum  luas, yaitu antimikrob yang efektif terhadap berbagai jenis mikroorganisme, dan (ii) antimikrob yang berspektrum sempit, yaitu antimikrob yang efektif terhadap mikroorganisme tertentu.
Mekanisme penghambatan pertumbuhan mikroba oleh bakteriosin adalah : (1) perusakan dinding sel sehingga mengakibatkan lisis atau menghambat pertumbuhan dinding sel pada sel yang sedang tumbuh; (2) mengubah permeabilitas membran sitoplasma yang menyebabkan kebocoran nutrien di dalam dinding sel; (3) denaturasi protein sel; (4) perusakan sistem metobolisme dalam sel dengan  cara menghambat kerja enzim intraseluler (Pelczar dan Chan, 1986). Secara umum mekanisme  aktivitas  suatu  senyawa  antimikrob  dapat  dilakukan  oleh  senyawa bioaktif melalui mekanisme yang berbeda, yaitu: (i) mengganggu atau merusak komponen   penyusun   dinding   sel,            (ii)   bereaksi   dengan   membran       sel yang menyebabkan   peningkatan   permeabilitas   dan   kehilangan   komponen   penyusun seluler, (iii) inaktivasi enzim-enzim esensial, dan (iv) destruksi atau inaktivasi fungsi
dari material genetik (Branen dan Davidson, 1993).
Penggunaan Bakteriosin
Bakteriosin yang dihasilkan oleh BAL menyediakan beberapa senyawa yang dapat digunakan dalam pengawetan makanan, karena beberapa alasan .(i) Diakui sebagai zat yang aman. (ii) Tidak aktif dan tidak beracun pada sel eukariotik, (iii) dapat dilemahkan oleh protease pencernaan sehingga memiliki pengaruh yang kecil pada mikrobiota usus, (iv) toleran terhadap pH dan panas, (v) memiliki antimikroba dengan spektrum relatif luas, terhadap bakteri patogen dan pembusuk makanan, dan (vi) aktivitas bersifat bakterisidal, bekerja pada membran sitoplasma bakteri: tidak ada resistensi silang dengan antibiotik (Galvez et al., 2007).
Lactobacillus plantarum memiliki efek penurunan pada hypercholestero- lemia dan efeknya akan meningkat bila dicampur dengan jenis BAL lain (Hanaa et al., 2009). Bakteriosin dapat ditambahkan ke dalam makanan dalam bentuk kultur terkonsentrasi sebagai bahan pengawet makanan. Penambahan starter kultur bakteriosinogenik dapat dilakukan secara in situ sebagai pelindung tambahan. Bakteriosin immobil juga dapat digunakan untuk pengembangan kemasan makanan bioaktif (Galvez et al., 2007). Bakteri berkumpul dan menggabungkan diri untuk membentuk nisin film selulosa yang layak dikembangkan menjadi bahan kemasan aktif. Nisin film yang dikandung bakteri selulosa menunjukkan efektivitas dalam pengendalian  L.  monocytogenes  dan  mengurangi  total  mikroba  pada  permukaan sosis. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan aktif film bakteri selulosa akan men- jadi metode yang menjanjikan untuk meningkatkan keamanan dan memperpanjang umur simpan dari daging olahan (Nguyen et al., 2008).
Bakteri Patogen
Bakteri yang tumbuh dalam bahan pangan terbagi menjadi bakteri pembusuk yang dapat menyebabkan kerusakan makanan dan bakteri patogen penyebab penyakit pada manusia. Jumlah bakteri pembusuk umumnya lebih dominan dibandingkan dengan bakteri patogen (Fardiaz, 1992). Penyakit yang ditularkan melalui makanan hanya berhubungan dengan sejumlah kecil bakteri patogenik tertentu. Makanan atau bahan pangan tersebut digunakan sebagai substrat pertumbuhan bakteri patogen.
Bakteri patogen menyebabkan penyakit pada manusia melalui dua cara yaitu infeksi dalam kasus ini bakteri patogen berkembang biak dalam alat pencernaan manusia  dan  menghasilkan  racun  sedangkan     intoksikasi  adalah  bakteri  patogen menghasilkan racun dalam bahan pangan     dan bahan pangan tersebut dikonsumsi oleh konsumen (Buckle et al.,1987). Mikroba yang dapat menyebabkan keracunan dan infeksi saat ikut terkonsumsi disebut mikroba patogen. Beberapa bakteri yang merupakan bakteri patogen diantaranya adalah famili Enterobacteriaceae yaitu Salmonella, Escherichia. Bakteri patogen lainnya adalah Staphylococcus aureus, Bacillus cereus, dan Pseudomonas yang merupakan jenis bakteri penyebab kebusuk- an pada makanan atau bakteri pembusuk (Fardiaz, 1989).
Salmonella spp merupakan bakteri yang menjadi indikator keamanan pangan (food  safety)  karena  keberadaannya  dalam  bahan  pangan  dapat  menyebabkan penyakit pada manusia. Bakteri dari jenis Salmonella merupakan bakteri penyebab infeksi. Jika tertelan oleh manusia dan masuk ke dalam tubuh dapat menimbulkan gejala salmonelosis, demam enterik, demam tifoid, dan demam paratifoid, serta infeksi lokal (Fardiaz, 1992). Menurut Dell-Potillo (2000), bakteri ini merupakan salah satu bakteri yang paling umum menyebabkan penyakit keracunan makanan di negara  maju  dan  negara  berkembang.  Salmonella  suatu  bakteri  gram  negatif berbentuk batang melekat dan menyerang sel usus. Salmonella mempunyai tipe metabolisme yang bersifat fakultatif anaerob.  Infeksi usus oleh Salmonella berakibat demam tifus enteric. Bakteri ini masuk ke dalam aliran darah  melalui  usus dan dialirkan ke seluruh tubuh. Salmonella merupakan kelompok bakteri patogen yang sering ditemukan pada produk pangan (Fardiaz, 1992). Berdasarkan tingkat bahayanya, Salmonella berada pada kelompok bahaya sedang,dengan penyebaran yang  cepat.  Pemanasan  merupakan  cara  yang  paling  banyak  dilakukan  untuk membunuh            Salmonella.      Alternatif        lainnya adalah  dengan            mengatur pH, menambahkan bahan-bahan kimia, penyimpanan pada suhu rendah dan radiasi. Pemanasan  yang direkomendasikan untuk membunuh Salmonella spp. Umumnya pemanasan dilakukan selama 12 menit pada suhu 66 °C atau selama 78-83 menit pada suhu 60 °C (Fardiaz, 1992).
Escherichia coli merupakan flora normal yang hidup dalam saluran pencernaan manusia dan hewan. Bakteri patogen lain adalah Staphylococcus aureus. Ada enam macam enteroksin yang diproduksi Staphylococcus aureus di dalam makanan dan merupakan penyebab keracunan stafilokokus (intoksikasi) yaitu enteroksin A, B, C1, C2, D dan enteroksin E (Fardiaz, 1989).
Bakteri dibedakan menjadi bakteri Gram positif dan Gram negatif berdasarkan susunan dinding selnya yang mengakibatkan perbedaan dalam sifat-sifat pewarnaannya (Fardiaz, 1989). Dinding sel bakteri Gram positif  90% dari dinding selnya terdiri atas lapisan peptidoglikan, sedangkan lapisan tipis lainnya adalah asam teikoat. Dinding sel bakteri Gram negatif, hanya 5%-20% terdiri atas lapisan peptidoglikan, sedangkan lapisan lainnya terdiri atas protein, lipopolisakarida dan lipoprotein (Fardiaz, 1989). Staphylococcus aureus dan Bacillus cereus  merupakan contoh bakteri Gram positif sedangkan Salmonella, Escherichia coli merupakan contoh bakteri Gram negatif (Buckle et al., 1987).

Minggu, 08 Juni 2014

CARA MENCANGKOK KARANG LAUT

Waktu di dasar laut berkedalaman 5—6 m. Sebuah tang aluminium memotong-motong cabang Acropora kimbeensis. Hasil potongan dibawa ke daratan untuk ditumbuhkan di dalam mangkuk berisi semen. Tujuh bulan kemudian karang siap dipanen. Sebelum ditanam, potongan-potongan karang itu dibersihkan dari lendir dalam bak berukuran 10 m x 1 m x 50 cm. Selanjutnya setiap potongan ditancapkan di dalam mangkuk terbuat dari campuran semen dan pasir dengan perbandingan 1:4. Sebagai perekat dipakai semen. Karang yang akan ditumbuhkan itu didiamkan dalam bak air laut bersalinitas 33 ppt selama 2—3 hari. Selanjutnya mereka diletakkan di mangkuk-mangkuk berisi potongan karang dalam anjang-anjang yang terbuat dari kayu meranti. Agar kuat, tiap mangkuk dilekatkan ke tali senar yang terpasang di kanan kiri baris anjang-anjang. Proses itu belum berakhir. Anjang-anjang lantas dipindahkan ke laut dan diletakkan dalam meja persegi panjang berpondasi beton. Selama 30 hari karang-karang itu tampak stres. Itu terlihat dari lapisan kerak atau encrusting yang terbentuk setebal 1—2 cm di atas substrat. Namun, dari lapisan kerak itu bermunculan polip-polip yang akan membentuk cabang karang baru. Dalam waktu 7 bulan karang sudah membentuk lebih dari 4 cabang dan siap dipanen. Panen dilakukan dengan cara mengangkat anjang-anjang ke daratan, lalu ditaruh dalam bak 10 m x 1 m x 50 cm. Sebelum dikemas, substrat yang tertutup lumut dan alga digosok. Setelah bersih, dasar substrat diikatkan ke gabus agar mengapung saat dimasukkan ke dalam kantong plastik berisi air hasil aerasi dengan skimmer. Oksigen ditambahkan ke dalam kantong plastik agar karang dapat bertahan hingga 48 jam perjalanan. Setelah itu plastik diikat dan dimasukkan dalam boks berkapasitas 15 kantong yang diberi lubang di kanan-kirinya. Supaya tetap segar, di atas plastik diberi bongkahan es lalu ditutup selembar plastik. Boks styrofoam itu dimasukkan dalam boks karton berlapis plastik. Karang-karang hasil budidaya pun siap dikirim ke negara tujuan.
Berpolip kecil
Itulah proses transplantasi karang yang rutin dilakukan PT Purawisata Baruna, unit koral, Grup Pura, di Pulau Sambangan, Kepulauan Karimunjawa, sejak 2002. Sebanyak 42.000 karang hasil budidaya diekspor ke Eropa (Belanda, Jerman, Perancis, Italia, dan Spanyol), Amerika Serikat, dan Asia (Hongkong, China, Singapura, dan Arab). Jumlah  itu sesuai dengan izin ekspor yang tertuang dalam SK Dirjen PHKA nomor SK 53/IV/IV-KKH/2007 tentang Penetapan Pembagian Kuota Ekspor Tumbuhan dan Satwa Liar 2007.
Bukan tanpa alasan perusahaan yang dikomandoi Jacobus Busono itu giat melakukan transplantasi. “Keragaman karang di sini tak kalah dengan Kepulauan Seribu atau Rajaampat di Papua. Namun, bila terus diambil maka akan punah,” kata Dwi Murtono, ST, pimpinan unit. Adanya transplantasi membuat ketersediaan karang melimpah dan tidak habis meski diekspor. Dampaknya, kehidupan terumbu karang tetap berlangsung harmonis. Yang ditransplantasi adalah jenis small polyp stony (karang batu berpolip kecil, red), seperti genus acropora, montipora, pocillopora, dan hydnopora. “Hampir 90% jenis-jenis itu karena memang pertumbuhannya cepat, terutama yang berbentuk cabang dan foliosa (daun),” kata Dwi. Sisanya jenis large polyp stony yang kebanyakan berbentuk massive (keras) dan submassive. “Masih dalam percobaan,” tambahnya. Itu lantaran bentuk massive dan submassive bulat dan keras bak batu sehingga sulit dipecah. Ditambah lagi pertumbuhannya lambat. “Setahun hitungannya milimeter,” tutur Dwi.
Achantastrea
Tingkat keberhasilan pencangkokan karang jenis-jenis itu mencapai 80%. Keberhasilan itu berkat kerja sama dengan zoocanthellae yang hidup dalam polip karang. “Zooxanthellae membantu penyerapan matahari untuk proses fotosintesis,” ujar Wisnu Widjatmoko, MSc. Menurut lulusan Biologi Karang Universitas Ryukios, Jepang itu matahari dibutuhkan karang sebanyak 95% untuk menghasilkan energi. Dari 80% yang berhasil dicangkok, 20%-nya dikembalikan ke alam—reseeding. Tujuannya untuk pelestarian terumbu karang. Karang yang dilepas ke alam ditaruh di dalam beton berukuran 40 cm x 40 cm. Letaknya berdekatan dengan karang yang tumbuh di alam. Keberhasilan mencangkok bukan berarti tanpa kematian. Sebanyak 20% karang mati gara-gara hama dan sedimentasi yang menyerang saat dipindahkan ke laut. Hama yang kerap mengganggu adalah Achantastrea plantii. Keluarga karang yang memiliki ratusan kaki itu memakan jaringan karang di dekatnya. Achantastrea itu bermunculan ketika bahan organik dan populasi karang padat. “Saat jumlah achantastrea melimpah, dalam sehari semua karang yang ditransplansi mati,” ujar Dwi. Hama lain adalah pinthaster yang berbentuk seperti bola. Ia sama ganasnya dengan achantastrea yang memakan polip karang. Selain jenis karang lain yang menjadi predator, alga pun mengganggu kehidupan karang. Contohnya alga ulfa dan spadina yang muncul setiap Agustus -Oktober. Keduanya menempel di substrat lalu menjalar sampai ke polip. Akibatnya tubuh karang tertutup dan tak dapat menyerap matahari.
Sedimentasi
Peletakkan anjang-anjang yang salah menjadi ancaman serius keberhasilan tranplantasi. Garagara salah pemilihan tempat, PT Purawisata Baruna harus menanggung kematian transplantasi sebanyak 50%. Itu akibat kesalahan meletakkan 20 anjang-anjang. Di kedua tempat itu arus laut kurang sehingga alga yang menjadi makanan karang menjadi sedikit. Selain arus, sedimentasi menjadi ancaman lain ketika salah meletakkan anjang-anjang. Saat upwelling (arus dari dasar laut naik ke atas, red) materi lumpur dan pasir akan terseret ombak. Laut menjadi keruh, materi menutupi polip, dan sinar matahari tidak dapat diserap. Akibatnya biota mati. Kejadian itu pernah menimpa pantai utara Jawa. Dari muara sungai limbah pabrik terbawa ke laut saat banjir. Dalam kondisi itu transplantasi karang akan mengalami kegagalan. Kekeruhan air dapat diukur dengan memakai tutup kaleng yang dicat hitam atau putih. “Warna apa saja bisa asal kontras dengan warna laut,” kata Arif Budiwibowo SPi, kepala operasional PT Purawisata Baruna. Saat tutup kaleng sudah tidak terlihat pada kedalaman 30 cm tandanya air laut keruh. Artinya sinar matahari tidak dapat diserap zooxanthellae karena terhalang oleh materi-materi sedimentasi. Untuk mengatasinya Arif merelokasi anjanganjang ke belakang pulau yang berjarak 200 m dari bibir pantai. Lokasi itu dipilih karena berarus sedang, tidak terlalu deras atau lemah. Arus sedang cocok untuk karang-karang dangkal seperti jenis-jenis yang dibudidayakan perusahaan yang berpusat di Jepara itu. Tak hanya itu saja, lokasi harus datar agar anjanganjang kuat saat diterjang arus. Hal lain, tempat anjang-anjang harus terhindar dari terjangan angin barat atau timur.
Dalam akurium
Proses transplantasi dapat juga dilakukan dalam akuarium. Seperti uji coba yang dilakukan Dr Unggul Aktani dan Center for Coastal and Marine Resources Studies Institut Pertanian Bogor pada 2004. Saat itu 5 cabang A. yongei dilekatkan dalam substrat campuran pasir dan semen, kemudian ditata dalam anjang-anjang. Anjanganjang tidak perlu dibawa ke laut, melainkan tetap dalam akuarium. “Yang terpenting kualitas air,” ujar Unggul. Agar sesuai dengan kondisi di laut, air yang dipakai
bersalinitas 30—34 ppt. Ketika salinitas naik lantaran terjadi penguapan, air dalam akuraium perlu ditambah air tawar. “Sampai nilainya kembali normal,” tambahnya. Untuk mengukur salinitas dipakai salinometer. Selain kualitas air, ketersediaan pakan artemia dan udang kecil menentukan keberhasilan pertumbuhan karang. Pakan itu diberi setiap hari. Sisa pakan dan kotoran diatasi dengan filter mekanis memakai spon. “Kotoran akan tersedot secara otomatis. Namun, filter secara rutin harus dibersihkan,” tutur alumnus Ekologi Terumbu Karang Universitas Bremen Jerman itu. Serangkaian perlakukan itu meningkatkan keberhasilan transplantasi dalam akuarium mencapai 70%. Sisanya, 30%, mati. Penyebabnya kualitas air dan perubahan suhu yang tajam. Di Bogor—tempat percobaan—suhu malam hari turun. Suhu akuarium pun ikut turun menjadi 24°C. Perlakuan serupa juga diterapkan Daniel Knop, akuaris asal Jerman. Beragam jenis acropora ditransplantasinya dalam akuarium. Hasilnya dipakai sebagai ornamen akuarium laut. Itulah beragam cara transplantasi. Hasil transplantasi, selain dikembalikan ke alam sebagai wujud pelestarian terumbu karang juga dapat di ekspor ke mancanegara.

Minggu, 11 Mei 2014

MENGEMBANGKAN KONSEP PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA BAHARI

Indonesia merupakan negara kepuluan yang terdiri dari ribuan pulau dan di batasi dengan laut, keindahan alam bahari sangat luar biasa. Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari lebih 17.000 pulau dan memiliki panjang garis pantai 81.000 km yang merupakan terpanjang kedua di dunia setelah Kanada 81.000 km. Pengmbangan potensi alam masih sangat terbuka dan masih banyak langkah yang bisa di lakukan.
Sepanjang garis pantai tersebut terdapat wilayah pesisir yang relatif sempit namun mempunyai sumber daya pesisir yang kaya dan sangat rentan mengalami kerusakan jika pemanfaatannya   kurang memperhatikan kaidah-kaidah pengelolaan yang lestari.
Wilayah pesisir sebagai kawasan peralihan yang menghubungkan ekosistem darat dan ekosistem laut terletak antara batas sepandan dan ke arah darat sejauh pasang tertinggi dan ke arah laut sejauh 12 mil laut dari garis surut terendah sangat rentan terhadap kerusakan dan perubahan yang diakibatkan oleh berbagai aktivitas manusia di darat maupun di laut. 
Wilayah pesisir sebagai salah satu kekayaan dari sumber daya alam yang sangat penting bagi rakyat dan pembangunan nasional tersebut haruslah dikelola secara terpadu dan berkelanjutan serta optimal.
Kawasan pesisir adalah wilayah pesisir tertentu yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh pemerintah berdasarkan kriteria tertentu seperti karakter fisik, biologi, sosial dan ekonomi untuk dipertahankan keberadaannya sedangkan kawasan bahari adalah jenis pariwisata alternatif yang berkaitan dengan kelautan, baik di atas permukaan laut maupun kegiatan yang dilakukan di bawah permukaan laut.
Rencana pengembangan kawasan bahari harus dikaitkan dengan berbagai kepentingan yang mendasar, yaitu pemberdayaan masyarakat pesisir. Masyarakat pesisir adalah masyarakat yang memiliki banyak pengetahuan tentang kondisi obyektif wilayahnya, oleh Karena itu dalam pengembangan kawasan wisata bahari, senantiasa hendaknya di mulai pendekatan terhadap masyarakat setempat sebagai suatu model pendekatan perencanaan partisipatif yang menempatkan masyarakat pesisir memungkinkan saling berbagi, meningkatkan dan menganalisa pengetahuan mereka tentang bahari dan kehidupan pesisir, membuat rencana dan bertindak. 
Pembangunan yang berpusat pada masyarakat lebih menekankan pada pemberdayaan (empowerment), yang memandang potensi masyarakat sebagai sumber daya utama dalam pembangunan dan memandang kebersamaan sebagai tujuan yang akan dicapai dalam proses pembangunan. Masyarakat pesisir adalah termasuk masyarakat hukum adat yang hidup secara tradisional di dalam kawasan pesisir maupun di luar kawasan pasisir. Oleh karena itu dalam rangka pengelolaan kawasan wisata bahari maka prinsip dasar yang harus dikembangkan adalah: 
1.         Prinsip co-ownership yaitu bahwa kawasan wisata bahari adalah milik bersama untuk itu ada hak-hak masyarakat di dalamnya yang harus diakui namun juga perlindungan yang harus dilakukan bersama.
2.         Prinsip co-operation/co management yaitu bahwa kepemilikan bersama mengharuskan, pengelolaan pesisir untuk dilakukan bersama-sama seluruh komponen masyarakat (stakeholder) yang terdiri dari pemerintah, masyarakat dan organisasi non pemerintah (ORNOP) yang harus bekerja sama
3.         Prinsip co-responsibility yaitu bahwa keberadaan kawasan wisata bahari menjadi tanggung jawab bersama karena pengelolaan kawasan wisata bahari merupakan tujuan bersama
Ketiga prinsip tersebut dilaksanakan secara terpadu, sehingga fungsi kelestarian pesisir tercapai dengan melibatkan secara aktif peran serta masyarakat sekitar pesisir. Oleh karena itu agar masyarakat mampu berpartisipasi, maka perlu keberdayaan baik ekonomi, sosial dan pendidikan, untuk itu dibutuhkan peran pemerintah dalam memberdayakan masyarakat sekitar pesisir agar meningkatkan keseganteraannya melalui 6 prinsip pemberdayaan yaitu : 
1.         Modal masyarakat (social capital) merupakan kerjasama dan nilai-nilai yang disepakati 
2.         Infrastruktur dan pengembangan lembaga-lembaga kemasyarakatan informal yang berorientasi kepada kemajuan 
3.         Orientasi kepemilikan (asset orientation) yaitu pengembangan yang bertumpu pada penggalian kemampuan masyarakat sebagai model pengembangan 
4.         Kerjasama (collaboration) yaitu mengembangkan pola kerjasama yang tumbuh dari dalam 
5.         Visi dan tindakan strategis yaitu membangun visi, misi dan tindakan 
6.         Seni demokrasi, yaitu mengembangkan peran dan partisipatif yang tumbuh dari dalam 
2.         Tujuan dan Manfaat
1. Tujuan 
a.         Mengembangkan dan meningkatkan upaya memanfaatkan lingkungan alam pada umumnya dan lingkungan bahari pada khususnya sebagai sumber daya sosial dan ekonomi yang pengelolaannya tetap harus berwawasan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan
b.         Memberikan gambaran mengenai pengelolaan wisata bahari secara tepat dan profesional, sehingga akan mampu mengembangkan adanya tuntutan konservasi dan menjaga kelestarian alam dengan mengikutsertakan peran serta masyarakat setempat guna membantu kesejahteraan masyarakat
c.         Mengkoordinasikan peran pihak-pihak yang berminat mengembangkan kawasan wisata bahari, di lingkungan wilayah setempat yang menjadikan wilayah tersebut sebagai salah satu daerah tujuan wisata bahari dengan melalui pola pengelolaan dalam bentuk corporate management.
2. Manfaat 
a.         Upaya pemanfaatan optimal potensi wisata bahari yang sekaligus menyelamatkan lingkungan biofrafisik dan lingkungan sosial ekonomi dan budaya serta
melestarikan sumber daya alam bahari 
b.         Menciptakan insentif secara efektif bagi pengelolaan kawasan wisata bahari tanpa mengabaikan nilai-nilai utama konservasi melalui pemanfaatan sumber daya berkelanjutan. Seperti pengembangan ekowisata yang memperhatikan kepekaan lingkungan 
c.         Melindungi dan mendorong pemanfaatan sumber daya alam hayati yang sesuai dengan praktek-praktek budaya, tradisional, masyarakat pesisir yang cocok dengan persyaratan konservasi atau pemanfaatan secara berkelanjutan 
d.         Mendorong pertumbuhan kepekaan masyarakat pesisir akan makna dan arti penting kawasan wisata bahari sebagai bagian peningkatan sosial, ekonomi masyarakat yang dihasilkan dari pertumbuhan dan perkembangan kedatangan wisatawan dan usaha pariwisata
3. Sasaran 
a.         Terwujudnya pengembangan kawasan wisata bahari yang didukung oleh masyarakat pesisir
b.         Terwujudnya pengetahuan, wawasan, sikap dan keterampilan masyarakat pesisir dalam pengelolaan kawasan wisata bahari 
c.         Terciptanya penataan kawasan wisata bahari yang sesuai dengan zonasi peruntukan lahan, daya dukung lahan dan kepemilikan lahan
d.         Terwujudnya tata cara pengelolaan kawasan wisata bahari yang berdasarkan kepada managemen
pengelolaan yang tepat
e.         Terwujudnya Brand image kepariwisataan Kabupaten
Sukabumi
4. Konsep pengembangan kawasan wisata bahari
Masyarakat pesisir adalah masyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupannya di sepanjang hari dengan kehidupan yang dihasilkan oleh laut. Laut adalah tempat dimana mereka mengelola kehidupannya, mengembangkan kreativitas dan inovasi untuk mengoptimalkan potensi kelautan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari mereka dalam berperan serta baik dalam konservasi lingkungan, pemanfaatan lingkungan dan pengelolaan lingkungan. Pemanfaatan secara optimal terhadap potensi kelautan, tidak berarti melupakan faktor yang sangat penting bagi nilai pengembangan kawasan wisata bahari yang berkelanjutan, yaitu upaya perbaikan terhadap kawasan yang rusak dan keanekaragaman potensinya telah berkurang.
Pengembangan kawasan wisata bahari adalah satu bentuk pengelolaan kawasan wisata yang berupaya untuk memberikan manfaat terutama bagi upaya perlindungan dan pelestarian serta pemanfaatan potensi dan jasa lingkungan sumber daya kelautan. Di lain pihak masyarakat dapat merasakan manfaatnya secara langsung pada usaha pariwisata melalui terbukanya kesempatan kerja dan usaha yang pada gilirannya akan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat dan pemerintah.
5. Pendekatan pengembangan wisata bahari
a.         Pengembangan kawasan wisata bahari lebih diarahkan dan dipergunakan menuju upaya pengembangan kawasan wisata ramah lingkungan. Pengembangan kawasan wisata bahari harus menghindari pencemaran dan perusakan lingkungan hidup dan pemborosan sumber daya alam bahari
b.         Pengembangan kawasan wisata bahari perlu mengetengahkan faktor kewaspadaan terhadap dampak lingkungan menjadi sangat penting, terutama dari kunjungan wisatawan yang tidak terkendali guna memelihara keberlanjutan kualitas lingkungan hidup/sumber daya alam wisata tropika khususnya dan menjamin pembangunan (ekonomi) berkelanjutan.
c.         Analisis data potensi dan pemanfaatan sumber daya untuk mengidentifikasikan nilai-nilai yang berpengaruh terhadap kelangsungan pemeliharaan dan pengembangan sumber stakeholder cakupan identifikasi tersedia dan maupun untuk budi daya perairan, wisata pemukiman, bisnis rekreasi atau industri 
d.         Pengembangan kawasan wisata bahari memiliki keterkaitan luas dengan peran masyarakat pesisir, oleh karena itu dalam pengembangan kawasan wisata bahari dibutuhkan penentuan zonasi yang tepat dari setiap wilayah diperlukan untuk tidak menjadi benturan kepentingan antara zona pertumbuhan pemukiman dengan zonasi kawasan wisata bahari yang dikelola dan dimanfaatkan bagi kegiatan rekreasi 
e.         Pengembangan prasarana yang dapat mendorong pertumbuhan antar wilayah melalui sistem prioritas pengembangan kawasan wisata bahari berdasarkan tipe, potensi dan karakter alam yang dimiliki oleh masingmasing kawasan

Minggu, 13 April 2014

PENGGUNAAN PAKAN IKAN DENGAN FERMENTASI AMPAS TAHU

Tahu sebagai makan yang sangat umum dengan bahan baku kedekai, tahu tentu tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia, makanan ini merupakan lauk-pauk sehari-hari dan memiliki kandungan protein tinggi. Tahu terbuat dari kedelai yang diolah dengan cara direbus dan digiling, serta memiliki kandungan protein nabati yang cukup tinggi. Dan bagian kedelai yang tidak dapat diolah menjadi tahu disebut ampas tahu. Ampas tahu sering menjadi masalah di lingkungan industri pembuatan tahu karena ampas tahu ini merupakan limbah produksi. Walaupun dianggap limbah, ampas tahu dapat diolah menjadi makanan, masakan ataupun pakan bagi ikan lele. Khususnya, pengolahan ampas tahu menjadi pakan ikan lele menggunakan proses fermentasi sehingga dalam pakan ampas tahu mengandung alkohol. Kandungan alkohol dalam pakan ampas tahu berfungsi sebagai pengganti hormon untuk proses sexreversal, karena penggunaan hormon untuk proses sex reversal berdampak kurang baik pada pengkonsumsi ikan yang disexreversal tersebut.
Tahu sebagai lauk pauk dan makanan kecil yang bergizi sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Dengan memiliki kandungan protein yang tinggi tetapi pada ampas tahupun masih memiliki kegunaan yang cukup baik bagi ikan.
Kedelai merupakan bahan dasar pembuatan tahu. Kedelai yang digunakan dalam pembuatan tahu ini, tidak kesemua bagiannya dapat diolah menjadi tahu. Bagian kedelai yang tidak dapat diolah menjadi tahu, disebut ampas tahu. Di industri–industri tahu, ampas tahu dianggap limbah dan tidak memilliki nilai ekonomis, sehingga banyak sekali industri tahu yang membuang ampas tahu dsembarang tempat tanpa ada pengolahan lebih lanjut yang dapat meningkatkan harga jual ampas tahu. Hal inilah yang kemudian hari menimbulkan masalah sosial yang seakan susah untuk terselsaikan.
Padahal dengan melakukan pengolahan lebih lanjut, ampas tahu akan menjadi barang yang sangat berguna dan memiliki nilai ekonomis tinggi. Ampas tahu dapat diolah menjadi kerupuk ampas tahu maupun pakan buatan ikan yang berbahan dasar ampas tahu. Dengan kandungan protein yang cukup tinggi pada kedelai, jelas ampas tahu juga memiliki kandungan protein yang tinggi pula. Protein sangat dibutuhkan oleh tubuh untuk pertumbuhan, energi, dan lain–lain.
Pengolahan ampas tahu sebagai bahan dasar pakan buatan untuk ikan lele, sekarang ini sedang dikembangkan dan diterapkan pada budidaya lele, khususnya budidaya lele organik. Ampas tahu selain memiliki kandungan protein yang tinggi, juga harga bahan, biaya produksi, dan proses produksinya murah meriah. Menurut Setyono (2010;2), harga per kilogram ampas tahu ialah Rp. 500;- dan pembuatannya pun relatif mudah jika dibandingkan dengan pembuatan pakan sejenisnya.
Pembuatan pakan dari ampas tahu menggunakan proses fermentasi. Proses fermentasi ialah proses penguraian struktur bahan organik dan pengawetan suatu bahan dengan bantuan fungi atau cendawan dan bakteri. Selain menguraikan bahan organik, hasil dari proses fermentasi juga menghasilkan kandungan alkohol dalam ampas tahu tersebut. Kandungan alkohol yang dihasilkan pada proses fermentasi ampas tahu, lebih kecil jika dibandingkan dengan kandungan alkohol pada proses fermentasi bahan lainnya seperti anggur, beras ketan dan lain – lain.
Kandungan alkohol yang terdapat dalam ampas tahu ini, memiliki kekurangan dan kelebihan. Kekurangannya ialah pakan berbahan dasar ampas tahu tidak boleh diberikan pada organisme yang akan dijadikan indukan maupun calon induk, hal ini akan menetralkan gonad sang calon induk. Dan adapun kelebihannya ialah pakan ini dapat digunakan sebagai bahankimia alternatif pengganti hormon tirosin untuk proses sexreversal. Hormon untuk proses sexreversal sangat berbahaya penggunaannya dan sekarang ini telah dilarang penggunaannya. Penggunaan hormon untuk proses sexreversal dalam proses sexreversal akan berakibat fatal bagi yang mengkonsumsi ikan yang telah disexreversal, terutama wanita, karena dapat merangsang peningkatan hormon untuk proses sexreversal secara berlebihan. Sexreversal bertujuan untuk menyamakan gender ikan budidaya agar pertumbuhan ikan budidaya menjadi lebih cepat.
Pemberian pakan ampas tahu ini, hanya dapat diberikan pada ikan untuk pembesaran dan sexreversal saja. Pakan ini sangat disukai oleh ikan lele, hal ini dengan yang diungkapkan Setyono (2010;5) ikan lele sangat menyukai pakan yang berbahan dasar ampas tahu karena pakan ini memiliki aroma yang sama dengan pakan buatan pabrik ternama (pakan buatan yang digemari ikan lele) dan juga kandungan proteinnya tinggi.
Pakan ampas tahu yang diberikan kepada ikan lele, menurut penilitian terbaru, pakan ini dapat menyamakan pertumbuhan ikan sekitar 80 %. Hal ini bertujuan untuk mengurangi tingkat kanibalisme pada ikan lele. Pemberian pakan ampas tahu merupakan pakan pokok dalam budidaya, sedangkan untuk pakan tambahan digunakan pakan buatan pabrik.
Pakan berbahan dasar ampas tahu memiliki banyak kelebihan, diantaranya mengurangi dampak pencemaran lingkungan akibat limbah ampas tahu, mengurangi biaya produksi budidaya, dan sebagai bahan alternatif yang aman untuk proses sexreversal. Untuk mengembangkan pemanfaatan ampas tahu sebagai pakan buatan untuk ampas tahu, perlu adanya perhatian dari pemerintah kepada masyarakat dan industri tahu. Perhatian tersebut dapat dalam bentuk pelatihan-pelatihan maupun penyuluhan. Tidak hanya itu sebaiknya pemerintah juga menbimbing kelompok tani pembudidaya ikan lele untuk memanfaatkan ampas tahu sebagai bahan dasar pembuatan pakan lele.
Dengan melakukan pengolahan lebioh lanjut, ampas tahu akan memiliki nillai ekonomis yang cukup tinggi. Pengolahan ampas tahu dapat berupa kerupuk, makanan ringan maupun bahan dasar pakan ikan. Dalam dunia budidaya sekarang ini, pakan ampas tahu merupakan pakan alternatif yang sedang diminati para petani. Pakan ampas tahu selain biaya produksinya rendah disbanding pakan sejenisnya, pakan ampas tahu ini juga dapat mempercepat pertumbuhan ikan. Menurut hasil penilitian terbaru, karena proses pembuatan pakan ampas tahu dengan fermentasi, dalam pakan ini mengandung yang alkohol. Kandungan alkohol dalam pakan ampas tahu ini dapat menggantikan fungsi hormon untuk proses sexreversal untuk proses sex reversal.
Penggunaan hormon untuk proses sexreversal secara berlebihan akan memberikan dampak yang kurang baik bagi konsumen pengkonsumsi daging ikan yang pembudidayaan secara sex reversal dengan hormon untuk proses sexreversal. Dampak dari penggunaan hormon untuk proses sexreversal ini antara lain jumlah hormon untuk proses sexreversal dalam tubuh organisme penmgkonsumsi akan berlebih, sehingga sifat kejantanan dari organisme akan lebih mendominasi. Hal ini sangat berbahaya bagi manusia, misalnya wanita karena mengkonsumsi ikan yang disexreversal dengan hormon dapat menghilangkan ciri kewanitaannya, begitu juga pada laki-laki.
Nilai Gizi Ampas Tahu
Ampas tahu lebih tinggi kualitasnya dibandingkan dengan kacang kedelai. Protein ampas tahu mempunyai nilai biologis lebih tinggi daripada protein biji kedelai dalam keadaan mentah karena bahan ini berasal dari kedelai yang telah dimasak. Ampas tahu juga mengandung unsur-unsur mineral mikro maupun makro yaitu: Fe 200-500 ppm, Mn 30-100 ppm, Cu 5-15 ppm, Co < 1 ppm dan Zn > 50 ppm.
Ampas tahu dalam keadaan segar berkadar air sekitar 84,5% dari bobotnya. Kadar air yang tinggi dapat menyebabkan umur simpannya pendek. Ampas tahu basah tidak tahan disimpan dan akan cepat menjadi asam dan busuk selama 2-3 hari, sehingga ternak tidak menyukai lagi. Ampas tahu kering mengandung air sekitar 10,0-15,5% sehingga umur simpannya lebih lama dibandingkan dengan ampas tahu segar

Senin, 10 Maret 2014

JINTEN HITAM (NIGELLA SATIVA) TANAMAN BERPOTENSI SEBAGAI IMUNOSTIMULAN PADA IKAN LELE

Ikan lele (Clarias sp.) merupakan ikan yang banyak terdapat di Indonesia. Salah satu ikan lele yang banyak ditemukan di Indonesia adalah ikan lele dumbo (Clarias gariepinus). Ikan lele dumbo merupakan spesies ikan lele yang pertama kali diperkenalkan pada tahun 1984, yang diperoleh dari hasil persilangan antara induk betina lele asli Taiwan dan induk pejantan yang berasal dari Afrika. Lele dumbo masuk pertama kali di Indonesia pada tahun 1986, yang diimpor dari Taiwan.
A. Taksonomi dan Morfologi Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus Burchell)
Ikan lele dumbo (Clarias gariepinus Burchell) berasal dari Benua Afrika dan pertama kali didatangkan ke Indonesia pada tahun 1984. Jenis ikan lele ini termasuk hibrida dan pertumbuhan badannya cukup spektakuler baik panjang tubuh maupun beratnya. Dibanding kerabat dekatnya ikan lele lokal (Clarias batrachus) lele dumbo memiliki pertumbuhan empat kali lebih cepat. Oleh sebab itu, ikan jenis ini dengan mudah menjadi populer di masyarakat.
Di Indonesia ada 6 (enam) jenis ikan lele yang dikembangkan:
1. Clarias batrachus, dikenal sebagai ikan lele (Jawa), ikan kalang (Sumatera Barat), ikan maut (Sumatera Utara), dan ikan pintet (Kalimantan Selatan).
2. Clarias teysmani, dikenal sebagai lele Kembang (Jawa Barat), Kalang putih (Padang).
3. Clarias melanoderma, yang dikenal sebagai ikan duri (Sumatera Selatan), wais (Jawa Tengah), wiru (Jawa Barat).
4. Clarias nieuhofi, yang dikenal sebagai ikan lindi (Jawa), limbat (Sumatera Barat), kaleh (Kalimantan Selatan).
5. Clarias loiacanthus, yang dikenal sebagai ikan keli (Sumatera Barat), ikan penang (Kalimantan Timur).
6. Clarias gariepinus Burchell, yang dikenal sebagai lele dumbo berasal dari Afrika
Ikan lele digemari semua lapisan masyarakat sebagai protein hewani alternatif yang harganya murah. Ikan lele mudah diolah, bergizi tinggi dan rasanya enak. Ikan lele dumbo mudah dipelihara, disimpan dan dipasarkan baik berupa ikan hidup maupun ikan segar (Alam Ikan 3). Kedudukan taksonomi ikan lele dumbo adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Filum
:
Chordata
Kelas 
:
Pisces
Ordo
:
Ostariophysi
Genus
:
Clarias
Spesies             
:
Clarias gariepinus Burchell
Ikan lele dumbo (Clarias gariepinus Burchell) memiliki morfologi yang mirip dengan lele lokal (Clarias batrachus). Bentuk tubuh memanjang, agak bulat, kepala gepeng dan batok kepalanya keras, tidak bersisik dan berkulit licin, mulut besar, warna kulit badannya terdapat bercak-bercak kelabu seperti jamur kulit manusia (panu). Ikan lele dalam bahasa Inggris disebut pula catfish, siluroid, mudfish dan walking catfish. Ikan lele dalam budidaya intesif ada yang memiliharanya dalam kolam terpal
Ciri-ciri morfologis lele dumbo lainnya adalah sungutnya.
Sungut berada di sekitar mulut berjumlah delapan buah atau 4 pasang terdiri dari sungut nasal dua buah, sungut mandibular luar dua buah, mandibular dalam dua buah, serta sungut maxilar dua buah.
Ikan lele mengenal mangsanya dengan alat penciuman, lele dumbo juga dapat mengenal dan menemukan makanan dengan cara rabaan (tentakel) dengan menggerak-gerakan salah satu sungutnya terutama mandibular (Alam Ikan 2).
Lele dumbo mempunyai lima buah sirip yang terdiri dari sirip pasangan (ganda) dan sirip tunggal.
Sirip yang berpasangan adalah sirip dada (pectoral) dan sirip perut (ventral), sedangkan yang tunggal adalah sirip punggung (dorsal), ekor (caudal) serta sirip dubur (anal).
Sirip dada ikan lele dumbo dilengkapi dengan patil atau taji tidak beracun. Patil lele dumbo lebih pendek dan tumpul bila dibandingkan dengan lele lokal (Alam Ikan 2). Ikan lele dumbo sudah banyak dibudidayakan di Indonesia. Usaha budidaya ikan sering terjangkit adanya penyakit ikan yang tidak jarang menggagalkan pertumbuhan dan kelulusanhidupan ikan sehingga mengakibatkan kematian masal pada ikan yang dibudidayakan (gagal panen). Penyakit ikan disebabkan adanya interaksi antara lingkungan, organisme dan ikan yang tidak seimbang. Penyakit ikan dapat disebabkan oleh fisika, kimiawi, dan biologis. Penyakit yang diakibatkan oleh fisik maupun kimiawi pada umumnya tidak menular (non infeksi). Sedangkan penyakit yang ditimbulkan oleh penyebab biologis kebanyakan menular (infeksi).
Aeromonas hidrophila merupakan bakteri yang dapat menginfeksi ikan. Susanto (1988), melaporkan bahwa Aeromonas hidrophila dapat menyebabkan kematian masal pada ikan lele dumbo, sehingga Aeromonas hidrophila menjadi ancaman tersendiri yang menakutkan bagi para petani ikan atau pembudidaya ikan lele dumbo.
Salah satu penanganan penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme (bakteri) pada budidaya lele dumbo adalah antibiotik. Antibiotik sebagai agen terapi pengobatan memang telah banyak membantu, namun ternyata juga menimbulkan ekses yang negatif, yaitu menimbulkan jenis penyakit baru maupun bakteri yang resisten terhadap antibiotik. Oleh karena itu, perlu adanya penanganan yang ramah lingkungan dan mampu memulihkan ikan lele dumbo dari infeksi bakteri tersebut, yaitu imunostimulan.
Imunostimulan adalah zat kimia, obat-obatan, stressor, atau aksi yang meningkatkan respon imun non-spesifik atau bawaan (innate immune respon) yang berinteraksi secara langsung dengan sel dari sistem yang mengaktifkan respon imun bawaan tersebut. Imunostimulan adalah zat-zat yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi penyakit, bukan meningkatkan respon imun spesifik (acquired immune respon), tetapi meningkatkan respon imun non-spesifik baik melalui mekanisme pertahanan humoral maupun pertahanan seluler (Sakai, 1999). Ikan telah diketahui lebih mengandalkan mekanisme sistem kekebalan non-spesifiknya atau bahawan (innate immune sistem) dari pada sistem kekebalan spesifiknya atau adaptif (Anderson, 1992)
Jinten hitam (Nigella sativa) merupakan tanaman yang berpotensi sebagai imunostimulan karena mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh dalam menghadapi patogen. Jinten hitam mengandung beberapa bahan aktif diantaranya, Thymowuinone (TQ), Dithymoquinone (DTQ),Thymohidriquinone (THQ), dan Thmol (THY). Tumar (2006) melaporkan bahwa ekstrak jinten hitam (Nigella sativa) dapat menghambat atau bahkan dapat membunuh bakteri Aeromonas hydrophila. Selain itu Hendrik (2007) menambahkan bahwa ekstrak jinten hitam dapat merangsang dan memperkuat sistem kekealan tubuh manusia melalui peningkatan jumlah, mutu, dan aktivitas sel-sel kekebalan tubuh manusia. El-Kadi dan Kandil (1986) melaporkan bahwa ekstrak jinten hitam berpengaruh menguatkan fungsi kekebalan, dimana kadar sel-sel T pembantu meningkat dibandingkan sel-sel T penekan dengan perbandingan rata-rata 72% serta terjadi peningkatan aktivitas sel-sel pembunuh alami rata-rata 75%.
Endarti (2009) melaporkan bahwa ekstrak jinten hitam (Nigella sativa) merupakan bahan yang potansial untuk digunakan sebagai agen imunostimulan pada ikan lele dumbo yang terinfeksi Aeromonas hydrophilakarena terbukti dapat meningkatkan jumlah sel darah putih dan diferensial leukosit yang dangat berperan dalam respon immune non-spesifik. Selain itu, ekstrak jinten hitam dengan konsentrasi 9% menunjukkan bahwa jumlah sel darah putih (leukosit) sebelum uji tantang 25516.67 sel/mm3 dan sebesar 97243.33 sel/mm3 setelah uji tantang.
Aktivitas immunostimulator ekstrak jinten hitam pada benih ikan lele dumbo meliputi peningkatan jumlah sel darah putih (leukosit) terutama neutrofil, limfosit dan monosit serta ketahanan terhadap infeksi bakteri Aeromonas hydrophila yang ditunjukkan dengan tingkat kelangsungan hidup yang tertinggi mencapai 90%.
Referensi
Endarti. 2009. Pengaruh Pemberian Ekstrak Jinten Hitam sebagai Imunostimulan terhadap Hematologi Ikan Lele Dumbo.
BACA : (Nigella Sativa) / Black Seed / Jintan Hitam