Keberhasilan dalam budidaya ikan bandeng sangat di tentukan dengan
persiapan benih yang baik sesuai dengan standar untuk budidaya yang
baik. Pembuatan benih yang berkualitas memerlukan langkah-langkah
persiapan yang terencana dengan baik pelaksanaan pembenihan yang
diharapkan berhasil dengan baik.
1. Alasan Melakukan Pembenihan
Benih
bandeng (nener) merupakan salah satu sarana produksi yang utama dalam
usaha budidaya bandeng di tambak. Perkembangan Teknologi budidaya
bandeng di tambak dirasakan sangat lambat dibandingkan dengan usaha
budidaya udang. Faktor ketersediaan benih merupakan salah satu kendala
dalam meningkatkan teknologi budidaya bandeng. Selama ini produksi nener
alam belum mampu untuk mencukupi kebutuhan budidaya bandeng yang terus
berkembang, oleh karena itu peranan usaha pembenihan bandeng dalam upaya
untuk mengatasi masalah kekurangan nener tersebut menjadi sangat
penting. Tanpa mengabaikan arti penting dalam pelestarian alam,
pengembangan wilayah, penyediaan dukungan terhadap pembangunan perikanan
khususnya dan pembangunan nasional umumnya, kegiatan pembenihan bandeng
di hatchery harus diarahkan untuk tidak menjadi penyaing bagi kegiatan
penangkapan nener di alam. Diharapkan produksi benih nener di hatchery
diarahkan untuk mengimbangi selisih antara permintaan yang terus
meningkat dan pasok penangkapan di alam yang diduga akan menurun.
Teknologi
produksi benih di hatchery telah tersedia dan dapat diterapkan baik
dalam suatu Hatchery Lengkap (HL) maupun Hatchery Sepenggal (HS) seperti
Hatchery Skala Rumah Tangga (HSRT). Produksi nener di hatchery
sepenggal dapat diandalkan. Karena resiko kecil, biaya rendah dan hasil
memadai. Hatchery sepenggal sangat cocok dikembangkan di daerah miskin
sebagai salah satu upaya penaggulangan kemiskinan bila dikaitkan dalam
pola bapak angkat dengan hatchery lengkap (HL). Dilain pihak, hatchery
lengkap (HL) dapat diandalkan sebagai produsen benih bandeng (nener)
yang bermutu serta tepat musim, jumlah dan harga. Usaha pembenihan
bandeng di hatchery dapat mengarahkan kegiatan budidaya menjadi kegiatan
yang mapan dan tidak terlalu dipengaruhi kondisi alam serta tidak
memanfaatkan sumber daya secara berlebihan. Dalam siklusnya yang utuh,
kegiatan budidaya bandeng yang mengandalkan benih hatchery bahkan dapat
mendukung kegiatan pelestarian sumberdaya baik melalui penurunan
terhadap sumber daya benih species lain yang biasa terjadi pada
penangkapan nener di alam maupun melalui penebaran di perairan pantai
(restocking).
Disisi lain, perkembangan hatchery bandeng di kawasan
pantai dapat dijadikan titik tumbuh kegiatan ekonomi dalam rangka
pengembangan wilayah dan penyerapan tenaga kerja yang mengarah pada
pembangunan berwawasan lingkungan. Pada giliranya, tenaga yang terserap
di hatchery itu sendiri selain berlaku sebagai produsen juga berlaku
sebagai konsumen bagi kebutuhan kegiatan sehari-hari yang dapat
mendorong kegiatan ekonomi masyarakat sekitar hatchery.
2. PERSYARATAN LOKASI
Pemilihan
tempat perbenihan bandeng harus mempertimbangkan aspek-aspek yang
berkaitan dengan lokasi. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
persyaratan lokasi adalah sebagai berikut:
1) Status tanah dalam kaitan dengan peraturan daerah dan jelas sebelum hatchery dibangun.
2) Mampu menjamin ketersediaan air dan pengairan yang memenuhi persyaratan mutu yang ditentukan;
- Pergantian air minimal; 200 % per hari.
- Suhu air, 26,5-310C.
- PH; 6,5-8,5.
- Oksigen larut; 3,0-8,5 ppm.
- Alkalinitas 50-500ppm.
- Kecerahan 20-40 cm (cahaya matahari sampai ke dasar pelataran).
- Air terhindar dari polusi baik polusi bahan organik maupun an organik.
3) Sifat-sifat perairan pantai dalam kaitan dengan pasang surut dan pasang arus perlu diketahui secara rinci.
4)
Faktor-faktor biologis seperti kesuburan perairan, rantai makanan,
species dominan, keberadaan predator dan kompetitor, serta penyakit
endemik harus diperhatikan karena mampu mengakibatkan kegagalan proses
produksi.
3. SARANA DAN PRASARANA
1) Sarana Pokok
Fasilitas
pokok yang dimanfaatkan secara langsung untuk kegiatan produksi adalah
bak penampungan air tawar dan air laut, laboratorium basah, bak
pemeliharaa larva, bak pemeliharaan induk dan inkubasi telur serta bak
pakan alami.
a. Bak Penampungan Air Tawar dan Air Laut.
Bak
penampungan air (reservoir) dibangun pada ketinggian sedemikian rupa
sehingga air dapat didistribusikan secara gravitasi ke dalam bak-bak dan
sarana lainnya yang memerlukan air (laut, tawar bersih). Sistim pipa
pemasukkan dan pembuangan air perlu dibangun pada bak pemelihara induk,
pemeliharaan larva, pemeliharan pakan alami, laboratorium kering dan
basah serta saran lain yang memerlukan air tawar dan air laut serta
udara (aerator). Laboratorium basah sebaiknya dibangun berdekatan dengan
bangunan pemeliharaan larva dan banguna kultur murni plankton serta
diatur menghadap ke kultur masal plankton dan dilengkapi dengan sistim
pemipaan air tawar, air laut dan udara.
b. Bak Pemeliharaan Induk
Bak
pemeliharaan induk berbentuk empat persegi panjang atau bulat dengan
kedalaman lebih dari 1 meter yang sudut-sudutnya dibuat lengkung dan
dapat diletakkan di luar ruangan langsung menerima cahaya tanpa dinding.
c. Bak Pemeliharan Telur
Bak perawatan telur terbuat dari
akuarium kaca atau serat kaca dengan daya tampung lebih dari 2.000.000
butir telur pada kepadatan 10.000 butir per liter.
d. Bak Pemeliharaan Larva
Bak
pemeliharaan larva yang berfungsi juga sebagai bak penetasan telur
dapat terbuat dari serat kaca maupun konstruksi beton, sebaiknya
berwarna agak gelap, berukuran (4x5x1,5) m3 dengan volume 1-10 ton
berbentuk bulat atau bujur sangkar yang sudut-sudutnya dibuat lengkung
dan diletakkan di dalam bangunan beratap tembus cahaya tanpa dinding
balik. Untuk mengatasi penurunan suhu air pada malam hari, bak larva
diberi penutup berupa terpal plastik untuk menyangga atap plastik, dapat
digunakan bentangan kayu/bambu.
e. Bak Pemeliharaan Makanan Alami, Kultur Plankton Chlorella sp dan Rotifera.
Bak
kultur plankton chlorella sp disesuaikan dengan volume bak pemeliharaan
larva yang terbuat dari serat kaca maupun konstruksi beton ditempatkan
di luar ruangan yang dapat langsung mendapat cahaya matahari. Bak perlu
ditutup dengan plastik transparan pada bagian atasnya agar cahaya juga
bisa masuk ke dalam bak untuk melindungi dari pengaruh air hujan.
a) Bak kultur chlorella
b) Tabung tempat kultur rotifera
Kedalamam
bak kultur chlorella sp harus diperhitungkan sedemikian rupa sehingga
penetrasi cahaya matahari dapat dijamin mencapai dasar tangki. Kedalaman
air dalam tangki disarankan tidak melebihi 1 meter atau 0,6 m, ukuran
bak kultur plankton chlorella sp adalah (20 x 25 x 0,6)m3. Bak kultur
rotifera terbuat dari serat kaca maupun konstruksi beton yang
ditempatkan dalam bangunan beratap tembus cahaya tanpa dinding.
Perbandingan antara volume bak chlorella, rotifera dan larva sebaliknya
5:5:1.
2) Sarana Penunjang
Untuk menunjang perbenihan sarana
yang diperlukan adalah laboratorium pakan alami, ruang pompa,air blower,
ruang packing, ruang genset, bengkel, kendaraan roda dua dan roda empat
serta gudang (ruang pentimpanan barangbarang opersional) harus tersedia
sesuai kebutuhan dan memenuhi persyaratan dan ditata untuk menjamin
kemudahan serta keselamatan kerja.
a. Laboratorium pakan alami
seperti laboratorium fytoplankton berguna sebagai tempat kultur murni
plankton yang ditempatkan pada lokasi dekat hatchery yang memerlukan
ruangan suhu rendah yakni 22~25 0C.
b.Laboratorium kering termasuk
laboratorium kimia/mikrobialogi sebaiknya dibangun berdekatan dengan bak
pemeliharaan larva berguna sebagai bangunan stok kultur dan penyimpanan
plankton dengan suhu sekitar 22~25 0C serta dalam ruangan. Untuk
kegiatan yang berkaitan dengan pemasaran hasil dilengkapi dengan
fasilitas ruang pengepakan yang dilengpaki dengan sistimpemipaan air
tawar dan air laut, udara serta sarana lainnya seperti peti kedap air,
kardus, bak plastik, karet dan oksigen murni. Alat angkut roda dua dan
empat yang berfungsi untuk memperlancar pekerjaan dan pengangkutan hasil
benih harus tersedia tetap dalam keadaan baik dan siap pakai. Untuk
pembangkit tenaga listrik atau penyimpanan peralatan dilengkapi dengan
fasilitas ruang genset dan bengkel, ruang pompa air dan blower, ruang
pendingin dan gudang.
3) Sarana Pelengkap
Sarana pelengkap dalam
kegiatan perbenihan terdiri dari ruang kantor, perpustakaan, alat tulis
menulis, mesin ketik, komputer, ruang serbaguna, ruang makan, ruang
pertemuan, tempat tinggal staf dan karyawan.
Minggu, 14 September 2014
Sabtu, 09 Agustus 2014
WSSV (WHITE SPOT SYNDROME VIRUS) MEWABAH MENYEBAR MELUAS KE SELURUH SENTRA-SENTRA BUDIDAYA UDANG WINDU DI INDONESIA
Udang
windu (Penaeus monod Sejak tahun 1995, penyakit bintik putih
pada udang yang dikenal sebagai WSSV (White Spot Syndrome Virus) telah mewabah
dan menyebar meluas ke seluruh sentra-sentra budidaya udang windu di Indonesia.
Penyakit tersebut memiliki tingkat patogenitas tinggi dengan mortalitas dapat
mencapai 100 % yang merupakan penghambat utama kegagalan budidaya udang
windu di Asia
dan Amerika (Mahardika
dkk. 2004). WSSV
ditemukan pertama kali pada
tahun 1992 pada
Penaeus japonicus yang
dibudidayakan di Taiwan (Chang et al. 1998). Virus white spot ini sangat patogenik pada P.
indicus dan P.monodon (Lo et al. 1996a) sehingga dapat mengakibatkan mortalitas
100 % dalam 2 – 7 hari bila udang terinfeksi virus tersebut.
Pada
panti pembenihan udang India sebanyak 630 sampel udang yang terdiri atas pasca
larva (PL) dan yuwana, 53 % diantaranya positif terserang WSSV (Vaseeharan et
al.2003). Serangan penyakit white spot pertama kali di Indonesia ditemukan pada
areal pertambakan udang windu di Tangerang, Serang dan Karawang pertengahan
tahun 1994 (Mahardika dkk. 2004). Penyakit WSSV tersebut juga menyerang tambak
tradisional di Bangil Jawa Timur pada tahun 1999 dan sampai saat ini belum
dapat diatasi. Hasil uji laboratoris juga
menunjukkan bahwa WSSV tidak hanya menginfeksi P. monodon tetapi
juga menginfeksi udang vaname, P. stylirostris dan P. setiferus. Berdasarkan
informasi dari Dinas Perikanan dan Kelautan Indramayu, virus white spot sudah
banyak menyebabkan kegagalan budidaya udang baik di tambak tradisional maupun
intensif di sentra pertambakan kabupaten Indramayu.
Pada akhir-akhir ini telah
dikembangkan uji biomolekuler untuk mendeteksi keberadaan
DNA WSSV menggunakan teknik PCR (Polymerase Chain Reaction) baik oleh
perusahaan farmasi dalam bentuk kit WSSV
yang memakai metode one-step PCR (PCR tunggal) dengan satu kali proses
amplifikasi (penggandaan) sekuen WSSV. Penggunaan metode deteksi one-step
PCR yang umumnya menjadi protokol dalam
kit-kit WSSV yang diproduksi secara komersiil untuk sampel udang yang terinfeksi berat (bintik putih pada karapas) dengan mudah dapat dideteksi
keberadaan WSSV tersebut, oleh karena tingkat infeksinya cukup berat
(Vaseeharan et al. 2003). Apabila sampel berasal dari udang sehat (tidak ada
bintik putih pada karapas, kaki jalan atau kaki renang) tetapi memiliki gejala
klinis seperti menurunnya nafsu makan dan berenang ke tepian tambak, maka
setelah uji one-step PCR memberikan hasil negatif. Ketika sampel tersebut diuji
ulang menggunakan metode
Nested
PCR, keberadaan WSSV terdeteksi dengan hasil yang positif WSSV (Otta et al.1999).
Hasil
deteksi DNA WSSV baik pada udang windu (P. monodon) dan carrier WSSV (udang
rebon, kepiting) lebih sensitif ketika menggunakan metode Nested PCR (two-step
PCR) yang kira-kira 103 lebih mampu mendeteksi WSSV dibanding one-step PCR (Lo et al. 1996b).on fabr.) merupakan salah
satu unggulan sektor perikanan dan kelautan nasional yang banyak dibudidayakan
meskipun beberapa jenis udang telah dikembangkan dan dibudidayakan di
Indonesia, antara lain udang galah, udang putih, udang vanamei, dan udang
windu. "Jenis udang yang dapat diterima di masyarakat adalah udang windu
karena dari segi harga tetap stabil dan teknologi pembudidayaannya telah banyak
dikuasai masyarakat serta rasa dagingnya nikmat," kata Kepala Balai
Karangtina Klas I Juanda, Surabaya, Drs. Burhaidin, S.Pi., M.P.,dalam ujian
promosi terbuka untuk memperoleh gelar doktor di Fakultas Kedokteran Hewan UGM,
Selasa (21/9).
Tingkat
produksi budidaya udang windu secara nasional mengalami penurunan menjadi 70
ribu ton per tahun. Tahun ini, pemerintah menargetkan produksi udang nasional
mencapai 699.000 ton, naik hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya sebesar
348.100 ton.
Penurunan
produksi udang windu ini, menurut Nurhaidin, disebabkan oleh serangan penyakit
pada udang terutama white spot syndrome virus (WSSV). Walaupun secara teknis
telah dilakukan sesuai dengan persyaratan standar pada kegiatan pembenihan,
kematian benih udang yang disebabkan oleh serangan WSSV masih cukup tinggi,
yakni mencapai 60-70 persen. "Virus penyebab WSSV merupakan virus eksotik
yang tetap bersifat infektif meskipun dalam kondisi beku. Penularan penyakit
ini berasal dari spesies udang impor terhadap spesies udang lokal yang dapat
terjadi apabila virus dapat beradapatasi pada inang baru," kata lulusan
program master FKH ini.
Deteksi
adanya infeksi WSSV ini, kata Nurhaidin, diharuskan menggunakan metoda yang
sensitif dan akurat dalam manajemen kesehatan satwa akuatik. Di antara metoda
yang telah dikembangkan oleh para ahli itu, yakni metoda berbasis DNA seperti
polymerase chain reaction (PCR) yang dianggap paling tepat untuk diagnosis dan
deteksi cepat penyakit viral pada udang dan moluska. "Saat ini, teknologi
berbasis DNA, terutama PCR, telah diaplikasikan secara luas di bidang
akuakultur. Meskipun sangat potensial, tetapi penggunaan teknologi diagnostik berbasis
DNA secara rutin tetap mempunyai beberapa masalah karena sensitivitas yang
tinggi mengakibatkan uji tidak dapat membedakan antara patogen yang hidup
dengan yang mati dan akibat infeksi atau kontaminasi," imbuhnya.
Berdasarkan
penelitian Nurhaidin terhadap 75 ekor udang windu dari tambak udang windu di
beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan, seperti Maros, Pangkep, Pinrang, Barru,
Takalar, Majene dan Bonne, serta Makassar, diketahui deteksi WSSV pada udang
windu dengan menggunakan metoda PCR cukup efektif meski diketahui tingkat
sensitivitas dan spesifikasi masih relatif rendah. "Tingkat sensitivitas
dan spesifisitasnya, 72% dan 66%," terangnya. Untuk mengatasi hal itu,
diperlukan pengetahuan tentang faktor-faktor yang harus diperhatikan dan
dihindari sehingga uji PCR yang akan diaplikasikan memiliki akurasi diagnostik
yang tinggi terkait dengan gejala klinis dan lesi patologis, waktu pengambilan
sampel, dan kesalahan human error.
Nurhaidin
menjelaskan udang windu yang terjangkiti WSSV menunjukkan gejala bintik-bintik
berwarna keputihan berdiameter 1 cm pada permukaan eksosskeleton dan
keseluruhan tubuh udang berwarna merah jambu hingga merah kecoklatan. (Humas
UGM/Gusti Grehenson)
Infeksi Virus
Intensitas
serangan virus white spot pada udang windu baik pada stadia post larva (PL) dan
pemeliharaan umur 1 – 2 bulan di tambak
pembesaran menunjukkan adanya tingkatan infeksi. Hasil deteksi pada
sampel udang putih liar (P. indicus), kepiting (Scylla serrata) dan udang rebon
(Metapenaeus spp.) yang
diambil dari 18
lokasi tambak udang
di India, sebanyak 23 % positif
WSSV (Vaseeharan et al. 2003) setelah uji Nested PCR.
Tidak
diperoleh pita DNA WSSV dari produk amplifikasi pertama (one step PCR), hal ini
menunjukkan metode ini tidak mampu mendeteksi keberadaan virus dalam konsentrasi
rendah. Elektroforegram produk Nested PCR pada sampel udang windu (PL40, umur
pemeliharaan 2 bulan), sampel
vaname (PL12) dan
udang jembret sebagai
vektor virus mendeteksi
keberadaan WSSV pada sampel tersebut Metode Nested PCR ini
lebih sensisitf mendeteksi WSSV pada awal infeksi. Primer kedua (WSSV-F2 dan
WSSV-R2) menghasilkan amplikon dari fragmen WSSV berukuran 296 bp (Gambar 2,
sumur ke-6 sampei ke-11) sebagai hasil kopi yang didasarkan urutan fragmen yang
sama pada bagian internal fragmen WSSV yang telah diamplifikasi pasangan primer
pertama (WSSV-F1 dan WSSV-R1) (Hossain et al. 2001). Satu pita DNA WSSV (296
bp) yang muncul tersebut mengindikasikan tingkat infeksinya tergolong ringan
pada sampel windu PL40, windu umur 2 bulan, vaname PL12 dan udang jembret dengan uji Nested PCR
(Manivannan et al. 2002).
Ukuran
fragmen WSSV (296 bp) yang terdeteksi dari hasil penelitian ini, tidak jauh
berbeda dengan hasil yang diperoleh Vaseeharan et al. (2003), bahwa produk
amplifikasi dari sampel PL dan yuwana udang windu (P. monodon) yang terinfeksi
WSSV berukuran 294 bp. Hasil yang sama juga diperoleh dari penelitian
Sritunyalucksana et al. 2006), untuk pita WSSV pada stadia PL udang yang
terinfeksi ringan pada posisi 296 bp. Berdasarkan hal ini, maka sampel udang
windu (PL40 dan umur pemeliharaan 2
bulan) serta udang vaname (Litopenaeus vannamei) asal Karangsong dan
Balongan positif terinfeksi WSSV dengan tingkatan ringan.
Udang
jembret (rebon) sebagai vektor virus positif terinfeksi WSSV (296 bp) dengan
tingkatan ringan (Gambar 2, sumur ke-9 dan ke-10). Hasil ini mengindikasikan
bahwa sumber penularan penyakit bintik putih pada udang windu, udang vaname
pada tingkatan stadia tersebut, salah satunya berasal dari udang jembret yang
telah menyebar ke wilayah perairan yang menghubungkan tambak Karangsong dan
Balongan Indramayu. Hossain et al. (2001) juga mendeteksi keberadaan WSSV (310
bp) pada udang rebon (Metapenaeus dobsoni) sebagai vektor virus menggunakan
Nested PCR. Disamping itu, nauplii Artemia sebagai makanan alami udang windu
dan vaname yang umum digunakan pada panti pembenihan udang ternyata merupakan
agen penular penyakit WSSV. Hasil uji Nested PCR pada sampel nauplii Artemia
positif WSSV dengan
ukuran fragmen sekitar 296 bp menggunakan pasangan primer 146 F2
(5’-GTAACTGCCCCTTCCATCTCCA-3’)dan primer 146 R2 (5’-
TACGGCAGCTGCTGCACCTTGT-3’) (Chang et al. 2002).
Penyakit white spot akan berpengaruh pada
kualitas udang yang akan dihasilkan sehingga jika tidak segera dilakukan
pemanenan, maka jika terlambat melakukan pemanenan dikhawatirkan kualitas udang
secara keseluruhan akan turun pada kualitas yang lebih rendah, sehingga akan
berpengaruh pada tingkat harga jual dan secara tidak langsung berpengaruh pula
pada perolehan finansial yang akan didapat.
Senin, 14 Juli 2014
MANFAAT LACTOBACILLUS PLANTARUM
Bakteri Lactobacillus plantarum adalah bakteri asam laktat dari famili Lactobacilliceae dan genus Lactobacillus. Bakteri ini bersifat Gram positif, non motil, dan berukuran 0,6-0,8 μm x 1,2-6,0 μm. Bakteri ini memiliki sifat antagonis terhadap mikroorganisme penyebab kerusakan makanan seperti Staphylococcus aureus, Salmonella, dan Gram negatif (Buckle et al., 1987). Lactobacillus plantarum bersifat toleran terhadap garam, memproduksi asam dengan cepat dan memiliki pH ultimat 5,3 hingga 5,6 (Buckle et al., 1987).
Pengolahan pangan dan pakan menggunakan BAL adalah teknologi yang telah ada sejak dulu yang dapat meningkatkan kandungan obat dan anti penyakit serta mencegah kebusukan dan perjangkitan penyakit yang disebabkan oleh bakteri patogen (Elegado et al., 2004). Bakteri L. plantarum umumnya lebih tahan terhadap keadaan asam dan oleh karenanya menjadi lebih banyak terdapat pada tahapan terakhir dari fermentasi tipe asam laktat. Bakteri ini sering digunakan dalam fermentasi susu, sayuran, dan daging (sosis). Fermentasi dari L. plantarum bersifat homofermentatif sehingga tidak menghasilkan gas (Buckle et al., 1987). Bakteri Lactobacillus plantarum terutama berguna untuk pembentukan asam laktat, penghasil hidrogen peroksida tertinggi dibandingkan bakteri asam laktat lainnya dan juga menghasilkan bakteriosin yang merupakan senyawa protein yang bersifat bakterisidal (James et al., 1992). Lactobacillus plantarum dapat memproduksi bakteriosin yang merupakan bakterisidal bagi sel sensitif dan dapat menyebabkan kematian sel dengan cepat walaupun pada konsentrasi rendah. Bakteriosin yang berasal dari L. plantarum dapat menghambat Staphylococcus aureus dan bakteri Gram negatif (Branen dan Davidson, 1993). L. plantarum mempunyai kemampuan untuk menghasilkan bakteriosin yang berfungsi sebagai zat antibiotik (Jenie dan Rini, 1995).
Lactobacillus plantarum 2C12 merupakan isolat indigenus yang diisolasi dari daging sapi lokal Indonesia. Arief et al. (2008) melaporkan bahwa suatu senyawa antimikroba diproduksi oleh bakteri asam laktat Lactobacillus plantarum 2C12 yang diisolasi dari daging sapi lokal. Senyawa antimikroba tersebut dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen Escherichia coli, Salmonella typhimurium dan 3 Staphylococcus aureus. Senyawa antimikroba yang diproduksi oleh Lactobacillus sp. 2C12 mengandung bakteriosin. Bakteriosin merupakan senyawa protein (umumnya berupa peptida) yang bersifat bakterisidal terhadap mikroorganisme (bakteri) yang ditinjau dari segi filogeniknya (genetiknya) berdekatan dengan mikroorganisme penghasil bakteriosin tersebut. Bakteriosin menurut Klaenhammer (1998) adalah protein atau peptida yang disintesa melalui ribosom yang dapat menghambat atau membunuh bakteri lain. Saat ini penggunaan bakteri asam laktat sebagai penghasil bakteriosin di bidang peternakan semakin bertambah luas, diantaranya sebagai biopreservatif. Produksi bakteriosin juga dapat menghambat perkembangan patogen yang mempunyai kekerabatan dekat dengan bakteri penghasil bakteriosin (Wiryawan dan Tjakradidjaja, 2001).
Beberapa bakteriosin dari bakteri asam laktat antara lain plantaricin A dari Lactobacillus plantarum (Nissen-Meyer et al., 1993), gassericin A dari Lactobacillus LA39 gasseri (Muriana dan Klaenhammer, 1991) dan plantaricin-149 dari Lactobacillus plantarum KTP 149 (Kato et al., 1994) yang telah terdeteksi, dimurnikan dan dikarakterisasi. Matsuaki et al. (1996) menyatakan produksi bakteriosin dipengaruhi oleh tingkat sumber karbon, nitrogen, dan phosfat yag terdapat dalam media. Sumber karbohidrat yang berbeda menghasilkan bakteriosin yang berbeda pula. Arief et al. (2008) menyatakan bahwa suatu senyawa antimikroba diproduksi oleh bakteri asam laktat Lactobacillus sp. 2C12 yang diisolasi dari daging sapi lokal. Senyawa antimikroba tersebut dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen Escherichia coli, Salmonella typhimurium dan Staphylococcus aureus. Senyawa antimikroba yang diproduksi oleh Lactobacillus sp. 2C12 mengandung bakteriosin. Berdasarkan hasil identifikasi, bakteriosin yang diproduksinya disebut plantaricin. Menurut Widiasih (2008), Lactobacillus plantarum 2C12 berbentuk bulat, susunan tunggal maupun rantai pendek. Bakteriosin yang diproduksi oleh Lactobacillus plantarum dikenal dengan nama plantaricin (Omar et al., 2008).
Karakteristik dari bakteriosin adalah : a) mempunyai spectrum aktivitas yang relatif sempit, terpusat di sekitar spesies penghasil bakteriosin (filogenik atau genetiknya cukup dekat), b) senyawa aktifnya terutama terdiri atas protein yang disintesis di ribosom, c) mempunyai reseptor pada sel sasarannya, d) gen penyandi penentu terdapat pada plasmid, yang berperan dalam produksi maupun imunitasnya (Tagg et al., 1976). Karakter lainnya dari bakteriosin adalah bersifat bakterisidal dan tahan panas (Jack et al., 1995).
Bakteriosin yang diproduksi oleh bakteri asam laktat (BAL) digunakan sebagai pengawet makanan dan berpotensi sebagai pengganti antibiotik (Reenen et al., 2006). Bakteriosin asal bakteri asam laktat dibagi ke dalam empat kelas yang berbeda yaitu kelas I adalah antibiotik, kelas II adalah peptide berukuran kecil sifatnya relatif stabil terhadap panas dan tidak mengandung lanthionin pada peptidanya, kelas III adalah peptide berukuran besar yang labil terhadap panas, dan kelas IV merupakan bakteriosin kompleks mengandung lipida atau separuh karbohidrat. Kelas I dan II merupakan kelas-kelas utama dari bakteriosin mempunyai potensi untuk digunakan di dalam aplikasi komersial.
Penggunaan bakteriosin lebih sering digunakan sebagai bahan pengawet makanan. Penggunaan bakteriosin sebagai biopreservatif memiliki beberapa keuntungan, yaitu (1) bakteriosin bukan bahan toksik dan mudah mengalami biodegradasi oleh enzim proteolitik karena merupakan senyawa protein, (2) tidak membahayakan mikroflora usus karena mudah dicerna oleh enzim-enzim saluran pencernaan, (3) aman bagi lingkungan dan dapat mengurangi penggunaan bahan kimia yang selama ini digunakan sebagai bahan pengawet makanan, dan (4) dapat digunakan dalam kultur bakteri unggul yang mampu menghasilkan senyawa antimikroba terhadap bakteri patogen atau dapat digunakan dalam bentuk senyawa antimikrobial yang telah dimurnikan (Nurliana, 1997).
Bakteriosin asal bakteri asam laktat merupakan peptida yang disintesis di ribosom yang memperlihatkan aktivitas antimikrob, pada banyak kasus mampu me- lawan bakteri yang biasanya berkerabat dekat dengan mikroorganisme penghasilnya. Beberapa bakteriosin yang berasal dari bakteri Gram positif memperlihatkan akti- vitas bakterisidal dengan spektra penghambat yang tidak luas dan sangat berguna sebagai agen antibakterial untuk berbagai aplikasi praktik. Bakteriosin dari bakteri asam laktat telah menjadi perhatian penting karena potensinya untuk digunakan sebagai bahan tambahan makanan yang aman sebagai preservatif alami dan non-toxic, serta mencegah terjadinya kebusukan pangan oleh bakteri patogen gram positif (Hata et al., 2010). Bakteriosin berakumulasi di dalam media kultur selama fase pertumbuhan eksponensial hingga fase pertumbuhan stasioner (Vuyst dan Vandamme, 1994). Produksi bakteriosin dipengaruhi oleh tipe dan level karbon, sumber nitrogen dan fosfat, surfaktan kation dan penghambat (Savadogo et al.,2006).
Mekanisme Aktivitas Bakteriosin
Kemampuan suatu senyawa antimikrob dalam menghambat pertumbuhan mikrob merupakan salah satu kriteria yang penting dalam pemilihan suatu senyawa antimikrob yang berfungsi sebagai bahan pengawet. Antimikrob menurut Gan dan Setiabudi (1987), adalah zat yang dapat menghambat pertumbuhan mikrob dan digunakan untuk pengobatan infeksi mikrob pada hewan dan manusia. Antimikrob harus mempunyai toksisitas setinggi mungkin terhadap bakteri target, tetapi relatif tidak toksik terhadap induk semangnya.
Gonzales et al. (1996) menyatakan bahwa berdasarkan sifat toksisitas selektifnya antimikrob dibedakan menjadi dua bagian, yaitu: (i) antimikrob yang bersifat bakteriostatik yaitu antimikrob yang menghalangi pertumbuhan mikroorganisme, tetapi tidak mematikan organisme itu, dan (ii) antimikrob yang bersifat bakterisidal yaitu antimikrob yang menyebabkan kematian dan lisisnya mikroorganisme. Sifat bakteriostatik akan menghambat pertumbuhan dan replikasi mikroorganisme, namun tidak menyebabkan kematian. Sifat bakterisidal berhubung- an dengan kemampuan senyawa untuk menyebabkan lisis sel mikroorganisme. Beberapa mikroba yang bersifat bakteriostatik dapat berubah menjadi bakteriosidal bila digunakan digunakan dalam dosis tinggi (Gan dan Setiabudi, 1987). Dwidjoseputro (1990) membedakan antimikrob berdasarkan efektivitas kerjanya terhadap berbagai mikroorganisme, yaitu: (i) antimikrob yang berspektrum luas, yaitu antimikrob yang efektif terhadap berbagai jenis mikroorganisme, dan (ii) antimikrob yang berspektrum sempit, yaitu antimikrob yang efektif terhadap mikroorganisme tertentu.
Mekanisme penghambatan pertumbuhan mikroba oleh bakteriosin adalah : (1) perusakan dinding sel sehingga mengakibatkan lisis atau menghambat pertumbuhan dinding sel pada sel yang sedang tumbuh; (2) mengubah permeabilitas membran sitoplasma yang menyebabkan kebocoran nutrien di dalam dinding sel; (3) denaturasi protein sel; (4) perusakan sistem metobolisme dalam sel dengan cara menghambat kerja enzim intraseluler (Pelczar dan Chan, 1986). Secara umum mekanisme aktivitas suatu senyawa antimikrob dapat dilakukan oleh senyawa bioaktif melalui mekanisme yang berbeda, yaitu: (i) mengganggu atau merusak komponen penyusun dinding sel, (ii) bereaksi dengan membran sel yang menyebabkan peningkatan permeabilitas dan kehilangan komponen penyusun seluler, (iii) inaktivasi enzim-enzim esensial, dan (iv) destruksi atau inaktivasi fungsi
dari material genetik (Branen dan Davidson, 1993).
Penggunaan Bakteriosin
Bakteriosin yang dihasilkan oleh BAL menyediakan beberapa senyawa yang dapat digunakan dalam pengawetan makanan, karena beberapa alasan .(i) Diakui sebagai zat yang aman. (ii) Tidak aktif dan tidak beracun pada sel eukariotik, (iii) dapat dilemahkan oleh protease pencernaan sehingga memiliki pengaruh yang kecil pada mikrobiota usus, (iv) toleran terhadap pH dan panas, (v) memiliki antimikroba dengan spektrum relatif luas, terhadap bakteri patogen dan pembusuk makanan, dan (vi) aktivitas bersifat bakterisidal, bekerja pada membran sitoplasma bakteri: tidak ada resistensi silang dengan antibiotik (Galvez et al., 2007).
Lactobacillus plantarum memiliki efek penurunan pada hypercholestero- lemia dan efeknya akan meningkat bila dicampur dengan jenis BAL lain (Hanaa et al., 2009). Bakteriosin dapat ditambahkan ke dalam makanan dalam bentuk kultur terkonsentrasi sebagai bahan pengawet makanan. Penambahan starter kultur bakteriosinogenik dapat dilakukan secara in situ sebagai pelindung tambahan. Bakteriosin immobil juga dapat digunakan untuk pengembangan kemasan makanan bioaktif (Galvez et al., 2007). Bakteri berkumpul dan menggabungkan diri untuk membentuk nisin film selulosa yang layak dikembangkan menjadi bahan kemasan aktif. Nisin film yang dikandung bakteri selulosa menunjukkan efektivitas dalam pengendalian L. monocytogenes dan mengurangi total mikroba pada permukaan sosis. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan aktif film bakteri selulosa akan men- jadi metode yang menjanjikan untuk meningkatkan keamanan dan memperpanjang umur simpan dari daging olahan (Nguyen et al., 2008).
Bakteri Patogen
Bakteri yang tumbuh dalam bahan pangan terbagi menjadi bakteri pembusuk yang dapat menyebabkan kerusakan makanan dan bakteri patogen penyebab penyakit pada manusia. Jumlah bakteri pembusuk umumnya lebih dominan dibandingkan dengan bakteri patogen (Fardiaz, 1992). Penyakit yang ditularkan melalui makanan hanya berhubungan dengan sejumlah kecil bakteri patogenik tertentu. Makanan atau bahan pangan tersebut digunakan sebagai substrat pertumbuhan bakteri patogen.
Bakteri patogen menyebabkan penyakit pada manusia melalui dua cara yaitu infeksi dalam kasus ini bakteri patogen berkembang biak dalam alat pencernaan manusia dan menghasilkan racun sedangkan intoksikasi adalah bakteri patogen menghasilkan racun dalam bahan pangan dan bahan pangan tersebut dikonsumsi oleh konsumen (Buckle et al.,1987). Mikroba yang dapat menyebabkan keracunan dan infeksi saat ikut terkonsumsi disebut mikroba patogen. Beberapa bakteri yang merupakan bakteri patogen diantaranya adalah famili Enterobacteriaceae yaitu Salmonella, Escherichia. Bakteri patogen lainnya adalah Staphylococcus aureus, Bacillus cereus, dan Pseudomonas yang merupakan jenis bakteri penyebab kebusuk- an pada makanan atau bakteri pembusuk (Fardiaz, 1989).
Salmonella spp merupakan bakteri yang menjadi indikator keamanan pangan (food safety) karena keberadaannya dalam bahan pangan dapat menyebabkan penyakit pada manusia. Bakteri dari jenis Salmonella merupakan bakteri penyebab infeksi. Jika tertelan oleh manusia dan masuk ke dalam tubuh dapat menimbulkan gejala salmonelosis, demam enterik, demam tifoid, dan demam paratifoid, serta infeksi lokal (Fardiaz, 1992). Menurut Dell-Potillo (2000), bakteri ini merupakan salah satu bakteri yang paling umum menyebabkan penyakit keracunan makanan di negara maju dan negara berkembang. Salmonella suatu bakteri gram negatif berbentuk batang melekat dan menyerang sel usus. Salmonella mempunyai tipe metabolisme yang bersifat fakultatif anaerob. Infeksi usus oleh Salmonella berakibat demam tifus enteric. Bakteri ini masuk ke dalam aliran darah melalui usus dan dialirkan ke seluruh tubuh. Salmonella merupakan kelompok bakteri patogen yang sering ditemukan pada produk pangan (Fardiaz, 1992). Berdasarkan tingkat bahayanya, Salmonella berada pada kelompok bahaya sedang,dengan penyebaran yang cepat. Pemanasan merupakan cara yang paling banyak dilakukan untuk membunuh Salmonella. Alternatif lainnya adalah dengan mengatur pH, menambahkan bahan-bahan kimia, penyimpanan pada suhu rendah dan radiasi. Pemanasan yang direkomendasikan untuk membunuh Salmonella spp. Umumnya pemanasan dilakukan selama 12 menit pada suhu 66 °C atau selama 78-83 menit pada suhu 60 °C (Fardiaz, 1992).
Escherichia coli merupakan flora normal yang hidup dalam saluran pencernaan manusia dan hewan. Bakteri patogen lain adalah Staphylococcus aureus. Ada enam macam enteroksin yang diproduksi Staphylococcus aureus di dalam makanan dan merupakan penyebab keracunan stafilokokus (intoksikasi) yaitu enteroksin A, B, C1, C2, D dan enteroksin E (Fardiaz, 1989).
Bakteri dibedakan menjadi bakteri Gram positif dan Gram negatif berdasarkan susunan dinding selnya yang mengakibatkan perbedaan dalam sifat-sifat pewarnaannya (Fardiaz, 1989). Dinding sel bakteri Gram positif 90% dari dinding selnya terdiri atas lapisan peptidoglikan, sedangkan lapisan tipis lainnya adalah asam teikoat. Dinding sel bakteri Gram negatif, hanya 5%-20% terdiri atas lapisan peptidoglikan, sedangkan lapisan lainnya terdiri atas protein, lipopolisakarida dan lipoprotein (Fardiaz, 1989). Staphylococcus aureus dan Bacillus cereus merupakan contoh bakteri Gram positif sedangkan Salmonella, Escherichia coli merupakan contoh bakteri Gram negatif (Buckle et al., 1987).
Pengolahan pangan dan pakan menggunakan BAL adalah teknologi yang telah ada sejak dulu yang dapat meningkatkan kandungan obat dan anti penyakit serta mencegah kebusukan dan perjangkitan penyakit yang disebabkan oleh bakteri patogen (Elegado et al., 2004). Bakteri L. plantarum umumnya lebih tahan terhadap keadaan asam dan oleh karenanya menjadi lebih banyak terdapat pada tahapan terakhir dari fermentasi tipe asam laktat. Bakteri ini sering digunakan dalam fermentasi susu, sayuran, dan daging (sosis). Fermentasi dari L. plantarum bersifat homofermentatif sehingga tidak menghasilkan gas (Buckle et al., 1987). Bakteri Lactobacillus plantarum terutama berguna untuk pembentukan asam laktat, penghasil hidrogen peroksida tertinggi dibandingkan bakteri asam laktat lainnya dan juga menghasilkan bakteriosin yang merupakan senyawa protein yang bersifat bakterisidal (James et al., 1992). Lactobacillus plantarum dapat memproduksi bakteriosin yang merupakan bakterisidal bagi sel sensitif dan dapat menyebabkan kematian sel dengan cepat walaupun pada konsentrasi rendah. Bakteriosin yang berasal dari L. plantarum dapat menghambat Staphylococcus aureus dan bakteri Gram negatif (Branen dan Davidson, 1993). L. plantarum mempunyai kemampuan untuk menghasilkan bakteriosin yang berfungsi sebagai zat antibiotik (Jenie dan Rini, 1995).
Lactobacillus plantarum 2C12 merupakan isolat indigenus yang diisolasi dari daging sapi lokal Indonesia. Arief et al. (2008) melaporkan bahwa suatu senyawa antimikroba diproduksi oleh bakteri asam laktat Lactobacillus plantarum 2C12 yang diisolasi dari daging sapi lokal. Senyawa antimikroba tersebut dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen Escherichia coli, Salmonella typhimurium dan 3 Staphylococcus aureus. Senyawa antimikroba yang diproduksi oleh Lactobacillus sp. 2C12 mengandung bakteriosin. Bakteriosin merupakan senyawa protein (umumnya berupa peptida) yang bersifat bakterisidal terhadap mikroorganisme (bakteri) yang ditinjau dari segi filogeniknya (genetiknya) berdekatan dengan mikroorganisme penghasil bakteriosin tersebut. Bakteriosin menurut Klaenhammer (1998) adalah protein atau peptida yang disintesa melalui ribosom yang dapat menghambat atau membunuh bakteri lain. Saat ini penggunaan bakteri asam laktat sebagai penghasil bakteriosin di bidang peternakan semakin bertambah luas, diantaranya sebagai biopreservatif. Produksi bakteriosin juga dapat menghambat perkembangan patogen yang mempunyai kekerabatan dekat dengan bakteri penghasil bakteriosin (Wiryawan dan Tjakradidjaja, 2001).
Beberapa bakteriosin dari bakteri asam laktat antara lain plantaricin A dari Lactobacillus plantarum (Nissen-Meyer et al., 1993), gassericin A dari Lactobacillus LA39 gasseri (Muriana dan Klaenhammer, 1991) dan plantaricin-149 dari Lactobacillus plantarum KTP 149 (Kato et al., 1994) yang telah terdeteksi, dimurnikan dan dikarakterisasi. Matsuaki et al. (1996) menyatakan produksi bakteriosin dipengaruhi oleh tingkat sumber karbon, nitrogen, dan phosfat yag terdapat dalam media. Sumber karbohidrat yang berbeda menghasilkan bakteriosin yang berbeda pula. Arief et al. (2008) menyatakan bahwa suatu senyawa antimikroba diproduksi oleh bakteri asam laktat Lactobacillus sp. 2C12 yang diisolasi dari daging sapi lokal. Senyawa antimikroba tersebut dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen Escherichia coli, Salmonella typhimurium dan Staphylococcus aureus. Senyawa antimikroba yang diproduksi oleh Lactobacillus sp. 2C12 mengandung bakteriosin. Berdasarkan hasil identifikasi, bakteriosin yang diproduksinya disebut plantaricin. Menurut Widiasih (2008), Lactobacillus plantarum 2C12 berbentuk bulat, susunan tunggal maupun rantai pendek. Bakteriosin yang diproduksi oleh Lactobacillus plantarum dikenal dengan nama plantaricin (Omar et al., 2008).
Karakteristik dari bakteriosin adalah : a) mempunyai spectrum aktivitas yang relatif sempit, terpusat di sekitar spesies penghasil bakteriosin (filogenik atau genetiknya cukup dekat), b) senyawa aktifnya terutama terdiri atas protein yang disintesis di ribosom, c) mempunyai reseptor pada sel sasarannya, d) gen penyandi penentu terdapat pada plasmid, yang berperan dalam produksi maupun imunitasnya (Tagg et al., 1976). Karakter lainnya dari bakteriosin adalah bersifat bakterisidal dan tahan panas (Jack et al., 1995).
Bakteriosin yang diproduksi oleh bakteri asam laktat (BAL) digunakan sebagai pengawet makanan dan berpotensi sebagai pengganti antibiotik (Reenen et al., 2006). Bakteriosin asal bakteri asam laktat dibagi ke dalam empat kelas yang berbeda yaitu kelas I adalah antibiotik, kelas II adalah peptide berukuran kecil sifatnya relatif stabil terhadap panas dan tidak mengandung lanthionin pada peptidanya, kelas III adalah peptide berukuran besar yang labil terhadap panas, dan kelas IV merupakan bakteriosin kompleks mengandung lipida atau separuh karbohidrat. Kelas I dan II merupakan kelas-kelas utama dari bakteriosin mempunyai potensi untuk digunakan di dalam aplikasi komersial.
Penggunaan bakteriosin lebih sering digunakan sebagai bahan pengawet makanan. Penggunaan bakteriosin sebagai biopreservatif memiliki beberapa keuntungan, yaitu (1) bakteriosin bukan bahan toksik dan mudah mengalami biodegradasi oleh enzim proteolitik karena merupakan senyawa protein, (2) tidak membahayakan mikroflora usus karena mudah dicerna oleh enzim-enzim saluran pencernaan, (3) aman bagi lingkungan dan dapat mengurangi penggunaan bahan kimia yang selama ini digunakan sebagai bahan pengawet makanan, dan (4) dapat digunakan dalam kultur bakteri unggul yang mampu menghasilkan senyawa antimikroba terhadap bakteri patogen atau dapat digunakan dalam bentuk senyawa antimikrobial yang telah dimurnikan (Nurliana, 1997).
Bakteriosin asal bakteri asam laktat merupakan peptida yang disintesis di ribosom yang memperlihatkan aktivitas antimikrob, pada banyak kasus mampu me- lawan bakteri yang biasanya berkerabat dekat dengan mikroorganisme penghasilnya. Beberapa bakteriosin yang berasal dari bakteri Gram positif memperlihatkan akti- vitas bakterisidal dengan spektra penghambat yang tidak luas dan sangat berguna sebagai agen antibakterial untuk berbagai aplikasi praktik. Bakteriosin dari bakteri asam laktat telah menjadi perhatian penting karena potensinya untuk digunakan sebagai bahan tambahan makanan yang aman sebagai preservatif alami dan non-toxic, serta mencegah terjadinya kebusukan pangan oleh bakteri patogen gram positif (Hata et al., 2010). Bakteriosin berakumulasi di dalam media kultur selama fase pertumbuhan eksponensial hingga fase pertumbuhan stasioner (Vuyst dan Vandamme, 1994). Produksi bakteriosin dipengaruhi oleh tipe dan level karbon, sumber nitrogen dan fosfat, surfaktan kation dan penghambat (Savadogo et al.,2006).
Mekanisme Aktivitas Bakteriosin
Kemampuan suatu senyawa antimikrob dalam menghambat pertumbuhan mikrob merupakan salah satu kriteria yang penting dalam pemilihan suatu senyawa antimikrob yang berfungsi sebagai bahan pengawet. Antimikrob menurut Gan dan Setiabudi (1987), adalah zat yang dapat menghambat pertumbuhan mikrob dan digunakan untuk pengobatan infeksi mikrob pada hewan dan manusia. Antimikrob harus mempunyai toksisitas setinggi mungkin terhadap bakteri target, tetapi relatif tidak toksik terhadap induk semangnya.
Gonzales et al. (1996) menyatakan bahwa berdasarkan sifat toksisitas selektifnya antimikrob dibedakan menjadi dua bagian, yaitu: (i) antimikrob yang bersifat bakteriostatik yaitu antimikrob yang menghalangi pertumbuhan mikroorganisme, tetapi tidak mematikan organisme itu, dan (ii) antimikrob yang bersifat bakterisidal yaitu antimikrob yang menyebabkan kematian dan lisisnya mikroorganisme. Sifat bakteriostatik akan menghambat pertumbuhan dan replikasi mikroorganisme, namun tidak menyebabkan kematian. Sifat bakterisidal berhubung- an dengan kemampuan senyawa untuk menyebabkan lisis sel mikroorganisme. Beberapa mikroba yang bersifat bakteriostatik dapat berubah menjadi bakteriosidal bila digunakan digunakan dalam dosis tinggi (Gan dan Setiabudi, 1987). Dwidjoseputro (1990) membedakan antimikrob berdasarkan efektivitas kerjanya terhadap berbagai mikroorganisme, yaitu: (i) antimikrob yang berspektrum luas, yaitu antimikrob yang efektif terhadap berbagai jenis mikroorganisme, dan (ii) antimikrob yang berspektrum sempit, yaitu antimikrob yang efektif terhadap mikroorganisme tertentu.
Mekanisme penghambatan pertumbuhan mikroba oleh bakteriosin adalah : (1) perusakan dinding sel sehingga mengakibatkan lisis atau menghambat pertumbuhan dinding sel pada sel yang sedang tumbuh; (2) mengubah permeabilitas membran sitoplasma yang menyebabkan kebocoran nutrien di dalam dinding sel; (3) denaturasi protein sel; (4) perusakan sistem metobolisme dalam sel dengan cara menghambat kerja enzim intraseluler (Pelczar dan Chan, 1986). Secara umum mekanisme aktivitas suatu senyawa antimikrob dapat dilakukan oleh senyawa bioaktif melalui mekanisme yang berbeda, yaitu: (i) mengganggu atau merusak komponen penyusun dinding sel, (ii) bereaksi dengan membran sel yang menyebabkan peningkatan permeabilitas dan kehilangan komponen penyusun seluler, (iii) inaktivasi enzim-enzim esensial, dan (iv) destruksi atau inaktivasi fungsi
dari material genetik (Branen dan Davidson, 1993).
Penggunaan Bakteriosin
Bakteriosin yang dihasilkan oleh BAL menyediakan beberapa senyawa yang dapat digunakan dalam pengawetan makanan, karena beberapa alasan .(i) Diakui sebagai zat yang aman. (ii) Tidak aktif dan tidak beracun pada sel eukariotik, (iii) dapat dilemahkan oleh protease pencernaan sehingga memiliki pengaruh yang kecil pada mikrobiota usus, (iv) toleran terhadap pH dan panas, (v) memiliki antimikroba dengan spektrum relatif luas, terhadap bakteri patogen dan pembusuk makanan, dan (vi) aktivitas bersifat bakterisidal, bekerja pada membran sitoplasma bakteri: tidak ada resistensi silang dengan antibiotik (Galvez et al., 2007).
Lactobacillus plantarum memiliki efek penurunan pada hypercholestero- lemia dan efeknya akan meningkat bila dicampur dengan jenis BAL lain (Hanaa et al., 2009). Bakteriosin dapat ditambahkan ke dalam makanan dalam bentuk kultur terkonsentrasi sebagai bahan pengawet makanan. Penambahan starter kultur bakteriosinogenik dapat dilakukan secara in situ sebagai pelindung tambahan. Bakteriosin immobil juga dapat digunakan untuk pengembangan kemasan makanan bioaktif (Galvez et al., 2007). Bakteri berkumpul dan menggabungkan diri untuk membentuk nisin film selulosa yang layak dikembangkan menjadi bahan kemasan aktif. Nisin film yang dikandung bakteri selulosa menunjukkan efektivitas dalam pengendalian L. monocytogenes dan mengurangi total mikroba pada permukaan sosis. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan aktif film bakteri selulosa akan men- jadi metode yang menjanjikan untuk meningkatkan keamanan dan memperpanjang umur simpan dari daging olahan (Nguyen et al., 2008).
Bakteri Patogen
Bakteri yang tumbuh dalam bahan pangan terbagi menjadi bakteri pembusuk yang dapat menyebabkan kerusakan makanan dan bakteri patogen penyebab penyakit pada manusia. Jumlah bakteri pembusuk umumnya lebih dominan dibandingkan dengan bakteri patogen (Fardiaz, 1992). Penyakit yang ditularkan melalui makanan hanya berhubungan dengan sejumlah kecil bakteri patogenik tertentu. Makanan atau bahan pangan tersebut digunakan sebagai substrat pertumbuhan bakteri patogen.
Bakteri patogen menyebabkan penyakit pada manusia melalui dua cara yaitu infeksi dalam kasus ini bakteri patogen berkembang biak dalam alat pencernaan manusia dan menghasilkan racun sedangkan intoksikasi adalah bakteri patogen menghasilkan racun dalam bahan pangan dan bahan pangan tersebut dikonsumsi oleh konsumen (Buckle et al.,1987). Mikroba yang dapat menyebabkan keracunan dan infeksi saat ikut terkonsumsi disebut mikroba patogen. Beberapa bakteri yang merupakan bakteri patogen diantaranya adalah famili Enterobacteriaceae yaitu Salmonella, Escherichia. Bakteri patogen lainnya adalah Staphylococcus aureus, Bacillus cereus, dan Pseudomonas yang merupakan jenis bakteri penyebab kebusuk- an pada makanan atau bakteri pembusuk (Fardiaz, 1989).
Salmonella spp merupakan bakteri yang menjadi indikator keamanan pangan (food safety) karena keberadaannya dalam bahan pangan dapat menyebabkan penyakit pada manusia. Bakteri dari jenis Salmonella merupakan bakteri penyebab infeksi. Jika tertelan oleh manusia dan masuk ke dalam tubuh dapat menimbulkan gejala salmonelosis, demam enterik, demam tifoid, dan demam paratifoid, serta infeksi lokal (Fardiaz, 1992). Menurut Dell-Potillo (2000), bakteri ini merupakan salah satu bakteri yang paling umum menyebabkan penyakit keracunan makanan di negara maju dan negara berkembang. Salmonella suatu bakteri gram negatif berbentuk batang melekat dan menyerang sel usus. Salmonella mempunyai tipe metabolisme yang bersifat fakultatif anaerob. Infeksi usus oleh Salmonella berakibat demam tifus enteric. Bakteri ini masuk ke dalam aliran darah melalui usus dan dialirkan ke seluruh tubuh. Salmonella merupakan kelompok bakteri patogen yang sering ditemukan pada produk pangan (Fardiaz, 1992). Berdasarkan tingkat bahayanya, Salmonella berada pada kelompok bahaya sedang,dengan penyebaran yang cepat. Pemanasan merupakan cara yang paling banyak dilakukan untuk membunuh Salmonella. Alternatif lainnya adalah dengan mengatur pH, menambahkan bahan-bahan kimia, penyimpanan pada suhu rendah dan radiasi. Pemanasan yang direkomendasikan untuk membunuh Salmonella spp. Umumnya pemanasan dilakukan selama 12 menit pada suhu 66 °C atau selama 78-83 menit pada suhu 60 °C (Fardiaz, 1992).
Escherichia coli merupakan flora normal yang hidup dalam saluran pencernaan manusia dan hewan. Bakteri patogen lain adalah Staphylococcus aureus. Ada enam macam enteroksin yang diproduksi Staphylococcus aureus di dalam makanan dan merupakan penyebab keracunan stafilokokus (intoksikasi) yaitu enteroksin A, B, C1, C2, D dan enteroksin E (Fardiaz, 1989).
Bakteri dibedakan menjadi bakteri Gram positif dan Gram negatif berdasarkan susunan dinding selnya yang mengakibatkan perbedaan dalam sifat-sifat pewarnaannya (Fardiaz, 1989). Dinding sel bakteri Gram positif 90% dari dinding selnya terdiri atas lapisan peptidoglikan, sedangkan lapisan tipis lainnya adalah asam teikoat. Dinding sel bakteri Gram negatif, hanya 5%-20% terdiri atas lapisan peptidoglikan, sedangkan lapisan lainnya terdiri atas protein, lipopolisakarida dan lipoprotein (Fardiaz, 1989). Staphylococcus aureus dan Bacillus cereus merupakan contoh bakteri Gram positif sedangkan Salmonella, Escherichia coli merupakan contoh bakteri Gram negatif (Buckle et al., 1987).
Minggu, 08 Juni 2014
CARA MENCANGKOK KARANG LAUT
Waktu di dasar laut berkedalaman 5—6 m. Sebuah tang aluminium
memotong-motong cabang Acropora kimbeensis. Hasil potongan dibawa ke
daratan untuk ditumbuhkan di dalam mangkuk berisi semen. Tujuh bulan
kemudian karang siap dipanen. Sebelum ditanam, potongan-potongan karang
itu dibersihkan dari lendir dalam bak berukuran 10 m x 1 m x 50 cm.
Selanjutnya setiap potongan ditancapkan di dalam mangkuk terbuat dari
campuran semen dan pasir dengan perbandingan 1:4. Sebagai perekat
dipakai semen. Karang yang akan ditumbuhkan itu didiamkan dalam bak air
laut bersalinitas 33 ppt selama 2—3 hari. Selanjutnya mereka diletakkan
di mangkuk-mangkuk berisi potongan karang dalam anjang-anjang yang
terbuat dari kayu meranti. Agar kuat, tiap mangkuk dilekatkan ke tali
senar yang terpasang di kanan kiri baris anjang-anjang. Proses itu belum
berakhir. Anjang-anjang lantas dipindahkan ke laut dan diletakkan dalam
meja persegi panjang berpondasi beton. Selama 30 hari karang-karang itu
tampak stres. Itu terlihat dari lapisan kerak atau encrusting yang
terbentuk setebal 1—2 cm di atas substrat. Namun, dari lapisan kerak itu
bermunculan polip-polip yang akan membentuk cabang karang baru. Dalam
waktu 7 bulan karang sudah membentuk lebih dari 4 cabang dan siap
dipanen. Panen dilakukan dengan cara mengangkat anjang-anjang ke
daratan, lalu ditaruh dalam bak 10 m x 1 m x 50 cm. Sebelum dikemas,
substrat yang tertutup lumut dan alga digosok. Setelah bersih, dasar
substrat diikatkan ke gabus agar mengapung saat dimasukkan ke dalam
kantong plastik berisi air hasil aerasi dengan skimmer. Oksigen
ditambahkan ke dalam kantong plastik agar karang dapat bertahan hingga
48 jam perjalanan. Setelah itu plastik diikat dan dimasukkan dalam boks
berkapasitas 15 kantong yang diberi lubang di kanan-kirinya. Supaya
tetap segar, di atas plastik diberi bongkahan es lalu ditutup selembar
plastik. Boks styrofoam itu dimasukkan dalam boks karton berlapis
plastik. Karang-karang hasil budidaya pun siap dikirim ke negara tujuan.
Berpolip kecil
Itulah proses transplantasi karang yang rutin dilakukan PT Purawisata Baruna, unit koral, Grup Pura, di Pulau Sambangan, Kepulauan Karimunjawa, sejak 2002. Sebanyak 42.000 karang hasil budidaya diekspor ke Eropa (Belanda, Jerman, Perancis, Italia, dan Spanyol), Amerika Serikat, dan Asia (Hongkong, China, Singapura, dan Arab). Jumlah itu sesuai dengan izin ekspor yang tertuang dalam SK Dirjen PHKA nomor SK 53/IV/IV-KKH/2007 tentang Penetapan Pembagian Kuota Ekspor Tumbuhan dan Satwa Liar 2007.
Bukan tanpa alasan perusahaan yang dikomandoi Jacobus Busono itu giat melakukan transplantasi. “Keragaman karang di sini tak kalah dengan Kepulauan Seribu atau Rajaampat di Papua. Namun, bila terus diambil maka akan punah,” kata Dwi Murtono, ST, pimpinan unit. Adanya transplantasi membuat ketersediaan karang melimpah dan tidak habis meski diekspor. Dampaknya, kehidupan terumbu karang tetap berlangsung harmonis. Yang ditransplantasi adalah jenis small polyp stony (karang batu berpolip kecil, red), seperti genus acropora, montipora, pocillopora, dan hydnopora. “Hampir 90% jenis-jenis itu karena memang pertumbuhannya cepat, terutama yang berbentuk cabang dan foliosa (daun),” kata Dwi. Sisanya jenis large polyp stony yang kebanyakan berbentuk massive (keras) dan submassive. “Masih dalam percobaan,” tambahnya. Itu lantaran bentuk massive dan submassive bulat dan keras bak batu sehingga sulit dipecah. Ditambah lagi pertumbuhannya lambat. “Setahun hitungannya milimeter,” tutur Dwi.
Achantastrea
Tingkat keberhasilan pencangkokan karang jenis-jenis itu mencapai 80%. Keberhasilan itu berkat kerja sama dengan zoocanthellae yang hidup dalam polip karang. “Zooxanthellae membantu penyerapan matahari untuk proses fotosintesis,” ujar Wisnu Widjatmoko, MSc. Menurut lulusan Biologi Karang Universitas Ryukios, Jepang itu matahari dibutuhkan karang sebanyak 95% untuk menghasilkan energi. Dari 80% yang berhasil dicangkok, 20%-nya dikembalikan ke alam—reseeding. Tujuannya untuk pelestarian terumbu karang. Karang yang dilepas ke alam ditaruh di dalam beton berukuran 40 cm x 40 cm. Letaknya berdekatan dengan karang yang tumbuh di alam. Keberhasilan mencangkok bukan berarti tanpa kematian. Sebanyak 20% karang mati gara-gara hama dan sedimentasi yang menyerang saat dipindahkan ke laut. Hama yang kerap mengganggu adalah Achantastrea plantii. Keluarga karang yang memiliki ratusan kaki itu memakan jaringan karang di dekatnya. Achantastrea itu bermunculan ketika bahan organik dan populasi karang padat. “Saat jumlah achantastrea melimpah, dalam sehari semua karang yang ditransplansi mati,” ujar Dwi. Hama lain adalah pinthaster yang berbentuk seperti bola. Ia sama ganasnya dengan achantastrea yang memakan polip karang. Selain jenis karang lain yang menjadi predator, alga pun mengganggu kehidupan karang. Contohnya alga ulfa dan spadina yang muncul setiap Agustus -Oktober. Keduanya menempel di substrat lalu menjalar sampai ke polip. Akibatnya tubuh karang tertutup dan tak dapat menyerap matahari.
Sedimentasi
Peletakkan anjang-anjang yang salah menjadi ancaman serius keberhasilan tranplantasi. Garagara salah pemilihan tempat, PT Purawisata Baruna harus menanggung kematian transplantasi sebanyak 50%. Itu akibat kesalahan meletakkan 20 anjang-anjang. Di kedua tempat itu arus laut kurang sehingga alga yang menjadi makanan karang menjadi sedikit. Selain arus, sedimentasi menjadi ancaman lain ketika salah meletakkan anjang-anjang. Saat upwelling (arus dari dasar laut naik ke atas, red) materi lumpur dan pasir akan terseret ombak. Laut menjadi keruh, materi menutupi polip, dan sinar matahari tidak dapat diserap. Akibatnya biota mati. Kejadian itu pernah menimpa pantai utara Jawa. Dari muara sungai limbah pabrik terbawa ke laut saat banjir. Dalam kondisi itu transplantasi karang akan mengalami kegagalan. Kekeruhan air dapat diukur dengan memakai tutup kaleng yang dicat hitam atau putih. “Warna apa saja bisa asal kontras dengan warna laut,” kata Arif Budiwibowo SPi, kepala operasional PT Purawisata Baruna. Saat tutup kaleng sudah tidak terlihat pada kedalaman 30 cm tandanya air laut keruh. Artinya sinar matahari tidak dapat diserap zooxanthellae karena terhalang oleh materi-materi sedimentasi. Untuk mengatasinya Arif merelokasi anjanganjang ke belakang pulau yang berjarak 200 m dari bibir pantai. Lokasi itu dipilih karena berarus sedang, tidak terlalu deras atau lemah. Arus sedang cocok untuk karang-karang dangkal seperti jenis-jenis yang dibudidayakan perusahaan yang berpusat di Jepara itu. Tak hanya itu saja, lokasi harus datar agar anjanganjang kuat saat diterjang arus. Hal lain, tempat anjang-anjang harus terhindar dari terjangan angin barat atau timur.
Dalam akurium
Proses transplantasi dapat juga dilakukan dalam akuarium. Seperti uji coba yang dilakukan Dr Unggul Aktani dan Center for Coastal and Marine Resources Studies Institut Pertanian Bogor pada 2004. Saat itu 5 cabang A. yongei dilekatkan dalam substrat campuran pasir dan semen, kemudian ditata dalam anjang-anjang. Anjanganjang tidak perlu dibawa ke laut, melainkan tetap dalam akuarium. “Yang terpenting kualitas air,” ujar Unggul. Agar sesuai dengan kondisi di laut, air yang dipakai
bersalinitas 30—34 ppt. Ketika salinitas naik lantaran terjadi penguapan, air dalam akuraium perlu ditambah air tawar. “Sampai nilainya kembali normal,” tambahnya. Untuk mengukur salinitas dipakai salinometer. Selain kualitas air, ketersediaan pakan artemia dan udang kecil menentukan keberhasilan pertumbuhan karang. Pakan itu diberi setiap hari. Sisa pakan dan kotoran diatasi dengan filter mekanis memakai spon. “Kotoran akan tersedot secara otomatis. Namun, filter secara rutin harus dibersihkan,” tutur alumnus Ekologi Terumbu Karang Universitas Bremen Jerman itu. Serangkaian perlakukan itu meningkatkan keberhasilan transplantasi dalam akuarium mencapai 70%. Sisanya, 30%, mati. Penyebabnya kualitas air dan perubahan suhu yang tajam. Di Bogor—tempat percobaan—suhu malam hari turun. Suhu akuarium pun ikut turun menjadi 24°C. Perlakuan serupa juga diterapkan Daniel Knop, akuaris asal Jerman. Beragam jenis acropora ditransplantasinya dalam akuarium. Hasilnya dipakai sebagai ornamen akuarium laut. Itulah beragam cara transplantasi. Hasil transplantasi, selain dikembalikan ke alam sebagai wujud pelestarian terumbu karang juga dapat di ekspor ke mancanegara.
Berpolip kecil
Itulah proses transplantasi karang yang rutin dilakukan PT Purawisata Baruna, unit koral, Grup Pura, di Pulau Sambangan, Kepulauan Karimunjawa, sejak 2002. Sebanyak 42.000 karang hasil budidaya diekspor ke Eropa (Belanda, Jerman, Perancis, Italia, dan Spanyol), Amerika Serikat, dan Asia (Hongkong, China, Singapura, dan Arab). Jumlah itu sesuai dengan izin ekspor yang tertuang dalam SK Dirjen PHKA nomor SK 53/IV/IV-KKH/2007 tentang Penetapan Pembagian Kuota Ekspor Tumbuhan dan Satwa Liar 2007.
Bukan tanpa alasan perusahaan yang dikomandoi Jacobus Busono itu giat melakukan transplantasi. “Keragaman karang di sini tak kalah dengan Kepulauan Seribu atau Rajaampat di Papua. Namun, bila terus diambil maka akan punah,” kata Dwi Murtono, ST, pimpinan unit. Adanya transplantasi membuat ketersediaan karang melimpah dan tidak habis meski diekspor. Dampaknya, kehidupan terumbu karang tetap berlangsung harmonis. Yang ditransplantasi adalah jenis small polyp stony (karang batu berpolip kecil, red), seperti genus acropora, montipora, pocillopora, dan hydnopora. “Hampir 90% jenis-jenis itu karena memang pertumbuhannya cepat, terutama yang berbentuk cabang dan foliosa (daun),” kata Dwi. Sisanya jenis large polyp stony yang kebanyakan berbentuk massive (keras) dan submassive. “Masih dalam percobaan,” tambahnya. Itu lantaran bentuk massive dan submassive bulat dan keras bak batu sehingga sulit dipecah. Ditambah lagi pertumbuhannya lambat. “Setahun hitungannya milimeter,” tutur Dwi.
Achantastrea
Tingkat keberhasilan pencangkokan karang jenis-jenis itu mencapai 80%. Keberhasilan itu berkat kerja sama dengan zoocanthellae yang hidup dalam polip karang. “Zooxanthellae membantu penyerapan matahari untuk proses fotosintesis,” ujar Wisnu Widjatmoko, MSc. Menurut lulusan Biologi Karang Universitas Ryukios, Jepang itu matahari dibutuhkan karang sebanyak 95% untuk menghasilkan energi. Dari 80% yang berhasil dicangkok, 20%-nya dikembalikan ke alam—reseeding. Tujuannya untuk pelestarian terumbu karang. Karang yang dilepas ke alam ditaruh di dalam beton berukuran 40 cm x 40 cm. Letaknya berdekatan dengan karang yang tumbuh di alam. Keberhasilan mencangkok bukan berarti tanpa kematian. Sebanyak 20% karang mati gara-gara hama dan sedimentasi yang menyerang saat dipindahkan ke laut. Hama yang kerap mengganggu adalah Achantastrea plantii. Keluarga karang yang memiliki ratusan kaki itu memakan jaringan karang di dekatnya. Achantastrea itu bermunculan ketika bahan organik dan populasi karang padat. “Saat jumlah achantastrea melimpah, dalam sehari semua karang yang ditransplansi mati,” ujar Dwi. Hama lain adalah pinthaster yang berbentuk seperti bola. Ia sama ganasnya dengan achantastrea yang memakan polip karang. Selain jenis karang lain yang menjadi predator, alga pun mengganggu kehidupan karang. Contohnya alga ulfa dan spadina yang muncul setiap Agustus -Oktober. Keduanya menempel di substrat lalu menjalar sampai ke polip. Akibatnya tubuh karang tertutup dan tak dapat menyerap matahari.
Sedimentasi
Peletakkan anjang-anjang yang salah menjadi ancaman serius keberhasilan tranplantasi. Garagara salah pemilihan tempat, PT Purawisata Baruna harus menanggung kematian transplantasi sebanyak 50%. Itu akibat kesalahan meletakkan 20 anjang-anjang. Di kedua tempat itu arus laut kurang sehingga alga yang menjadi makanan karang menjadi sedikit. Selain arus, sedimentasi menjadi ancaman lain ketika salah meletakkan anjang-anjang. Saat upwelling (arus dari dasar laut naik ke atas, red) materi lumpur dan pasir akan terseret ombak. Laut menjadi keruh, materi menutupi polip, dan sinar matahari tidak dapat diserap. Akibatnya biota mati. Kejadian itu pernah menimpa pantai utara Jawa. Dari muara sungai limbah pabrik terbawa ke laut saat banjir. Dalam kondisi itu transplantasi karang akan mengalami kegagalan. Kekeruhan air dapat diukur dengan memakai tutup kaleng yang dicat hitam atau putih. “Warna apa saja bisa asal kontras dengan warna laut,” kata Arif Budiwibowo SPi, kepala operasional PT Purawisata Baruna. Saat tutup kaleng sudah tidak terlihat pada kedalaman 30 cm tandanya air laut keruh. Artinya sinar matahari tidak dapat diserap zooxanthellae karena terhalang oleh materi-materi sedimentasi. Untuk mengatasinya Arif merelokasi anjanganjang ke belakang pulau yang berjarak 200 m dari bibir pantai. Lokasi itu dipilih karena berarus sedang, tidak terlalu deras atau lemah. Arus sedang cocok untuk karang-karang dangkal seperti jenis-jenis yang dibudidayakan perusahaan yang berpusat di Jepara itu. Tak hanya itu saja, lokasi harus datar agar anjanganjang kuat saat diterjang arus. Hal lain, tempat anjang-anjang harus terhindar dari terjangan angin barat atau timur.
Dalam akurium
Proses transplantasi dapat juga dilakukan dalam akuarium. Seperti uji coba yang dilakukan Dr Unggul Aktani dan Center for Coastal and Marine Resources Studies Institut Pertanian Bogor pada 2004. Saat itu 5 cabang A. yongei dilekatkan dalam substrat campuran pasir dan semen, kemudian ditata dalam anjang-anjang. Anjanganjang tidak perlu dibawa ke laut, melainkan tetap dalam akuarium. “Yang terpenting kualitas air,” ujar Unggul. Agar sesuai dengan kondisi di laut, air yang dipakai
bersalinitas 30—34 ppt. Ketika salinitas naik lantaran terjadi penguapan, air dalam akuraium perlu ditambah air tawar. “Sampai nilainya kembali normal,” tambahnya. Untuk mengukur salinitas dipakai salinometer. Selain kualitas air, ketersediaan pakan artemia dan udang kecil menentukan keberhasilan pertumbuhan karang. Pakan itu diberi setiap hari. Sisa pakan dan kotoran diatasi dengan filter mekanis memakai spon. “Kotoran akan tersedot secara otomatis. Namun, filter secara rutin harus dibersihkan,” tutur alumnus Ekologi Terumbu Karang Universitas Bremen Jerman itu. Serangkaian perlakukan itu meningkatkan keberhasilan transplantasi dalam akuarium mencapai 70%. Sisanya, 30%, mati. Penyebabnya kualitas air dan perubahan suhu yang tajam. Di Bogor—tempat percobaan—suhu malam hari turun. Suhu akuarium pun ikut turun menjadi 24°C. Perlakuan serupa juga diterapkan Daniel Knop, akuaris asal Jerman. Beragam jenis acropora ditransplantasinya dalam akuarium. Hasilnya dipakai sebagai ornamen akuarium laut. Itulah beragam cara transplantasi. Hasil transplantasi, selain dikembalikan ke alam sebagai wujud pelestarian terumbu karang juga dapat di ekspor ke mancanegara.
Minggu, 11 Mei 2014
MENGEMBANGKAN KONSEP PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA BAHARI
Indonesia
merupakan negara kepuluan yang terdiri dari ribuan pulau dan di batasi dengan
laut, keindahan alam bahari sangat luar biasa. Indonesia merupakan Negara
kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari lebih 17.000 pulau dan memiliki
panjang garis pantai 81.000 km yang merupakan terpanjang kedua di dunia setelah
Kanada 81.000 km. Pengmbangan potensi alam masih sangat terbuka dan masih
banyak langkah yang bisa di lakukan.
Sepanjang
garis pantai tersebut terdapat wilayah pesisir yang relatif sempit namun
mempunyai sumber daya pesisir yang kaya dan sangat rentan mengalami kerusakan jika
pemanfaatannya kurang memperhatikan kaidah-kaidah pengelolaan yang
lestari.
Wilayah
pesisir sebagai kawasan peralihan yang menghubungkan ekosistem darat dan
ekosistem laut terletak antara batas sepandan dan ke arah darat sejauh pasang
tertinggi dan ke arah laut sejauh 12 mil laut dari garis surut terendah sangat
rentan terhadap kerusakan dan perubahan yang diakibatkan oleh berbagai
aktivitas manusia di darat maupun di laut.
Wilayah
pesisir sebagai salah satu kekayaan dari sumber daya alam yang sangat penting
bagi rakyat dan pembangunan nasional tersebut haruslah dikelola secara terpadu
dan berkelanjutan serta optimal.
Kawasan
pesisir adalah wilayah pesisir tertentu yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh
pemerintah berdasarkan kriteria tertentu seperti karakter fisik, biologi,
sosial dan ekonomi untuk dipertahankan keberadaannya sedangkan kawasan bahari
adalah jenis pariwisata alternatif yang berkaitan dengan kelautan, baik di atas
permukaan laut maupun kegiatan yang dilakukan di bawah permukaan laut.
Rencana
pengembangan kawasan bahari harus dikaitkan dengan berbagai kepentingan yang
mendasar, yaitu pemberdayaan masyarakat pesisir. Masyarakat pesisir adalah
masyarakat yang memiliki banyak pengetahuan tentang kondisi obyektif
wilayahnya, oleh Karena itu dalam pengembangan kawasan wisata bahari,
senantiasa hendaknya di mulai pendekatan terhadap masyarakat setempat sebagai
suatu model pendekatan perencanaan partisipatif yang menempatkan masyarakat
pesisir memungkinkan saling berbagi, meningkatkan dan menganalisa pengetahuan
mereka tentang bahari dan kehidupan pesisir, membuat rencana dan bertindak.
Pembangunan
yang berpusat pada masyarakat lebih menekankan pada pemberdayaan (empowerment),
yang memandang potensi masyarakat sebagai sumber daya utama dalam pembangunan
dan memandang kebersamaan sebagai tujuan yang akan dicapai dalam proses pembangunan.
Masyarakat pesisir adalah termasuk masyarakat hukum adat yang hidup secara
tradisional di dalam kawasan pesisir maupun di luar kawasan pasisir. Oleh
karena itu dalam rangka pengelolaan kawasan wisata bahari maka prinsip dasar
yang harus dikembangkan adalah:
1. Prinsip co-ownership yaitu bahwa
kawasan wisata bahari adalah milik bersama untuk itu ada hak-hak masyarakat di
dalamnya yang harus diakui namun juga perlindungan yang harus dilakukan
bersama.
2. Prinsip co-operation/co management
yaitu bahwa kepemilikan bersama mengharuskan, pengelolaan pesisir untuk
dilakukan bersama-sama seluruh komponen masyarakat (stakeholder) yang terdiri
dari pemerintah, masyarakat dan organisasi non pemerintah (ORNOP) yang harus
bekerja sama
3. Prinsip co-responsibility yaitu bahwa
keberadaan kawasan wisata bahari menjadi tanggung jawab bersama karena
pengelolaan kawasan wisata bahari merupakan tujuan bersama
Ketiga
prinsip tersebut dilaksanakan secara terpadu, sehingga fungsi kelestarian
pesisir tercapai dengan melibatkan secara aktif peran serta masyarakat sekitar
pesisir. Oleh karena itu agar masyarakat mampu berpartisipasi, maka perlu
keberdayaan baik ekonomi, sosial dan pendidikan, untuk itu dibutuhkan peran
pemerintah dalam memberdayakan masyarakat sekitar pesisir agar meningkatkan
keseganteraannya melalui 6 prinsip pemberdayaan yaitu :
1. Modal masyarakat (social capital)
merupakan kerjasama dan nilai-nilai yang disepakati
2. Infrastruktur dan pengembangan
lembaga-lembaga kemasyarakatan informal yang berorientasi kepada kemajuan
3. Orientasi kepemilikan (asset
orientation) yaitu pengembangan yang bertumpu pada penggalian kemampuan
masyarakat sebagai model pengembangan
4. Kerjasama (collaboration) yaitu
mengembangkan pola kerjasama yang tumbuh dari dalam
5. Visi dan tindakan strategis yaitu
membangun visi, misi dan tindakan
6. Seni demokrasi, yaitu mengembangkan
peran dan partisipatif yang tumbuh dari dalam
2.
Tujuan dan Manfaat
1.
Tujuan
a. Mengembangkan dan meningkatkan upaya
memanfaatkan lingkungan alam pada umumnya dan lingkungan bahari pada khususnya
sebagai sumber daya sosial dan ekonomi yang pengelolaannya tetap harus
berwawasan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan
b. Memberikan gambaran mengenai
pengelolaan wisata bahari secara tepat dan profesional, sehingga akan mampu
mengembangkan adanya tuntutan konservasi dan menjaga kelestarian alam dengan
mengikutsertakan peran serta masyarakat setempat guna membantu kesejahteraan
masyarakat
c. Mengkoordinasikan peran pihak-pihak
yang berminat mengembangkan kawasan wisata bahari, di lingkungan wilayah
setempat yang menjadikan wilayah tersebut sebagai salah satu daerah tujuan
wisata bahari dengan melalui pola pengelolaan dalam bentuk corporate
management.
2.
Manfaat
a. Upaya pemanfaatan optimal potensi
wisata bahari yang sekaligus menyelamatkan lingkungan biofrafisik dan
lingkungan sosial ekonomi dan budaya serta
melestarikan
sumber daya alam bahari
b. Menciptakan insentif secara efektif
bagi pengelolaan kawasan wisata bahari tanpa mengabaikan nilai-nilai utama
konservasi melalui pemanfaatan sumber daya berkelanjutan. Seperti pengembangan
ekowisata yang memperhatikan kepekaan lingkungan
c. Melindungi dan mendorong pemanfaatan
sumber daya alam hayati yang sesuai dengan praktek-praktek budaya, tradisional,
masyarakat pesisir yang cocok dengan persyaratan konservasi atau pemanfaatan
secara berkelanjutan
d. Mendorong pertumbuhan kepekaan
masyarakat pesisir akan makna dan arti penting kawasan wisata bahari sebagai
bagian peningkatan sosial, ekonomi masyarakat yang dihasilkan dari pertumbuhan
dan perkembangan kedatangan wisatawan dan usaha pariwisata
3.
Sasaran
a. Terwujudnya pengembangan kawasan wisata
bahari yang didukung oleh masyarakat pesisir
b. Terwujudnya pengetahuan, wawasan, sikap
dan keterampilan masyarakat pesisir dalam pengelolaan kawasan wisata
bahari
c. Terciptanya penataan kawasan wisata
bahari yang sesuai dengan zonasi peruntukan lahan, daya dukung lahan dan
kepemilikan lahan
d. Terwujudnya tata cara pengelolaan
kawasan wisata bahari yang berdasarkan kepada managemen
pengelolaan
yang tepat
e. Terwujudnya Brand image kepariwisataan
Kabupaten
Sukabumi
4.
Konsep pengembangan kawasan wisata bahari
Masyarakat
pesisir adalah masyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupannya di
sepanjang hari dengan kehidupan yang dihasilkan oleh laut. Laut adalah tempat
dimana mereka mengelola kehidupannya, mengembangkan kreativitas dan inovasi
untuk mengoptimalkan potensi kelautan sebagai bagian yang tidak terpisahkan
dari mereka dalam berperan serta baik dalam konservasi lingkungan, pemanfaatan
lingkungan dan pengelolaan lingkungan. Pemanfaatan secara optimal terhadap
potensi kelautan, tidak berarti melupakan faktor yang sangat penting bagi nilai
pengembangan kawasan wisata bahari yang berkelanjutan, yaitu upaya perbaikan
terhadap kawasan yang rusak dan keanekaragaman potensinya telah berkurang.
Pengembangan
kawasan wisata bahari adalah satu bentuk pengelolaan kawasan wisata yang
berupaya untuk memberikan manfaat terutama bagi upaya perlindungan dan
pelestarian serta pemanfaatan potensi dan jasa lingkungan sumber daya kelautan.
Di lain pihak masyarakat dapat merasakan manfaatnya secara langsung pada usaha
pariwisata melalui terbukanya kesempatan kerja dan usaha yang pada gilirannya
akan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat dan pemerintah.
5.
Pendekatan pengembangan wisata bahari
a. Pengembangan kawasan wisata bahari
lebih diarahkan dan dipergunakan menuju upaya pengembangan kawasan wisata ramah
lingkungan. Pengembangan kawasan wisata bahari harus menghindari pencemaran dan
perusakan lingkungan hidup dan pemborosan sumber daya alam bahari
b. Pengembangan kawasan wisata bahari
perlu mengetengahkan faktor kewaspadaan terhadap dampak lingkungan menjadi
sangat penting, terutama dari kunjungan wisatawan yang tidak terkendali guna
memelihara keberlanjutan kualitas lingkungan hidup/sumber daya alam wisata
tropika khususnya dan menjamin pembangunan (ekonomi) berkelanjutan.
c. Analisis data potensi dan pemanfaatan
sumber daya untuk mengidentifikasikan nilai-nilai yang berpengaruh terhadap
kelangsungan pemeliharaan dan pengembangan sumber stakeholder cakupan
identifikasi tersedia dan maupun untuk budi daya perairan, wisata pemukiman,
bisnis rekreasi atau industri
d. Pengembangan kawasan wisata bahari
memiliki keterkaitan luas dengan peran masyarakat pesisir, oleh karena itu
dalam pengembangan kawasan wisata bahari dibutuhkan penentuan zonasi yang tepat
dari setiap wilayah diperlukan untuk tidak menjadi benturan kepentingan antara
zona pertumbuhan pemukiman dengan zonasi kawasan wisata bahari yang dikelola
dan dimanfaatkan bagi kegiatan rekreasi
e. Pengembangan prasarana yang dapat
mendorong pertumbuhan antar wilayah melalui sistem prioritas pengembangan
kawasan wisata bahari berdasarkan tipe, potensi dan karakter alam yang dimiliki
oleh masingmasing kawasan
Minggu, 13 April 2014
PENGGUNAAN PAKAN IKAN DENGAN FERMENTASI AMPAS TAHU
Tahu sebagai makan yang sangat umum
dengan bahan baku kedekai, tahu tentu tidak asing lagi di telinga masyarakat
Indonesia, makanan ini merupakan lauk-pauk sehari-hari dan memiliki kandungan
protein tinggi. Tahu terbuat dari kedelai yang diolah dengan cara direbus dan digiling,
serta memiliki kandungan protein nabati yang cukup tinggi. Dan bagian kedelai
yang tidak dapat diolah menjadi tahu disebut ampas tahu. Ampas tahu sering
menjadi masalah di lingkungan industri pembuatan tahu karena ampas tahu ini
merupakan limbah produksi. Walaupun dianggap limbah, ampas tahu dapat diolah
menjadi makanan, masakan ataupun pakan bagi ikan lele. Khususnya, pengolahan
ampas tahu menjadi pakan ikan lele menggunakan proses fermentasi sehingga dalam
pakan ampas tahu mengandung alkohol. Kandungan alkohol dalam pakan ampas tahu
berfungsi sebagai pengganti hormon untuk proses sexreversal, karena penggunaan
hormon untuk proses sex reversal berdampak kurang baik pada pengkonsumsi ikan
yang disexreversal tersebut.
Tahu sebagai lauk pauk dan makanan
kecil yang bergizi sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Dengan
memiliki kandungan protein yang tinggi tetapi pada ampas tahupun masih memiliki
kegunaan yang cukup baik bagi ikan.
Kedelai merupakan bahan dasar pembuatan
tahu. Kedelai yang digunakan dalam pembuatan tahu ini, tidak kesemua bagiannya
dapat diolah menjadi tahu. Bagian kedelai yang tidak dapat diolah menjadi tahu,
disebut ampas tahu. Di industri–industri tahu, ampas tahu dianggap limbah dan
tidak memilliki nilai ekonomis, sehingga banyak sekali industri tahu yang
membuang ampas tahu dsembarang tempat tanpa ada pengolahan lebih lanjut yang
dapat meningkatkan harga jual ampas tahu. Hal inilah yang kemudian hari
menimbulkan masalah sosial yang seakan susah untuk terselsaikan.
Padahal dengan melakukan pengolahan
lebih lanjut, ampas tahu akan menjadi barang yang sangat berguna dan memiliki
nilai ekonomis tinggi. Ampas tahu dapat diolah menjadi kerupuk ampas tahu
maupun pakan buatan ikan yang berbahan dasar ampas tahu. Dengan kandungan
protein yang cukup tinggi pada kedelai, jelas ampas tahu juga memiliki
kandungan protein yang tinggi pula. Protein sangat dibutuhkan oleh tubuh untuk
pertumbuhan, energi, dan lain–lain.
Pengolahan ampas tahu sebagai bahan
dasar pakan buatan untuk ikan lele, sekarang ini sedang dikembangkan dan
diterapkan pada budidaya lele, khususnya budidaya lele organik. Ampas tahu
selain memiliki kandungan protein yang tinggi, juga harga bahan, biaya
produksi, dan proses produksinya murah meriah. Menurut Setyono (2010;2), harga
per kilogram ampas tahu ialah Rp. 500;- dan pembuatannya pun relatif mudah jika
dibandingkan dengan pembuatan pakan sejenisnya.
Pembuatan pakan dari ampas tahu
menggunakan proses fermentasi. Proses fermentasi ialah proses penguraian
struktur bahan organik dan pengawetan suatu bahan dengan bantuan fungi atau
cendawan dan bakteri. Selain menguraikan bahan organik, hasil dari proses
fermentasi juga menghasilkan kandungan alkohol dalam ampas tahu tersebut.
Kandungan alkohol yang dihasilkan pada proses fermentasi ampas tahu, lebih
kecil jika dibandingkan dengan kandungan alkohol pada proses fermentasi bahan
lainnya seperti anggur, beras ketan dan lain – lain.
Kandungan alkohol yang terdapat dalam
ampas tahu ini, memiliki kekurangan dan kelebihan. Kekurangannya ialah pakan
berbahan dasar ampas tahu tidak boleh diberikan pada organisme yang akan
dijadikan indukan maupun calon induk, hal ini akan menetralkan gonad sang calon
induk. Dan adapun kelebihannya ialah pakan ini dapat digunakan sebagai
bahankimia alternatif pengganti hormon tirosin untuk proses sexreversal. Hormon
untuk proses sexreversal sangat berbahaya penggunaannya dan sekarang ini telah
dilarang penggunaannya. Penggunaan hormon untuk proses sexreversal dalam proses
sexreversal akan berakibat fatal bagi yang mengkonsumsi ikan yang telah
disexreversal, terutama wanita, karena dapat merangsang peningkatan hormon
untuk proses sexreversal secara berlebihan. Sexreversal bertujuan untuk
menyamakan gender ikan budidaya agar pertumbuhan ikan budidaya menjadi lebih
cepat.
Pemberian pakan ampas tahu ini, hanya
dapat diberikan pada ikan untuk pembesaran dan sexreversal saja. Pakan ini
sangat disukai oleh ikan lele, hal ini dengan yang diungkapkan Setyono (2010;5)
ikan lele sangat menyukai pakan yang berbahan dasar ampas tahu karena pakan ini
memiliki aroma yang sama dengan pakan buatan pabrik ternama (pakan buatan yang
digemari ikan lele) dan juga kandungan proteinnya tinggi.
Pakan ampas tahu yang diberikan
kepada ikan lele, menurut penilitian terbaru, pakan ini dapat menyamakan
pertumbuhan ikan sekitar 80 %. Hal ini bertujuan untuk mengurangi tingkat
kanibalisme pada ikan lele. Pemberian pakan ampas tahu merupakan pakan pokok
dalam budidaya, sedangkan untuk pakan tambahan digunakan pakan buatan pabrik.
Pakan berbahan dasar ampas tahu
memiliki banyak kelebihan, diantaranya mengurangi dampak pencemaran lingkungan
akibat limbah ampas tahu, mengurangi biaya produksi budidaya, dan sebagai bahan
alternatif yang aman untuk proses sexreversal. Untuk mengembangkan pemanfaatan
ampas tahu sebagai pakan buatan untuk ampas tahu, perlu adanya perhatian dari
pemerintah kepada masyarakat dan industri tahu. Perhatian tersebut dapat dalam
bentuk pelatihan-pelatihan maupun penyuluhan. Tidak hanya itu sebaiknya
pemerintah juga menbimbing kelompok tani pembudidaya ikan lele untuk
memanfaatkan ampas tahu sebagai bahan dasar pembuatan pakan lele.
Dengan melakukan pengolahan lebioh
lanjut, ampas tahu akan memiliki nillai ekonomis yang cukup tinggi. Pengolahan
ampas tahu dapat berupa kerupuk, makanan ringan maupun bahan dasar pakan ikan.
Dalam dunia budidaya sekarang ini, pakan ampas tahu merupakan pakan alternatif
yang sedang diminati para petani. Pakan ampas tahu selain biaya produksinya
rendah disbanding pakan sejenisnya, pakan ampas tahu ini juga dapat mempercepat
pertumbuhan ikan. Menurut hasil penilitian terbaru, karena proses pembuatan
pakan ampas tahu dengan fermentasi, dalam pakan ini mengandung yang alkohol.
Kandungan alkohol dalam pakan ampas tahu ini dapat menggantikan fungsi hormon
untuk proses sexreversal untuk proses sex reversal.
Penggunaan hormon untuk proses
sexreversal secara berlebihan akan memberikan dampak yang kurang baik bagi
konsumen pengkonsumsi daging ikan yang pembudidayaan secara sex reversal dengan
hormon untuk proses sexreversal. Dampak dari penggunaan hormon untuk proses
sexreversal ini antara lain jumlah hormon untuk proses sexreversal dalam tubuh
organisme penmgkonsumsi akan berlebih, sehingga sifat kejantanan dari organisme
akan lebih mendominasi. Hal ini sangat berbahaya bagi manusia, misalnya wanita
karena mengkonsumsi ikan yang disexreversal dengan hormon dapat menghilangkan
ciri kewanitaannya, begitu juga pada laki-laki.
Nilai Gizi Ampas Tahu
Ampas tahu lebih tinggi kualitasnya
dibandingkan dengan kacang kedelai. Protein ampas tahu mempunyai nilai biologis
lebih tinggi daripada protein biji kedelai dalam keadaan mentah karena bahan
ini berasal dari kedelai yang telah dimasak. Ampas tahu juga mengandung
unsur-unsur mineral mikro maupun makro yaitu: Fe 200-500 ppm, Mn 30-100 ppm, Cu
5-15 ppm, Co < 1 ppm dan Zn > 50 ppm.
Ampas tahu dalam keadaan segar
berkadar air sekitar 84,5% dari bobotnya. Kadar air yang tinggi dapat
menyebabkan umur simpannya pendek. Ampas tahu basah tidak tahan disimpan dan
akan cepat menjadi asam dan busuk selama 2-3 hari, sehingga ternak tidak
menyukai lagi. Ampas tahu kering mengandung air sekitar 10,0-15,5% sehingga
umur simpannya lebih lama dibandingkan dengan ampas tahu segar
Senin, 10 Maret 2014
JINTEN HITAM (NIGELLA SATIVA) TANAMAN BERPOTENSI SEBAGAI IMUNOSTIMULAN PADA IKAN LELE
Ikan lele (Clarias sp.) merupakan ikan yang banyak terdapat di
Indonesia. Salah satu ikan lele yang banyak ditemukan di Indonesia
adalah ikan lele dumbo (Clarias gariepinus). Ikan lele dumbo merupakan
spesies ikan lele yang pertama kali diperkenalkan pada tahun 1984, yang
diperoleh dari hasil persilangan antara induk betina lele asli Taiwan
dan induk pejantan yang berasal dari Afrika. Lele dumbo masuk pertama
kali di Indonesia pada tahun 1986, yang diimpor dari Taiwan.
A. Taksonomi dan Morfologi Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus Burchell)
Ikan lele dumbo (Clarias gariepinus Burchell) berasal dari Benua Afrika dan pertama kali didatangkan ke Indonesia pada tahun 1984. Jenis ikan lele ini termasuk hibrida dan pertumbuhan badannya cukup spektakuler baik panjang tubuh maupun beratnya. Dibanding kerabat dekatnya ikan lele lokal (Clarias batrachus) lele dumbo memiliki pertumbuhan empat kali lebih cepat. Oleh sebab itu, ikan jenis ini dengan mudah menjadi populer di masyarakat.
Di Indonesia ada 6 (enam) jenis ikan lele yang dikembangkan:
1. Clarias batrachus, dikenal sebagai ikan lele (Jawa), ikan kalang (Sumatera Barat), ikan maut (Sumatera Utara), dan ikan pintet (Kalimantan Selatan).
2. Clarias teysmani, dikenal sebagai lele Kembang (Jawa Barat), Kalang putih (Padang).
3. Clarias melanoderma, yang dikenal sebagai ikan duri (Sumatera Selatan), wais (Jawa Tengah), wiru (Jawa Barat).
4. Clarias nieuhofi, yang dikenal sebagai ikan lindi (Jawa), limbat (Sumatera Barat), kaleh (Kalimantan Selatan).
5. Clarias loiacanthus, yang dikenal sebagai ikan keli (Sumatera Barat), ikan penang (Kalimantan Timur).
6. Clarias gariepinus Burchell, yang dikenal sebagai lele dumbo berasal dari Afrika
Ikan lele digemari semua lapisan masyarakat sebagai protein hewani alternatif yang harganya murah. Ikan lele mudah diolah, bergizi tinggi dan rasanya enak. Ikan lele dumbo mudah dipelihara, disimpan dan dipasarkan baik berupa ikan hidup maupun ikan segar (Alam Ikan 3). Kedudukan taksonomi ikan lele dumbo adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
A. Taksonomi dan Morfologi Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus Burchell)
Ikan lele dumbo (Clarias gariepinus Burchell) berasal dari Benua Afrika dan pertama kali didatangkan ke Indonesia pada tahun 1984. Jenis ikan lele ini termasuk hibrida dan pertumbuhan badannya cukup spektakuler baik panjang tubuh maupun beratnya. Dibanding kerabat dekatnya ikan lele lokal (Clarias batrachus) lele dumbo memiliki pertumbuhan empat kali lebih cepat. Oleh sebab itu, ikan jenis ini dengan mudah menjadi populer di masyarakat.
Di Indonesia ada 6 (enam) jenis ikan lele yang dikembangkan:
1. Clarias batrachus, dikenal sebagai ikan lele (Jawa), ikan kalang (Sumatera Barat), ikan maut (Sumatera Utara), dan ikan pintet (Kalimantan Selatan).
2. Clarias teysmani, dikenal sebagai lele Kembang (Jawa Barat), Kalang putih (Padang).
3. Clarias melanoderma, yang dikenal sebagai ikan duri (Sumatera Selatan), wais (Jawa Tengah), wiru (Jawa Barat).
4. Clarias nieuhofi, yang dikenal sebagai ikan lindi (Jawa), limbat (Sumatera Barat), kaleh (Kalimantan Selatan).
5. Clarias loiacanthus, yang dikenal sebagai ikan keli (Sumatera Barat), ikan penang (Kalimantan Timur).
6. Clarias gariepinus Burchell, yang dikenal sebagai lele dumbo berasal dari Afrika
Ikan lele digemari semua lapisan masyarakat sebagai protein hewani alternatif yang harganya murah. Ikan lele mudah diolah, bergizi tinggi dan rasanya enak. Ikan lele dumbo mudah dipelihara, disimpan dan dipasarkan baik berupa ikan hidup maupun ikan segar (Alam Ikan 3). Kedudukan taksonomi ikan lele dumbo adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
|
Filum
|
:
|
Chordata
|
|
Kelas
|
:
|
Pisces
|
|
Ordo
|
:
|
Ostariophysi
|
|
Genus
|
:
|
Clarias
|
|
Spesies
|
:
|
Clarias gariepinus Burchell
|
Ciri-ciri morfologis lele dumbo lainnya adalah sungutnya.
Sungut berada di sekitar mulut berjumlah delapan buah atau 4 pasang terdiri dari sungut nasal dua buah, sungut mandibular luar dua buah, mandibular dalam dua buah, serta sungut maxilar dua buah.
Ikan lele mengenal mangsanya dengan alat penciuman, lele dumbo juga dapat mengenal dan menemukan makanan dengan cara rabaan (tentakel) dengan menggerak-gerakan salah satu sungutnya terutama mandibular (Alam Ikan 2).
Lele dumbo mempunyai lima buah sirip yang terdiri dari sirip pasangan (ganda) dan sirip tunggal.
Sirip yang berpasangan adalah sirip dada (pectoral) dan sirip perut (ventral), sedangkan yang tunggal adalah sirip punggung (dorsal), ekor (caudal) serta sirip dubur (anal).
Sirip dada ikan lele dumbo dilengkapi dengan patil atau taji tidak beracun. Patil lele dumbo lebih pendek dan tumpul bila dibandingkan dengan lele lokal (Alam Ikan 2). Ikan lele dumbo sudah banyak dibudidayakan di Indonesia. Usaha budidaya ikan sering terjangkit adanya penyakit ikan yang tidak jarang menggagalkan pertumbuhan dan kelulusanhidupan ikan sehingga mengakibatkan kematian masal pada ikan yang dibudidayakan (gagal panen). Penyakit ikan disebabkan adanya interaksi antara lingkungan, organisme dan ikan yang tidak seimbang. Penyakit ikan dapat disebabkan oleh fisika, kimiawi, dan biologis. Penyakit yang diakibatkan oleh fisik maupun kimiawi pada umumnya tidak menular (non infeksi). Sedangkan penyakit yang ditimbulkan oleh penyebab biologis kebanyakan menular (infeksi).
Aeromonas hidrophila merupakan bakteri yang dapat menginfeksi ikan. Susanto (1988), melaporkan bahwa Aeromonas hidrophila dapat menyebabkan kematian masal pada ikan lele dumbo, sehingga Aeromonas hidrophila menjadi ancaman tersendiri yang menakutkan bagi para petani ikan atau pembudidaya ikan lele dumbo.
Salah satu penanganan penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme (bakteri) pada budidaya lele dumbo adalah antibiotik. Antibiotik sebagai agen terapi pengobatan memang telah banyak membantu, namun ternyata juga menimbulkan ekses yang negatif, yaitu menimbulkan jenis penyakit baru maupun bakteri yang resisten terhadap antibiotik. Oleh karena itu, perlu adanya penanganan yang ramah lingkungan dan mampu memulihkan ikan lele dumbo dari infeksi bakteri tersebut, yaitu imunostimulan.
Imunostimulan adalah zat kimia, obat-obatan, stressor, atau aksi yang meningkatkan respon imun non-spesifik atau bawaan (innate immune respon) yang berinteraksi secara langsung dengan sel dari sistem yang mengaktifkan respon imun bawaan tersebut. Imunostimulan adalah zat-zat yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi penyakit, bukan meningkatkan respon imun spesifik (acquired immune respon), tetapi meningkatkan respon imun non-spesifik baik melalui mekanisme pertahanan humoral maupun pertahanan seluler (Sakai, 1999). Ikan telah diketahui lebih mengandalkan mekanisme sistem kekebalan non-spesifiknya atau bahawan (innate immune sistem) dari pada sistem kekebalan spesifiknya atau adaptif (Anderson, 1992)
Jinten hitam (Nigella sativa) merupakan tanaman yang berpotensi sebagai imunostimulan karena mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh dalam menghadapi patogen. Jinten hitam mengandung beberapa bahan aktif diantaranya, Thymowuinone (TQ), Dithymoquinone (DTQ),Thymohidriquinone (THQ), dan Thmol (THY). Tumar (2006) melaporkan bahwa ekstrak jinten hitam (Nigella sativa) dapat menghambat atau bahkan dapat membunuh bakteri Aeromonas hydrophila. Selain itu Hendrik (2007) menambahkan bahwa ekstrak jinten hitam dapat merangsang dan memperkuat sistem kekealan tubuh manusia melalui peningkatan jumlah, mutu, dan aktivitas sel-sel kekebalan tubuh manusia. El-Kadi dan Kandil (1986) melaporkan bahwa ekstrak jinten hitam berpengaruh menguatkan fungsi kekebalan, dimana kadar sel-sel T pembantu meningkat dibandingkan sel-sel T penekan dengan perbandingan rata-rata 72% serta terjadi peningkatan aktivitas sel-sel pembunuh alami rata-rata 75%.
Endarti (2009) melaporkan bahwa ekstrak jinten hitam (Nigella sativa) merupakan bahan yang potansial untuk digunakan sebagai agen imunostimulan pada ikan lele dumbo yang terinfeksi Aeromonas hydrophilakarena terbukti dapat meningkatkan jumlah sel darah putih dan diferensial leukosit yang dangat berperan dalam respon immune non-spesifik. Selain itu, ekstrak jinten hitam dengan konsentrasi 9% menunjukkan bahwa jumlah sel darah putih (leukosit) sebelum uji tantang 25516.67 sel/mm3 dan sebesar 97243.33 sel/mm3 setelah uji tantang.
Aktivitas immunostimulator ekstrak jinten hitam pada benih ikan lele dumbo meliputi peningkatan jumlah sel darah putih (leukosit) terutama neutrofil, limfosit dan monosit serta ketahanan terhadap infeksi bakteri Aeromonas hydrophila yang ditunjukkan dengan tingkat kelangsungan hidup yang tertinggi mencapai 90%.
Referensi
Endarti. 2009. Pengaruh Pemberian Ekstrak Jinten Hitam sebagai Imunostimulan terhadap Hematologi Ikan Lele Dumbo.
BACA : (Nigella Sativa) / Black Seed / Jintan Hitam
Langganan:
Postingan (Atom)






